Saya Mau Nulis ™

Selalu ada inspirasi baru di tiap harinya

Umroh - Part 1


Ponsel tiba-tiba berdering ketika jari-jari ini sedang asik menari di papan ketik, jam berapa nih, ah masih jam dua lebih empat puluh. Mata kemudian tertuju kepada layar telepon genggam monokrom itu, siapa nih, ga tersimpan nomornya, nelpon lagi jam segini. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, diangkatlah panggilan itu. “Halo, dengan Bapak Akbar?” suara diseberang sana bertanya, “Iya betul, dengan siapa ini?”, “Ini Pak, Saya dari travel ****, mau jemput bapak, ini alamatnya tepatnya dimana ya Pak?” Tanpa ragu saya menjelaskan alamat tempat saya tinggal, kemudian ia berkata “Kira-kira dua puluh menit lagi saya sampai Pak”. What? Dua puluh menit? Kan keberangkatan jam 4? “Iya Pak, banyak tamu yang lokasinya jauh, jadi dijemput lebih awal”. 

Tak ayal handuk beserta alat mandi langsung jadi sasaran, dan mandilah di suhu yang kurang lebih 20°C itu. Praduga awal adalah penjemputan sekitar pukul 3.30.

Persiapan sudah semua, dan Bismillahirrahmanirrahim, memastikan tidak ada yang tertinggal, dikuncilah pintu kamar, dan ditariklah kopor berkapasitas 20an kilogram berisi seluruh bawaan saya. Di depan gang, ternyata sudah menunggu sebuah mobil beserta seorang supir yang ramah.

Roda mulai berputar, dimulailah perjalanan menuju beberapa tempat pelanggan sebelum akhirnya melaju di Tol Cipularang dalam perjalanan menuju Soekarno-Hatta International Airport.

Lelah juga kantuk sudah menggelayuti kelopak mata...

Terbangun, entah dimana..
Rest Area ternyata, check point mobil travel ini..

Waktu menunjukkan hampir pukul lima pagi, keluar sesaat, hanya niat untuk buang air kecil. Tapi ternyata takdir berkata lain, perut meronta-ronta minta diisi, akibat begadang tadi malam sepertinya.

Ada kedai makanan yang buka di ujung sana, makan dulu mungkin masih sempat.

Walau sudah dipercepat, ternyata masih kurang cepat, supir travel kembali memanggil saya melalui telepon genggam itu, dan bersegeralah makan sampai butir nasi terakhir

--

Kaki sudah berpijak di Terminal 2E, sambil menunggu kedatangan keluarga dari Balikpapan, tempat duduk kosong menjadi pelarian.

Satu jam berlalu, ponsel kembali berdering, “Halo, dimana Mas?”, adik saya bertanya, “Kamu dimana?”, pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan, “Dekat pintu E3”, “tunggu sebentar disana”

Adik saya telah berdiri sambil menggenggam passport yang sudah ditempeli berbagai macam hal, termasuk boarding pass, tidak lupa nametag dari penyedia jasa travel.
Masuk ruang check-in dan langsung menuju imigrasi. Tanpa berbeli-belit dan pertanyaan sedikit pun, stamp ‘Keluar Indonesia’ telah dibubuhkan di passport.

Sekitar dua jam menunggu di lounge, cemal-cemil sana-sini, akhirnya kami kembali berkumpul untuk briefing dan doa bersama sebelum menuju gate.

Bersama-sama menuju gate, dan sekali lagi barang bawaan diperiksa melalui x-ray, dan seperti biasa, alhamdulillah semuanya baik-baik saja, hanya beberapa orang yang disita air minumnya karena memang tidak boleh membawa cairan lebih dari 100ml ke kabin pesawat untuk penerbangan internasional.

Penerbangan yang seharusnya take-off pukul 11.20, mengalami penundaan selama satu jam, alasannya, apalagi kalo bukan alasan operasional, which is we never know what classified as ‘operational reason’.

--

“Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Bapak Ibu penumpang Garuda Indonesia tujuan Jeddah dengan nomor penerbangan GA 980, pesawat Anda telah siap untuk kami berangkatkan.”

Boeing 747-400, pesawat terbang yang terkenal dengan jenong atau jidat menonjol di bagian depan ini telah diremajakan interiornya, walaupun masih sedikit terlihat seperti (dan memang) pesawat tahun 90an. 
Setelah dipastikan semua penumpang masuk dan.. door closed!

