Portfolio

Timeline

Sunday, October 16, 2016

E-Toll Card

Flazz BCA
Berpergian merupakan kebutuhan hampir setiap orang, entah untuk keperluan mencari nafkah, menuntut ilmu, bersosialisasi, dan keperluan lainnya yang membutuhkan kita untuk berpindah ke suatu tempat. Pastinya di zaman modern ini banyak sekali moda transportasi yang bisa kita gunakan, mulai dari sepeda motor, mobil, bus, kereta api, pesawat, dan lainnya. Mobil merupakan salah satu moda transportasi yang sebagian besar digunakan untuk berpergian, terlebih untuk jarak yang menengah sampai jauh, dan juga jika membutuhkan ruang yang luas untuk membawa barang.

Sudah lumayan lama saya menggunakan moda transportasi beroda empat ini, dan beruntungnya di wilayah Bandung Raya ada jalan bebas hambatan atau jalan tol yang bisa digunakan. Salah satu masalah yang kerap kali terjadi di jaringan jalan tol adalah kemacetan di gerbang tol, karena kendaraan harus mengantri untuk melakukan pembayaran tol. Beruntungnya, saat ini sudah ada gardu tol otomatis yang disediakan untuk pengguna jalan tol yang memiliki kartu tol prabayar (e-Toll Card) yang dapat mengurangi durasi antrian di gardu. Tinggal tempelkan saja kartu di mesin hingga saldo otomatis terpotong dan portal terbuka, tidak perlu repot-repot menyiapkan uang tunai dan menunggu kembaliannya.

Sudah cukup lama pula saya menggunakan e-Money dari Bank Mandiri yang juga berfungsi sebagai e-Toll Card, dan sejauh ini hampir semuanya baik-baik saja, walaupun pernah sekali terjadi saldo saya terdebit dua kali tarif tol, entah bagaimana, beruntungnya bukan tarif jarak terjauh.

Sejak Tol Cikampek-Palimanan dibuka, kemudian dilanjutkan sampai Brebes, saya penasaran apakah e-Toll Card sudah dapat digunakan di jaringan tol tersebut. Pada tahun 2015 ketika saya melakukan perjalanan mudik dari Bekasi ke Solo, saya mencoba jalur Tol Cikopo-Palimanan-Kanci-Pejagan yang dilanjutkan dengan ruas Tol Pejagan-Brebes yang masih dalam tahap konstruksi, alias off-road dengan debu yang sangat tebal. Saat itu e-Toll Card baru bisa digunakan dari Bekasi-Cikarang-Cikopo, sisanya baru bisa dengan pembayaran tunai. Lalu dilanjutkan dengan Tol Semarang yang sudah bisa menerima pembayaran e-Toll Card.

Setahun berlalu, konon menurut berita yang beredar, ruas tol jalur mudik Pantura sudah bisa menggunakan e-Toll Card untuk pembayaran, dan kali ini lebih banyak bank, yaitu Mandiri, BNI, BRI, dan BCA, yang selama ini kita tahu (mungkin) e-Toll Payment dimonopoli oleh bank Mandiri, syukurlah sudah tersedia untuk beberapa bank. Kemarin saat saya kembali mudik melalui jalur utara menuju Bandung, benar saja e-Toll Card sudah dapat digunakan di semua ruas tol. Mulai Tol Bawen-Tembalang, yang terkenal dengan tol yang sedikit-sedikit bayar, lalu ke jalur biasa dan kemudian masuk di Gerbang Brebes Timur sampai Cileunyi dengan jarak tempuh yang kurang lebih 300 kilometer, cukup membosankan memang.

Akhirnya setelah kurang lebih empat jam di jalan tol sampai juga di Cileunyi, dan ini yang paling penting, saya telah lama penasaran dengan tarif Tol Palimanan-Cileunyi yang sudah sejak lama saya Googling dimana-mana tapi tidak ketemu, dan ternyata cukup menguras saldo, yaitu Rp 143.000, belum lagi ditambah tarif Tol Brebes-Palimanan Rp 55.500, dan printilan-printilan ruas Tol Bawen-Tembalang (Tol Semarang) sejumlah Rp 19.500,  semua tarif tersebut  per tanggal 11 Oktober 2016. Finally, mission accomplished: Driving in Cipali-Bandung Toll Road! 

Struk Tol Pantura-Cileunyi
Satu hal lagi yang cukup membuat saya penasaran, karena selama ini hanya e-Toll Card Bank Mandiri yang terpasang logonya di gardu tol namun menurut pemberitaan e-Toll Card ke empat bank tadi sudah bisa digunakan, akhirnya beberapa hari yang lalu saya coba membuktikan dengan menggunakan e-Toll Card dari BCA (Flazz BCA) untuk ruas Tol Padalarang-Cileunyi, dan ternyata memang bisa digunakan. Walaupun saya hanya menempuh jarak dari Cileunyi hingga Buah Batu, dari situ (menurut saya) bisa dilihat bahwa Flazz BCA sudah bisa digunakan untuk ruas Tol Jakarta-Cikampek, Cikampek-Padalarang-Cileunyi, dan Cikampek-Cikopo-Palimanan-Kanci-Pejagan karena ruas tersebut terintegrasi. Untuk Tol Pejagan-Brebes saya belum tahu apakah Flazz BCA sudah bisa digunakan atau belum, namun untuk tiga bank lainnya sudah bisa digunakan.

Semoga bermanfaat! Oh ya, ini bukan endorse, tapi kalau ada yang endorse boleh laah :D

Saturday, August 13, 2016

Ujian TOEFL-ITP

Halo dunia! Lama tidak bersua dari blog ini. Mumpung sudah senggang, saya ingin berbagi pengalaman selama blog ini vakum. Oke sebelumnya mari kita kerja bakti bersih-bersih sarang laba-laba di blog ini dulu, hahaha.

Seingat saya, pertama dan terakhir kali saya mengikuti ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) kira-kira tahun 2010/2011, itu juga hanya sebagai partisipasi acara yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa jurusan saya waktu itu, walaupun sebelumnya saat masih SMA, hampir tiap tahun diberikan ujian simulasi TOEIC (Test of English as International Communication). Iseng mengikuti, ternyata alhamdulillaah saya dapat skor murni 520, walaupun hanya TOEFL prediction.

Tahun-tahun berlalu, sampai akhirnya tiba saat-saat dimana saya akan menyelesaikan studi di universitas (akhirnya!). Saat itu, salah satu berkas yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan sidang adalah salinan dari sertifikat TOEFL yang masih berlaku dengan skor minimal 450. Rasanya memang sudah saatnya bagi saya untuk kembali mengukur ulang kemampuan berbahasa Inggris saya, dan akhirnya diputuskan untuk mengambil ujian TOEFL yang resmi tingkat institusi, lebih populer dengan TOEFL-ITP (TOEFL Institutional Testing Program).

Karena sempat disibukkan dengan tugas kuliah dan skripsi, saya baru sempat daftar tes di bulan Mei, padahal rencananya saya sudah harus siap semua dokumen sebelum lebaran (yang saat itu jatuh pada awal Juli). Setelah cari info sana-sini, akhirnya saya dapat info untuk ujian pada 21 Mei 2016 yang diadakan di English First cabang Antapani Bandung, untungnya dua hari sebelum tes masih diperbolehkan untuk mendaftar, oh ya, saat itu biaya yang harus dibayarkan untuk ujian adalah Rp 445.000. Jadwal ujian TOEFL-ITP se-Indonesia bisa dicek di jadwal TOEFL-ITP Indonesia.