Horee, Jeddah, tunggu saya 10 jam lagi! :D

Siapa Bilang Liburan ke Luar Negeri Mahal?

Baiklah, atas permintaan teman-teman, kali ini saya akan menjabarkan sedetail-detailnya ongkos perjalanan liburan ke tiga negara kemarin, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berikut rinciannya:
Costs
Sebenarnya banyak sedikitnya pengeluaran  tergantung individu masing-masing, kalau untuk kebutuhan pokok seperti makan dan tempat menginap dengan harga yang dicantumkan di atas sudah bisa dibilang (sedikit) di atas rata-rata backpacker. Walaupun sebenarnya masih banyak yang lebih ekonomis, saya pribadi masih mengutamakan keamanan dan kenyamanan tempat menginap. Kebutuhan makan tergantung porsi masing-masing pribadi. Saya cenderung makan banyak ketika berpergian, karena sangat menguras energi.

Untuk tiket pesawat, harga menyesuaikan dengan promo airlines, harus rajin-rajin nyarinya. Harga yang dicantumkan di atas adalah harga dasar bersih (termasuk pajak, fuel surcharge, dan biaya kartu kredit). Buat saya, yang penting sudah bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan juga sudah cukup, tapi beda lagi ceritanya untuk long haul flight, hehe.

Secara keseluruhan, tanpa menghitung biaya tiket pesawat, urutan living cost dari yang paling tinggi yaitu di Singapura,  Malaysia, kemudian Thailand. Di Singapura, sekali makan rata $7, Malaysia RM 8, dan Thailand  ฿ 60.

Semoga bisa menjadi referensi buat teman-teman semua.

This is Kingdom of Thailand!

D6: Thailand!
Beberapa hari di Melaka, saya tidak terlalu banyak melakukan aktifitas, selain karena kaki yang masih gempor akibat the real jalan-jalan di Singapore, teman yang saya kunjungi juga akan menempuh ujian.

Pada hari ke-3 di Melaka, saya bertolak ke Kuala Lumpur, sore itu saya akan terbang ke Bangkok (‘Krung Thep’ dalam Bahasa Thai), Thailand! Yeay, setelah rencana sebelumnya batal, akhirnya jadi juga ke Thailand! Horeeeee (girang segirang-girangnya :D)

Sekitar pukul 20.00 waktu Thailand yang juga sama dengan WIB, saya menginjakkan kaki di Suvarnabhumi International Airport - Bangkok. Ekspresi yang girang itu harus ditahan supaya ga keliatan malu-maluin, akibatnya, jadi salah tingkah karena pakai sunglass, padahal itu udah malam -_-
Suvarnabhumi International Airport
Sebelum mencapai konter imigrasi, yang hampir sama jauhnya seperti di Changi, seorang petugas berkata kepada saya dalam Bahasa Mandarin dan menawarkan kartu imigrasi, seoriental itukah muka saya? :o

Well, setelah paspor distempel, wow, I’m in THAILAND (masih ga nyangka)..

Sambil masang wajah dengan ekspresi normal, saya menuju arrival hall dan mencari dimana Suvarnabhumi Airport Rail Link atau yang biasa disebut SARL. SARL inilah yang menghubungkan antara airport dengan pusat kota. Wah kapan kita bisa punya ARL?

Di ticket vending machine yang berbahasa Thai, sambil nebak-nebak dikit (bisa baca dikit), mana stasiun Makkasan dan tebakan saya bener, haha. Dengan biaya sekitar THB 35 (IDR 10,500) dengan SARL City Line (ada juga ekspress line, tiketnya THB 150) kita sudah bisa sampai di Makkasan.

Sekitar 15 menit nunggu SARL, akhirnya datang juga. SARL mirip sama MRT, cuma ini bedanya nutup pintunya lebih kasar, kayak bunyi nutup pintu mobil, lebih kenceng lagi, kaget eh..

Dua puluh lima menit kemudian saya sampai di Makkasan (City Terminal). Keluar dari stasiun, sambil mengikuti petunjuk, saya menuju ke stasiun MRT Petchaburi yang kemudian akan mengantarkan saya ke stasiun MRT Lumphini.