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan saat itu, karena memang sedang lumayan sibuk. Namun, saya lumayan sering belajar bahasa asing di waktu senggang, karena memang saya cukup tertarik belajar bahasa. Termasuk untuk konten hiburan seperti film, terlebih film Hollywood, saya sering mematikan subtitel ketika menonton, ya hitung-hitung melatih kemampuan listening lah. Untuk masalah reading, saya mengandalkan kamus pocket Oxford untuk menambah kosakata. Tapi saya memang sedikit lemah di bagian grammar/structure, karena memang masih sering mengandalkan perasaan/intuisi untuk menentukan kebenaran struktur suatu kalimat, dari sini saya menggunakan beberapa aplikasi dari toko aplikasi untuk belajar grammar.

Saat tes hari-H, ada beberapa alat tulis yang dibawa, pensil 2B, rautan/penserut, penghapus, dan bolpoin, sekaligus tisu jika perlu, karena ujian dilaksanakan menggunakan lembar jawaban komputer (LJK). Untuk papan jalan/scanner/dada tidak diperlukan di lembaga tempat saya ujian (kurang tahu untuk lembaga lain). Sesi pertama sebelum tes, identitas peserta dicek satu persatu untuk dipastikan kebenarannya. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian identitas, seperti nama, tanggal lahir, dan sebagainya. Nama belakang/lastname ditulis terlebih dahulu, lalu diikuti nama depan/firstname. Misal: Ini Ibu Budi, maka urutan penulisannya: Budi Ini Ibu, untuk yang namanya lebih panjang bisa disingkat secukupnya kolom, misal nama saya: Muhammad Shofyan Akbar Surya, karena juga menyesuaikan dengan jumlah kolom akhirnya nama saya tulis: Surya M Shofyan Akbar.

Sesi pertama ujian adalah Listening Comprehension, soal yang diberikan berjumlah 50 soal yang dibagi ke dalam beberapa bagian, percakapan pendek, percakapan panjang, dan monolog panjang. Tips saya untuk bagian listening adalah baca terlebih dahulu opsi jawaban yang diberikan sebelum audio untuk soal terkait dimulai. Sambil mendengarkan, kita juga bisa mencoba untuk mengingat-ngingat beberapa kata kunci penting dalam percakapan itu. Saya sempat kerepotan untuk beberapa soal terakhir yang menurut saya agak sulit.

Sesi selanjutnya adalah Structure and Written Expression dengan 40 soal diberikan waktu selama 25 menit untuk menyelesaikan dua bagian soal, yaitu: soal dengan jawaban pilihan ganda dan soal untuk memilih jawaban yang salah. Tipsnya, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar structure, karena saya pun cukup kesulitan.

Sesi terakhir yakni Reading Comprehension, selama 55 menit peserta diharuskan untuk menyelesaikan 50 soal yang diberikan. Soal berbentuk teks panjang yang kemudian disertai dengan soal pilihan ganda. Tips yang sudah hampir diketahui semua orang adalah baca terlebih dahulu pertanyaannya baru kemudian baca teksnya. Selain itu kita juga perlu jeli dalam menggali makna-makna tersirat dalam tulisan.

Tes yang diselesaikan dalam durasi kurang lebih 120 menit ini menyisakan tangan yang sedikit pegal akibat sudah lama tidak menghitamkan jawaban di LJK, hahaha. Saran tambahan, sebelumnya kalau bisa latihan dengan handgrip supaya bisa lebih cepat menjawab soal-soal.

Hasil tes dijanjikan akan keluar dalam dua pekan, namun ternyata hasil baru keluar sekitar 17-18 hari setelah tes.


Alhamdulillaah, walaupun belum sesuai target, setidaknya skor tes saat ini lebih tinggi dari tes sebelumnya. Akhirnya saya punya sertifikat TOEFL resmi yang berlaku selama 2 tahun ke depan. Well, semoga selanjutnya bisa punya kesempatan untuk ujian IELTS dan GRE :D

Sunday, February 28, 2016

Bonjour et Bienvenue à bord


Finally got a chance to try one of my favourite airlines, Air France! Oui oui oui!

Since I’m fans of everything about France but can’t write or speak France (yet), I’ll write this post in English.