Setelah 4 perhentian, saya tiba di Lumphini Station. Keluar dari stasiun, karena lupa print peta, maka saya tanya orang sekitar, dan ternyata dia juga kesulitan berbahasa Inggris (tepok jidat). Dia pun nanya-nanya ke temannya, dan ternyata ga tau juga. Entah usul dari mana, ia memberikan petunjuk untuk menyebrang jalan dan menyusi jalan di seberang sana. Sebenernya sih feeling saya belok kanan, bukan nyebrang, tapi ga gitu yakin. Akhirnya saya ikut petunjuk dia, dan ternyata emang salah, jalan kaki dari MRT Lumphini sampai Kedubes Jepang sambil bawa backpack itu rasanya sesuatu..

Cukup yakin dengan kesalahan petunjuk, akhirnya saya mengikuti feeling, dan ternyata bener, alhamdulillah..

Sampai hostel, setelah check-in selesai, dan rebah sebentar, mandi, terus tidur. Di kamar sempet ngobrol sama roommaate yang dari Korea, katanya dia besok mau ke Kamboja, wih..

Oh ya, saya milih nginap di daerah Lumphini daripada di Khao San, karena akses transportasi yang lebih mudah. Kalau di Khao San, transportasi adanya bus, tuk-tuk, sama taksi. Ada ratusan jalur bus di Bangkok, naik tuk-tuk juga harus tawar-tawaran dulu (saya ga jago), naik taksi males kalo supirnya nakal ga mau pake argo. Selain itu di Lumphini juga lebih tenang daripada Khao San, supaya istirahatnya lebih nyaman.

D7: I Beat My Phobia
Agenda hari ini adalah mengunjungi Grand Palace, Khao San, dan sekitarnya. Mandi, kemudian keluar cari sarapan, banyak sih yang jual makanan di kaki lima, cuma khawatir ga halal, akhirnya 7-eleven jadi pelarian, beli makanan yang dipanasin pake microwave dan susu coklat cukup buat sarapan.

Kembali ke MRT Lumphini, tujuan stasiun berikutnya adalah Silom. Sampai di Silom transit dengan BTS (Bangkok Mass Transit System) atau lebih dikenal dengan BTS atau Rot Fai Fa (Sky Train) dalam Bahasa Thailand.

Dari BTS Sala Daeng saya menuju BTS Saphan Taksin. Turun di Saphan Taksin, saya masih harus menyambung dengan transportasi lain, yakni perahu, ya, perahu!
On The Boat
Sebenernya dari dulu saya phobia banget kalo naik perahu/kapal, sulit untuk dijelaskan. Tapi, hari ini saya tidak merasa takut sama sekali, alhamdulillah..

Dari Sathorn (Central Pier), saya harus naik perahu menyusuri sungai Chao Praya dan turun di dekat Grand Palace, agak lupa nama perhentiannya.

Begitu sebuah perahu merapat, saya langsung naik. Tarif perahu ini THB 15 sekali jalan, jauh dekat. Setelah beberapa stop, akhirnya saya melihat sebuah bangunan yang mirip seperti Grand Palace yang pernah saya lihat di internet, turunlah saya di perhentian sekitar situ.

Anehnya, yang turun cuma saya, padahal kan Grand Palace itu must visit place kalo ke Bangkok. Dan ternyata bener, saya emang salah, setelah keluar dari pelabuhan, malah lewat kompleks ruko-ruko yang jual-jual spare part mesin, yang belakangan saya tau ternyata itu daerah Chinatown, haha.
Around Chinatown
Oh ya, yang mirip Grand Palace tadi, ternyata itu Wat Trimit, yang ga terlalu besar. Salah sih salah, ya tapi ga sial juga :D
Wat Trimit
Ambil foto disana, kemudian menyusuri jalan di Chinatown, ya ga beda-beda amat, just like another Chinatown.

Karena udah dari kemaren belum ada ngabarin ortu, saya pun beli SIM card Happy dari DTAC di 7-eleven, SIM card seharga THB 49 ini berisi pulsa THB 15 dan gratis internetan untuk hari pertama.

Sambil jalan ke pelabuhan terdekat, akhirnya saya tiba juga. Kata orang sih tadi tinggal lurus trus ada perempatan belok kiri, tapi lurusnya itu jauh juga, setelah belok kiri juga masih jauh, harus betah jalan kaki memang..

Sampai di pelabuhan, ada kapal berhenti, dan untungnya yang berhenti tourist boat, jadi ada guide yang mendongeng dalam bahasa Inggris.

Ada beberapa jalur perahu, jadi ga semua perahu berhenti di semua pelabuhan. Cara bedainnya, ada di bendera perahu, ada warna orange, kuning, biru, dan hijau kalo ga salah, oh ya merah juga. Itu semua jalurnya beda-beda.

Setelah 2 stop dan turun, ternyata masih harus jalan lagi untuk ke Grand Palace. Well, it was pretty hot and humid, my T-shirt getting wet.

Grand Palace udh kelihatan, tapi masih jauh, terus berjalan di tengah-tengah teriknya matahari sampai akhirnya tiba di pintu masuk.

Di pintu masuk ada petugas, mereka mem-filter pengunjung yang tidak mengenakan pakaian secara pantas. Ya karena Grand Palace adalah istana, jadi harus berpakaian sopan, jadi ya bule-bule yang pada pake tank top, short pants (termasuk yang pria) , ga boleh masuk dulu.

Tepat di sebelah pintu masuk, ada satu ruangan, sepertinya menyediakan pakaian untuk dipinjamkan kepada pengunjung yang ‘pakaiannya tidak lengkap’ haha.
Grand Palace Entrance
Sedikit foto-foto di luar, kemudian beli tiket masuk ke kompleks utama, harga tiket THB 400 ini termasuk tiket ke Dusit Palace yang berlaku selama 7 hari.

Masuk ke dalam, dan langsung takjub :o












Karena saya tidak ambil tour, jadinya mutar-mutar sendiri, foto sana sini, kadang ya nebeng dengerin guide tour, hahaha.

Hampir 3 jam saya di sana, akhirnya keluar juga. Tujuan selanjutnya Khao San Road, belum jadi backpacker kalo belum ke Khao San, haha. Jalan sepanjang 500 meter ini adalah magnet para backpacker dari seluruh dunia, banyak pertokoan, penginapan, kafe, pedagang kaki lima, makanan khas Thailand, dsb disini. Sempat juga ke Democracy Monument.



Khaosan Road
Democracy Monument
Sudah laper, akhirnya saya masuk ke KFC di sekitar sana, haha, jauh-jauh makan di KFC, biarin daripada gak halal :D

Ada satu paket, combo 4, yang isinya nasi, softdrink, sama ayam yang diiris-iris terus dikasih bumbu semacam rujak khas Thaliand. Itu rasanya enak banget banget banget :9 Harus coba kalo kesana :D
Tuk-tuk
Makan selesai, karena udah hampir sore, keburu perahunya ga beroperasi lagi, akhirnya saya melangkahkan kaki ke pelabuhan terdekat. Sebelum nyampe ke sana, ternyata ada konter, setelah saya baca-baca brosurnya, ternyata menyediakan sepeda untuk dipinjam/disewa untuk keliling daerah situ, wah pengen sih, tapi udah mulai capek, akhirnya ga ambil tour sepeda.

Naik perahu, sampai di Sathorn Pier, seperti rute berangkat tadi, Saphan Taksin - Sala Daeng – Silom – Lumphini.

Leyeh-leyeh bentar di hostel, dan berangkat lagi setelah Magrib.

Malam itu saya ke Siam, tempat hangout populer di Bangkok. Dari BTS Sala Daeng naik yang ke arah National Stadium.
BTS Siam
Sethani thadpai: Siam
Yang pertama terlihat adalah Siam Paragon, cuma liat di luar ga masuk, coba check-in foursquare ternyata ada hampir 300an orang yang check-in, wow.

Siam Paragon
Ada tiga mall berderet, Siam Paragon, Siam Center, dan Siam Discovery. Di seberangnya ada Siam Square, kompleks ruko-ruko. Di seberang Siam Discovery ada MBK Center (Mahboonkroong).

MBK Center
Mau cari oleh-oleh, kaos, souvenir, etc kalau ga sempat ke Cathuchak weekend market cari aja di MBK. Tapi ternyata souvenirnya lumayan mahal.

Setelah mendapat apa yang dicari, saya kembali karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00.