Heading to Singapore (SIN), Soekarno-Hatta International (CGK) was my departure airport, quite short flight for a Boeing 777 isn’t it? Yes, Air France bring its newly upgraded Boeing 777 for Paris-Singapore-Jakarta (vice versa) flights. We went to baggage drop counter at Terminal 2E since we’ve finished our check-in through their website. Staff was very friendly (maybe the most friendly check-in staff I’ve ever met), she offered us to upgrade into premium economy for IDR 450,000. Personaly I thought it’s not that worthy because of short haul flight.

It’s about two hours before boarding, feels like going to strecth my leg after whole day drama (another story). I expected there’s a lounge for Telkomsel’s post-paid customer, but didn’t find any, why Telkomsel, why..

Boarding commence at 8PM, staffs did re-check our carry on baggage to make sure everything is fine. They’re Indonesian and speak French, feels like I’m nothing..~

I’m super thrilled when I walked to the plane, Boeing 777! Air France! Gimme gimme some air, huh hah huh hah! Cabin was very nice, the left side after the door was first class, didn’t have chance to see it. Walked through the aisle, to economy class ofcourse, there’re Business Class with very nice full recline-able seats, then Premium Economy (class between business and economy), and finally Economy Class in the aft cabin. My seat was 46L, I always prefer window seats behind the wing. The economy class seats were very nicely designed, you could feel the luxurious touch, also there’s a pillow.

IFE Economy Class
Kinda amazed when I noticed that In-flight Entertaintment (IFE) already switched on, even during boarding, things that won’t happened inside our lovely national carrier, ups. The IFE was very responsive and user friendly, there’re lots of movies, games, musics, even front landing gear camera monitor, so we could see outside’s situation. Didn’t see any headsets, I plugged my own earphone to listen some music. There’s USB port if you want to play your media files or recharge your device, also a universal electricity plug beneath the front seat handrest, heaven!


Door closed right on the schedule, few seconds after push back, they played safety demonstration video. I watched this video thousand times but still excited when it’s being played onboard, LOL, katro! (some Indonesian understand that)


Shortly after take off and seat belt sign switched off, cabin crews gave us AF’s headsets, refreshing towel, and eye cover for sleeping (don’t know the english word). The sound was quite good for airline headset, (un)fortunatelly they don’t allowed passengers to bring it home.


Meal service was a sandwich with some veggies and cheese also some standard drinks like juice, tea, coffee, mineral water, etc., much different from what my friend told me before (he flew Air France months ago and got main course meal). However, cabin crews were very nice and helpfull, they welcome and serve every passenger as special guests. Good job AF!

Time does flies, luckily I’m onboard, the aircraft begun to descend about 20 minutes before scheduled arrival, aah, wish I could be on the next flight to Paris.


Merci beacoup Air France, looking forward to fly you again!

Return flight

Some differences from the previous flight were:

  • Headsets already placed on our seats before boarding
  • Cabin crews were bit unfriendly, they kinda doesn’t like when I put my camera on to record the boarding moment, on of them said, “no recording inside the airplane,” whaat? Wish that won’t happened again.
  • The electricity plug didn’t switched on until few minutes before landing

Friday, January 29, 2016

Bebas Visa ke Jepang dengan E-Passport


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 09.00 WIB, wacana untuk datang lebih pagi ke kantor imigrasi sudah tinggal cerita. Setelah siap dan memesan ojek online, akhirnya saya berangkat sekitar pukul 09.15 WIB. Ekspektasi perjalanan sekitar 20 menit, namun apa daya, karena driver sempat nyasar, perjalanan jadi ditempuh dalam waktu 45 menit.

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, saya membuat paspor elektronik di Kanim Jaksel yang dapat diambil seminggu kemudian, karena berbagai hal saya baru dapat menyempatkan untuk mengambil setelah 10 hari kalender. Sampai di Kanim Jaksel saya langsung ke lantai 2 untuk mendapatkan nomor antrian pengambilan paspor yang sudah jadi. Dokumen yang perlu dibawa hanya kertas tanda terima pembuatan paspor dan bukti bayar di bank. Jika diwakilkan, kita perlu membuat surat kuasa bermaterai serta menyertakan KTP asli pemilik paspor.