Tidur

D8: One Day Pass
Rencana saya hari itu keliling Bangkok dengan BTS, jadi saya membeli One Day Pass ticket, karena untuk sekali jalan naik BTS, bisa THB 20-35. Dengan ODP yang seharga THB 120 ini sudah bisa naik BTS sepuasnya.
One Day Pass
Bangkok Mass Transit System (BTS)
Pertama ke arah National Stadium, trus ganti jalur yang ke arah Bearing, turun di Chit Lom, disana ada Erawan Shrine.
Erawan Shrine
Dari sana ganti jalur, balik lagi dan turun di Sala Daeng, udah agak siang, laper, pengennya sih makan, eh nemunya McD, masuk deh, pas mesen ternyata pelayannya ga bisa bahasa Inggris, duh. Setelah berusaha memahami satu sama lain namun tidak paham-paham juga, akhirnya saya pergi, ujung-ujungnya makan di Siam Paragon deh, zz.

Wajah orang Thai tidak jauh berbeda dengan wajah orang Indo, jadinya ya kalau baru pertama kali ketemu bakal diajak ngomong Thai. Ngomong aja ‘Phut Thai mai dai’ yang artinya ‘I can’t speak Thai’ or just say ‘Sorry?’
Inside BTS
Selesai makan, saya ke arah Mo Chit. Nyobain turun satu-satu di setiap stasiun, sampai akhirnya tiba di Mo Chit yang dekat dengan Cathuchak Park, pengen main sih, tapi kok ya panas..

Oya, ada sedikit pengalaman buruk, begitu keluar dari BTS, ada seorang perempuan yang gerak-geriknya mencurigakan mendekati saya dan colek-colek, perempuan jadi-jadian pasti ini, aaaahhh tidak, sesegera mungkin saya menghindar dan mengatakan ‘mai mai mai’ yang artinya ‘no no no’, zzz...
Wongwian Yai BTS Station
Kembali lagi, dan akhirnya saya kembali juga ke MBK, nyari-nyari apa gitu, dan dapet DVD ‘The Billionaire’ yang belum ada di Indo, horeee, tapi belakangan setelah saya setel ternyata ga ada English subnya, mati..

Agak malam akhirnya saya kembali ke hostel dan packing sambil ngobrol-ngobrol dengan roommate, ada yang dari Holland, Brazil, German, Switzerland, German, wah banyak, enak ngobrolnya nyambung, haha..

Ga nyangka besok harus udah pergi dari Bangkok, huhu, I’m not done yet in Bangkok.

D9: Expensive Rate
Siang itu saya akan kembali ke Kuala Lumpur, esoknya baru pulang ke Balikpapan.

Ngenet bentar, mandi, sarapan, check out, naik MRT lagi ke Petchaburi, SARL Makkasan – Suvarnabhumi Airport.

Sampai di Bandara, karena masih lapar, ya makan dulu.
Asik-asik makan liat udah mau jam 11, belum masuk imigrasi pula, belum lagi kalo concoursenya jauh.

Dan ternyata bener, imigrasinya rame banget, pemeriksaan juga lebih ketat, dan concourse nya juga jauh. Udah jalan cepet, hampir lari, masih aja ga nyampe-nyampe. Dan begitu sampai di gatenya, belum 5 menit duduk udah boarding, nah lo, untung cepet..

Selama di Bangkok, saya belum nemu satupun orang Indo, pas ketemu, malah di pesawat, udah gitu ramenya norak deh..

Sampai di KL, langsung nyelip-nyelip orang, males antri lama-lama di imigrasi.

Saya kehabisan Ringgit, mau ambil di ATM CIMB, karena kalau punya rekening CIMB, bisa gratis traik tunai di CIMB mana aja, termasuk luar negeri. Eh ternyata, kartunya ga kebaca, emang sistemnya yang beda atau kartunya yang rusak, entah, ga bisa kebaca.

Liat dompet, adanya SGD, IDR, sm THB. Ngumpulin IDR sama SGD dengan niat dituker di money changer, dan alamak, ternyata ratenya mahal, lebih mahal 10%, zz.. Tapi ga ada pilihan lain, saya harus ke hotel dan itu butuh biaya.

Naik bus dari LCCT ke KL Sentral, kemudian nyambung monorel dan sampailah saya di Tune Hotel KL, nginep disitu karena kemaren dapet promo, hihihi

Mandi dan rebah-rebah capek, tau-tau udah jam 8 aja, pergi deh ke Bukit Bintang, disana makan dulu, trus keliling.

Bintang Walk
Tiba-tiba tercetus ide yang kurang kerjaan abis, ke Kedubes Indonesia di KL, kalo liat di peta sih KAYAKNYA deket, pas jalan, ternyata ga nyampe-nyampe, balik deh..

Kembali ke hotel, ga bisa tidur, entah kenapa, mana masih behamburan semua lagi, males juga beres-beresnya, ah udah mau selesai ya liburannya :(

D10: Time up
Entah jam berapa akhirnya saya tidur, dan terbangun jam 4 pagi, langsung packing karena jam 6 harus udah berangkat ke airport.

Check-out jam 6, langsung naik monorel ke KL sentral dan bus ke LCCT. Sarapan di airport dan akhirnya boarding, flight Airasia Kuala Lumpur – Balikpapan.

Perjalanan 10 hari melintasi 3 negara ini sangat banyak memberikan saya inspirasi, semoga saya bisa kembali lagi, Thank you ah, Terima Kasih, Khop Kun Khrap :)

Singapore ah?

D1: Raining
Seperti biasa, semuanya sudah siap, backpack berisi pakaian dan seluruh perlekapannya serta sebuah tripod, kamera sudah siap, plus satu buah sling bag berisi passport dan ‘senjata’ penting lainnya.

Alhamdulillah akhirnya dapat kesempatan ke salah satu negara maju, Singapore. Ya walaupun belum jauh-jauh amat :D

Setelah sampai bandara dan urusan bla bla bla nya, terbanglah saya ke Singapore dari Bandung. Penerbangan selama hampir dua jam ini tidak terlalu smooth, cuaca beberapa kali menggoyang badan pesawat sampai akhirnya saya tiba di Singapore.

Changi airport benar-benar sangat luas, dari gate ke imigrasi itu jauh. Setelah keluar dari imigrasi, saya naik sky-train ke terminal 3, karena mau naik MRT dari sana. Naik MRT harus punya kartu, kalau ngga bakal tekor banget pake single journey ticket. Ada dua jenis kartu, EZ-Link dan STP (Singapore Tourist Pass). EZ-Link kartu yang bisa di-top up, setiap diunakan saldonya akan berkurang. Sedangkan STP adalah kartu yang diperuntukkan untuk turis yang ingin mengeksplore Singapore lebih banyak tanpa harus menghabiskan banyak biaya. Ada 3 jenis, 1-day pass, 2-day pass, dan 3-day pass. Saya sendiri pilih STP dengan 3-day pass, tarif per hari $8, 3 hari $24 + $10 untuk deposit kartu (dan ini dapat di-refund).
STP Card
STP sudah ditangan, tujuan pertama saya hostel tempat saya menginap, daerah sekitar MRT Lavender, King George’s Avenue. Hujan cukup deras sempat menahan saya di stasiun MRT sebelum akhirnya saya menerobos hujan.

Hostel (tempat saya menginap) yang sebelumnya saya book melalui salah satu web ini sangat hommy sekali suasananya walaupun sekamar isi 8 orang. Dengan fasilitas yang memadai, cukup lah untuk sekedar tempat istirahat.

Setelah hujan reda, akhirnya saya mulai jalan, sempat mengeksplore Orchard, Somerset, dan Marina Bay sebelum akhirnya kembali ke Hostel.

D2: Feel Like Singaporean
Esok harinya, pengen nih liat Merlion, karena dekat dengan Marina Bay Sands, akhirnya saya turun di stasiun MRT Bayfront, dan sebuah kesalahan besar karena saya harus jalan kaki ke seberang sana, dan itu bener-bener gempor segempor-gempornya.. Liat peta MRT lagi, eh, ternyata lebih dekat kalau turun di Esplanade…
Merlion
Selesai ambil gambar, ternyata dapat teman baru, diajaklah ke Little India, Mustafa lebih tepatnya. Cuma beli coklat sama earphone $7 yang suaranya ga karuan ternyata. Oh ya, kalau mau ke Mustafa, sebaiknya naik MRT turun di Farrer Park, itu lebih dekat daripada turun di MRT Little India, karena harus nyambung bus lagi.
MRT underground Station
Dari sana kami jalan ke Orcard, kali ini lebih menghayati (?) karena kami menyusuri Orchard dengan jalan kaki. Selesai Orchard, ke Somerset lagi, karena foodcourtnya enak disana makanannya. Dari Somerset, akhirnya ke Marina Bay Sands, ada Wonder Full Show, itu loh yang perpaduan air dan laser beam. Keren banget ini!
Wonder Full Show
Pertunjukkan selesai, akhirnya kami menuju Bugis Street, banyak merchandise khas Singapore disana, kaos, keychain dll.