Sayangi paspormu, karena dia sensitif
Sebenarnya proses pengambilan tidak lama, hanya saja antrinya yang lama, saya mendapat antrian nomor 57 yang dilayani sekitar 40an menit setelah antrian pertama dimulai, belum lagi kalau ada kasus khusus seperti tidak ditemukannya paspor lama (untuk penggantian habis berlaku).

Finally, setelah sekian lama ngidam e-passport! Hahaha. Ciri khusus dari e-passport ini ada pada sampulnya, di bagian depan ada logo biometric passport di bawah tulisan paspor dan sampul juga terasa lebih tebal, baik bagian depan maupun belakang.

Visa Waiver Program
Esok harinya, setelah janji bertemu dengan teman saya di Sarinah, kami naik busway, niatnya hendak menuju Embassy of Japan yang lokasinya tidak jauh dari halte Transjakarta di Bundaran HI, namun ternyata, halte busway tersebut ditiadakan karena sedang ada proyek MRT. Ujung-ujungnya kami kembali ke halte Sarinah dan jalan kaki dari sana.

Seperti layaknya masuk kedutaan besar lainnya, barang bawaan diperiksa, KTP/SIM dititipkan, dan barang bawaan (sekali lagi) diperiksa dengan x-ray.

Berhubung sudah resmi jadi pemilik e-passport (ceileh), saya hendak meregistrasikan paspor untuk Visa Waiver Program. Well, mungkin sudah banyak yang menuliskan tentang ini, sejak Desember 2014 pemerintah Jepang memberikan program bebas visa bagi WNI pemegang e-passport, syaratnya paspor harus diregistrasikan dulu di Kedubes Jepang.

Nomor antrian di kedubes Jepang
Apa saja dokumen yang diperlukan? Yang jelas bawa e-passportnya, ga usah ada acara fotokopi segala, bawa aja yang aslinya. Kemudian sepucuk dokumen yang merupakan formulir pendaftaran, bisa unduh di sini (info lengkap di sini) Udah? Iya udah, itu aja. Masa sih? Ga percaya? Cobain deh. Pertanyaan yang sama juga terlontar dari teman saya yang akan mengajukan visa reguler, dia harus menyiapkan berlembar-lembar dokumen sejak berminggu-minggu sebelumnya untuk mengunjungi istrinya tercinta. Lembaran dokumen demi pujaan hati atau Cinta yang terpisahkan oleh selembar visa, mungkin cocok untuk judul cerpen (apasih).

Setelah masuk ke ruangan, petugas akan memberikan formulir kecil yang harus kita isi, tenang saja, hanya isi nama dan nomor paspor. Kemudian kita ambil nomor antrian di mesin yang sebelah kiri bertuliskan VISA, mesin sebelahnya khusus untuk WN Jepang. Layanan pendaftaran untuk Visa Reguler maupun Visa Waiver Program dibuka setiap hari Senin-Jum’at pukul 08.30 – 12.00 WIB.

Sambil duduk manis menunggu dan ngadem dari dahsyatnya suhu ibukota, terlihat sekelompok bapak-bapak dengan tumpukan paspor yang sepertinya dari agen travel, dan yang lainnya sedang asik masing-masing. Sebenernya ga tahan untuk ga motret, tapi berhubung ada peraturan dilarang motret, apa daya.

Nomor antrian saya akhirnya dipanggil,
“siang mbak,”
“Siang”
“Mau daftar visa waiver mbak (sambil ngasih paspor dan formulir)”

Beberapa detik setelah proses dokumen,
“ngambil paspornya besok ya, mulai jam 13.30 sampai jam 15.00, sebelumnya kita makan siang dulu ya,”
“Wah boleh mbak, mau dimana?”
“Di GI gimana? Jam 12.00 ketemu disana”
“Ok mbak,”
“Ini nomor hape saya,”
“Siap mbak, makasih ya”

Loh? SALAH
Beberapa detik setelah proses dokumen,
“ngambil paspornya besok ya, mulai jam 13.30 sampai jam 15.00, (sambil ngasih tanda terima)
“Ok mbak, makasih ya”
“Sama-sama”

Teman saya yang dapat antrian setelah saya masih belum selesai juga, semacam senang dengan kemudahan e-passport ini, hahaha.