Capek juga seharian jalan, eh bukan capek, tapi capek sekali. You know what, orang Singapore suka sekali yang namanya jalan kaki, dan itu jalannya ga nyantai tapi cepet. Kenapa? Karena waktu sangat berharga disini, bahkan eskalator di stasiun MRT bergerak 2 kali lebih cepat daripada eskalator di mall-mall. Waktu 1-2 menit sangat berharga, bahkan banyak yang rela berlari-lari ngejar MRT daripada menuggu MRT selajutnya yang ‘hanya’ jeda sekitar 3-5 menit.. *merenung

D3: In the Mid Night
Hari ini waktunya ‘me time’, pengen lah jalan-jalan sendiri menikmati Singapore. Keluar dari hostel, saya menuju ke Raffles, pengen liat Singapore river. Sampai disana, dan karena dollar sudah tidak memadai, akhirnya saya menuju sebuah ATM untuk tarik tunai, dan langsung ke river sesudahnya.
Singapore River
Biasa aja sih rivernya, cuma ya itu, BERSIH. Ga ada sampah daun apalagi sampah plastik, dan ikan-ikan disana juga hidup tenang karena ada larangan ‘No Fishing’. Sampai di jembatan yang akhirnya saya memberanikan diri untuk menyeberang jembatan dan Alhamdulillah saya selamat tanpa kurang suatu apapun (jangan ketawa), sampai di Asian Civilization Museum, lokasi startnya Amazing Race Asia season 2.
Asian Civilization Museum
Dari sana, lanjut jalan kaki, mau ke Esplanade. Dan ternyata Esplanade jauh terlihat lebih bagus dari jauh dan pada malam hari, haha. Gedung ini digunakan untuk pertunjukkan-pertunjukkan seni. Perjalanan dilanjutkan ke Merlion, tapi dari arah yang berbeda, karena ingin naik bus menuju HarbourFront dari sana.

Sekitar 15 menit perjalanan, sampailah di Harbour Front, Vivo City Mall tepatnya. Inilah gerbang menuju Sentosa Island. Ada 4 akses menuju Sentosa, pertama naik kendaraan pribadi/taxi, ini bakal langsung sampe. Kedua naik trem, dengan biaya $3, trem atau monorel ini akan mengantarkan Anda ke Sentosa dalam waktu tidak sampai 5 menit. Ketiga, cable car, saya kurang tahu berapa biayanya, lebih mahal dari trem yang pasti, cable car ini kalau bahasa Indonesianya kereta gantung. Buat saya big NO untuk kereta gantung.. Dan yang terakhir lewat Sentosa Boardwalk, menyusuri jembatan sejauh kurang lebih 600 meter, dan hanya bayar $1.
Sentosa Boardwalk
Sentosa Boardwalk
Sentosa Boardwalk
Selain karena lebih murah, saya memilih boardwalk karena juga ingin menikmatik pemandangan sepanjang perjalanan.
Universal Studios Singapore
Sampai di Sentosa, cuma ingin sekedar tahu dan ambil foto sih, Universal Studio? Nanti dulu deh, kalo sendirian ga seru, haha.

Lumayan laper dan capek juga, karena udah males jalan, pengen naik trem baliknya, gratis ini, haha. Sampai di Vivo City langsung cari makan.
Inside Monorail
Dari Vivo City, rencananya ke Labrador Park, dan sampai sana ternyata hujan, ya udah deh. Trus pindah ke Jurong East, masih ujan juga. Ini kerjaan iseng sih, udah mulai ngantuk akhirnya naik MRT dari Jurong East ke Kranji, sekedar ngecek bus untuk ke Malaysia besoknya. Ngecek udah, akhirnya naik MRT lagi, begitu naik, hujan lagi, dan tertidur..

Begitu terbangun, tau-tau udah nyampe City Hall, sampe sana ganti jalur MRT lagi, dan mengarah ke Jurong East lagi, sumpah ini iseng abis, hujan terus sih. Di peta MRT ada tulisan Chinese Garden, coba ah kesana, kali aja bagus. Dan ternyata lumayan lah, free admission pula.
Chinese Garden
Kembali lagi ke Marina Bay Sands, saya selalu senang menghabiskan sore disini. Dapat temen baru lagi yang ternyata satu kampus, haha.
View from Marina Bay Sands
Malamnya, nyempatkan keliling di Clark Quay, ketemu lagi sama teman yang kenal di pesawat, udah jam 9an, diajakin ke Mustafa. Sudah hampir jam 12 malem, ga selesai-selesai dah..