Esok harinya, saya kembali ke Kedubes Jepang, kira-kira tiba sekitar pukul 14.00 lebih, hampir setengah tiga. Pemeriksaan barang, titip KTP/SIM, ambil nomor antrian, semua masih sama seperti hari sebelumnya.

Kedubes Jepang memang melayani pengambilan paspor (yang entah diterima atau tidak permohonan visanya) hari Senin-Jum’at pukul 13.30 – 15.00 WIB setelah paginya menerima aplikasi pendaftaran.

Proses pengambilan memang selalu lebih cepat. Untuk visa reguler, pembayaran dilakukan ketika permohonan diterima pada hari pengambilan dan untuk Visa Waiver Program sendiri tidak perlu bayar alias GRATIS!

Visa Waiver Sticker
Tidak lama nomor antrian dipanggil, dan akhirnya saya mendapatkan paspor yang sudah teregistrasi Visa Waiver Program, yeay! Dengan ini saya diperbolehkan berkunjung ke Jepang tanpa visa selama tiga tahun dengan durasi maksimal 15 hari untuk setiap kunjungan (kunjungan sosial, bisnis, atau jalan-jalan). Masa berlaku maksimal 3 tahun atau sesuai masa berlaku paspor, mana yang lebih cepat habis, dan jika sudah expired kita bisa meregistrasikan kembali paspor kita dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Happy traveling!

Saturday, January 16, 2016

Membuat E-Passport di Kanim Jaksel

Tidak sampai dua minggu lagi masa berlaku paspor saya akan habis, terima kasih paspor hijau seri W yang dicetak oleh Kanim Balikpapan atas jasa-jasanya membawa saya melihat dunia (lebay).

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan
Tertarik dengan fitur yang dimiliki e-passport, termasuk di dalamnya mendapatkan bebas visa kunjungan wisata ke Jepang (harus didaftar terlebih dahulu), akhirnya beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk membuat e-passport. Karena saya berKTP Balikpapan, namun saya berdomisili sementara di Jawa Barat, tapi saya ingin membuat e-passport, akhirnya saya memutuskan untuk mengurus e-passport di Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Jakarta Selatan yang beralamat di Jalan Warung Buncit Raya No. 207, Jakarta Selatan. Sedikit informasi, untuk sementara ini (per Januari 2016) pembuatan e-passport hanya dilayani dengan datang langsung (walk in) di seluruh Kanim se-DKI Jakarta, Surabaya, dan Batam. Jika Anda berdomisili maupun berKTP di luar daerah tersebut, mau tidak mau Anda harus datang ke salah satu dari tiga kota tersebut.

Paspor Lama
Pagi itu sekitar pukul 04.00 WIB saya sudah siap berangkat, tinggal menunggu kedatangan ojek online yang akan menjemput saya di daerah Permata Hijau. Tidak sampai 10 menit, driver sudah datang dan menjemput saya. Perjalanan pagi menyusuri jalanan ibukota yang lengang dan ditemani suara adzan Shubuh sungguh kontras dengan keadaan di siang hari. Sekitar 15 menit kemudian saya tiba di seberang jalan Kanim Jaksel. Jika Anda naik Transjakarta, Anda bisa turun di halte Imigrasi (daerah Matraman).

Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang menunggu di depan pagar kantor yang masih tutup. Ketika sampai, ada seseorang yang sudah berinisiatif menyediakan kertas dan pulpen untuk absen antrian, dan saat ikut menulis saya sudah berada di urutan ke-12. Tepat pukul 05.00 WIB petugas keamanan membuka pagar dan mempersilakan kami masuk untuk mengantrikan diri dengan cara menaruh berkas di dekat pintu, “taruh aja di situ mas berkasnya, nanti jam setengah delapan baru dibuka nomor antriannya,” dan tiba-tiba saja absen antrian yang sebelumnya dibuat seolah menjadi tidak berlaku, saya sendiri akhirnya dapat antrian ke empat.

Menurut petugas, kalau sebelumnya sistem antrian berdasarkan kuota harian, sekarang sistem antrian berbasis waktu, jadi kita masih dilayani untuk membuat paspor jika kita datang ke Kanim sebelum jam 10.00 pagi. Intinya memudahkan kita supaya tidak terlalu datang nyubuh karena khawatir kehabisan kuota. Hal tersebut dituangkan dalam peraturan yang dicantumkan di website imigrasi.
ANTRIAN PELAYANAN PASPOR REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN WAKTU. PENGAMBILAN NOMOR ANTRIAN MULAI PUKUL 07.30 S.D 10.00 WIB
(SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR: IMI-GR.01.01-0047 TAHUN 2016, TENTANG ANTRIAN PELAYANAN PASPOR REPUBLIK INDONESIA).

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-GR.01.01-0047 Tahun 2016 Tentang Antrian Pelayanan Paspor Republik Indonesia:

  1. Merubah sistem pengambilan nomor antrian permohonan paspor walk in, online, maupun permohonan priority, semula berdasarkan kuota dirubah berdasarkan waktu;
  2. Batasan waktu pengambilan nomor antrian mulai pukul 07.30 s.d 10.00 WIB;
  3. Nomor antrian hanya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan dengan menunjukan persyaratan permohonan paspor;
  4. Pemanggilan permohonan berdasarkan nomor urut antrian (first come first serve).
Demikian atas perhatian diucapkan terima kasih.

Karena banyak yang belum dapat informasi tersebut, banyak juga yang tetap datang pagi-pagi sekali, termasuk saya, hehe.

Sambil menunggu, saya mampir ke masjid di sebelah kanim untuk sholat Shubuh dan beristirahat. Di masjid saya berkenalan dengan seorang bapak yang juga akan membuat e-passport. Sedikit banyak kami berbagi cerita dan ternyata beliau jauh-jauh datang dari Aceh dan baru semalam sampai di Jakarta untuk membuat e-passport, untuk jalan-jalan ke Jepang katanya. Oh ya, umur paspor beliau juga baru tiga bulan sejak perpanjangan terakhir.

Kondisi Pukul 05.56 WIB
Sebelum pukul 07.00 saya sudah sarapan dan kembali melihat situasi di kanim. Semakin banyak orang yang sudah mengantrikan berkasnya, sedikit iseng berhitung, jumlahnya sudah lebih dari 60 berkas yang diantrikan, wah untung sekali datang nyubuh. Tidak lama petugas mempersilakan kami untuk antri dan mempersiapkan berkas, termasuk yang asli.

Berkas yang dibutuhkan untuk pembuatan paspor biasa maupun paspor biasa elektronik (e-passport) untuk dewasa, yaitu:

  1. Kartu Tanda Penduduk
  2. Kartu Keluarga (sesuai dengan KTP)
  3. Akta Kelahiran/Ijazah/Surat Nikah
  4. Paspor lama (untuk penggantian)
  5. Surat pewarganegaraan bagi yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui Pewarganegaraan
  6. Surat Penetapan Ganti Nama dari pejabat yang berwenang bagi yang telah mengganti nama
Semua berkas tersebut difotokopi dalam kertas ukuran A4 dan tidak dipotong. Jadi kalau fotokopi KTP (dan halaman depan paspor lama), minta letakkan di bagian tengah kertas dan tidak usah dipotong kertasnya, biarkan saja sisi kosongnya. Oh ya, berkas asli juga HARUS DIBAWA dan jika ada persyaratan yang tidak lengkap Anda tidak akan diberikan nomor antrian. 