Ngejar MRT ga dapet, nunggu bus ga dateng-dateng, dan ternyata busnya udah ga ada jadwalnya lagi..

Duit cash tinggal $7, ATM ga ada, udah tengah malam, naik taksi mana cukup, dan akhirnya.. Saya jalan kaki dari Farrer Park sampai Lavender, yak jalan kaki menempuh jarak sekitar 1,3 KM!
Walking Distance
Ya walaupun Singapore relatif aman, tapi ya kalo udah tengah malam serem juga. Jalan kaki menyusuri Serangoon Rd dari Sri Srinivasa Perumal Temple, sampai di persimpangan berbelok ke kanan, Lavender Rd. Udah Lavender memang, tapi Lavender Rd itu panjang. Sepanjang jalan melewati bar bar, night club, dsb. rada-rada deg deg, tapi untungnya ga ada yang ganggu..

Setelah bertanya-tanya, akhirnya sampailah saya di King’s George Avenue Rd, seperti menemukan oase di tengah padang pasir rasanya..

Sampai hostel mandi, ngguyur kaki pake air hangat, trus tidur..

D4: Hard Walking
Hasil jalan kaki semalam adalah menumpuknya asam laktat pada persendian kaki, bahkan jalan kaki aja mirip orang habis disunat..

Karena papa minta tolong buat dicariin harga sebuah gadget, maka pergilah saya ke Sim Lim Square setelah saya check-out dan menitipkan barang bawaan saya di hostel.

Sampai di Sim Lim, mulailah berkeliling, memperhatikan toko-toko yang siapa tau menjual gadget tersebut. Hampir dua jam, ternyata ga ada satu toko pun yang menjualnya, wah kok bisa..

Sebenernya ada sih gadget inceran saya, setelah tau harganya, malah lupa kalo di Indo harganya berapa, ga jadi deh..

Keluar dari sana, saya menuju Orchard Rd, pengen aja jalan-jalan di sana, sampai akhirnya waktu Dzuhur udah dekat, saya menuju ke Arab St dan cari masjid untuk Jum’atan.

Setelah itu, segera saya kembali ke hostel buat ngambil backpack dan seluruh bawaan saya. Hari ini jadwalnya untuk pindah negara, melalui Kranji-Woodlands, saya akan menuju Melaka via Johor. Setibanya di MRT Kranji, saya turun dari MRT, dan menunggu bus CauseWay 1. Bus ini adalah penghubung antara Kranji (Singapore) dan Larkin, Johor (Malaysia), tarifnya $0.80

Bus dari Larkin membawa saya menuju Woodlands CIQ Check-point. Setelah turun dari bus, semua penumpang diharuskan untuk melewati imigrasi Singapore. Selesai dari imigrasi, penumpang naik bus lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Johor. Sampai Johor Check-point, penumpang turun lagi untuk melalui imigrasi Malaysia. Setelah itu, penumpang naik bus lagi untuk menuju terminal bus Larkin.

Di Larkin, setelah bertanya-tanya, saya membeli tiket bus untuk ke Melaka. Dengan RM 19, saya akan sampai di Melaka dalam waktu 3 jam.

Tiga jam kemudian..

Melaka Sentral, akhirnya sampai juga di terminal bas ini.
Lapar sudah tidak tertahankan, makan pun sudah tidak bisa ditunda, setelah menemukan rumah makan yang cocok, akhirnya saya mengisi perut dengan nasi campur + Teh O’ Suam. Alhamdulillah.

Sebenarnya saya juga menunggu teman saya yang baru kembali ke Melaka dari rumahnya di Balikpapan. Sambil menunggu, karena BB roaming (gratis) sudah ga aktif, saya beli SIM Card seharga RM 5 isi pulsa RM 2 + Top Up RM 5.

Tak berapa lama kemudian, teman-teman saya datang, Selamat Datang ke Melaka :D

Mobile Version


QR-Code
Scan this using Beetag or directly click on the picture

Just Say It

Jangan asal copy paste


... karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Blogger Balikpapan

Sponsor

Archives

Time and Date


Waktu Indonesia Barat
GMT: + 07.00

Followers

Sitemeter