Dari beberapa pengalaman sebelumnya, saya memperoleh informasi untuk pelajar/mahasiswa juga diperlukan kartu mahasiswa (beserta fotokopiannya) sebagai syarat tambahan, untuk karyawan diperlukan surat rekomendasi dari perusahaan. Jadi berkas yang saya bawa, KTP, KK, Akta Kelahiran, Ijazah, Paspor lama, serta Kartu Mahasiswa. Sebaiknya semua fotokopi dipersiapkan dari rumah, supaya tidak repot fotokopi lagi.

Tepat pukul 07.30 kami dipersilakan masuk dan menuju lantai 2 untuk mengambil nomor antrian. Sampai di atas, berkas kami dicek kelengkapannya, jika lengkap nomor antrian akan diberikan, saya sendiri mendapat nomor antrian umum 2-013, angka sial? Ah saya tidak percaya hal seperti itu.

Formulir, map, serta nomor antrian langsung diberikan bersamaan. Jika akan membuat e-passport jangan lupa sampaikan kepada petugas, supaya map dan formulir dicap e-passport.

Formulir Permohonan Paspor
Jika kebingungan dalam pengisian formulir, kosongkan saja terlebih dahulu, karena petugas akan menjelaskan poinnya satu persatu, jika masih bingung silakan bertanya langsung. Oh ya, jangan lupa bawa pulpen sendiri.

Nomor antrian untuk permohonan pembuatan paspor ada beberapa jenis, yaitu prioritas, walk in, dan on line. Prioritas diberikan untuk lansia, difabel, dan batita, setiap harinya hanya ada 30 nomor antrian prioritas yang disediakan. Nomor antrian ini akan dilayani terlebih dahulu di Kanim Jaksel sebelum nomor antrian lainnya. Jangan khawatir, ada 10 konter pelayanan yang melayani dalam waktu bersamaan. Kita juga bisa memantau posisi antrian di http://infoantrianpaspor.imigrasi.go.id/, bermanfaat bagi yang ingin pergi sejenak untuk keperluan lain.

Masih ingat dengan bapak yang dari Aceh tadi? Sayang sekali, permohonan beliau ditolak dengan alasan paspornya masih sangat baru, dan belum boleh membuat lagi sampai habis halaman atau habis masa berlaku? Adakah peraturan resminya? Saya belum tahu.

Ruang Tunggu Kanim Jaksel
Saat tiba giliran saya, saya menuju konter pelayanan, petugas memeriksa dokumennya kembali dan memindai dengan alat, sedikit ditanya alasan mau pergi kemana dan sejenisnya. Setelah verifikasi data selesai, saya diminta bergeser ke meja sebelahnya untuk pindai sidik jari dan ambil foto, jangan lupa berpakaian sopan dan pantas, amannya pakai kemeja. Beberapa kali saya mengulang pengambilan foto karena gambar kurang fokus. Layanan dilakukan dengan konsep One Stop Service, sehingga kita tidak perlu mondar mandir ke beberapa konter/loket dalam mengurus paspor. Selesai semuanya, saya diberikan tanda terima untuk pembayaran biaya paspor di Bank BNI 46 (paling cepat satu jam kemudian), dan paspor bisa diambil dalam 5 hari kerja.

Tanda Terima dan Bukti Pembayaran
Beruntung di seberang Kanim Jaksel, sedikit ke utara, ada kantor cabang Bank BNI. Jika Anda tidak sempat ke bank, pembayaran juga bisa dilakukan di ATM BNI, teknis detailnya saya belum tahu, karena saya membayar langsung di teller bank.

Biaya yang dibutuhkan untuk membuat e-passport ini adalah Rp 660,000 dengan rincian Rp 600,000 untuk biaya paspor dan Rp 55,000 jasa TI biometrik, plus Rp 5,000 untuk biaya administrasi pembayaran di BNI 46.

Oke, tinggal menunggu paspor jadi dalam satu minggu ke depan.