Portfolio

Timeline

Friday, October 21, 2016

Teropong (APDX - 02)


Delapan jam kemudian, pagi harinya saya kembali lagi ke laboratorium. Dalam perjalanan, saya merasa mulas sekali rasanya ingin BAB, tapi harus ditahan, karena jika saya BAB barium sulfatnya akan ikut keluar bersama kotoran sehingga saya harus meminum barium sulfat lagi, duh.

Setelah sampai, saya masuk ke ruangan untuk dirontgen, pada percobaan pertama saya lihat dari monitor, bagian usus besar dan sebagian usus halus saya yang terlihat karena adanya zat kontras, selebihnya tidak terlihat. Namun tiba-tiba petugas datang lagi, dan saya ditanyakan pukul berapa saya minum bariumnya, “jam 22.30,” begitu jawaban saya. 

Salah satu petugas menjelaskan, “karena memang gerakan peristaltik (gerak usus) tiap orang berbeda-beda, maka waktu mencerna makanan juga berbeda-beda. Jadi bisa kita lihat di sini, barium sulfatnya sudah terlanjur turun, jadi tidak bisa dinilai apakah terjadi peradangan usus buntu atau tidak, karena barium sulfat sudah tidak berada di area itu.” Memang saya juga melihat bahwa barium sudah terlajur ‘turun’ ke bagian lain dari usus besar. “Kalau masnya mau, bisa kita ulang lagi, mas minum lagi bariumnya, nanti setelah sekitar lima jam kembali lagi untuk dirontgen.” Lagi? Minum barium lagi? Ah makin lama saja, tapi ya apa boleh buat. Saya kembali diberikan barium sulfat untuk diminum dan siang nanti saya kembali ke laboratorium ini (lagi), sepertinya laboratorium ini terlanjur sayang sama saya.

Lima jam kemudian, rontgen kembali dilakukan, dan benar saja, zat kontras sudah turun dalam waktu lima jam, cepat sekali usus ini. Ada empat posisi yang dirontgen, depan dua kali, samping, serta belakang. Tak lama hasil sudah keluar, dan ada kalimat non filling appendix, benar berarti ini fix radang usus buntu. Jadi jika zat kontras tidak mengisi usus buntu, kemungkinan besar ada sesuatu yang menyumbatnya, karena ada penyumbatan inilah, maka terjadi peradangan yang disebabkan oleh infeksi. Dalam keadaan normal, usus buntu tidak tersumbat.

Malam hari setelah membuat janji, saya bertemu dengan kakak sepupu untuk konsultasi lebih lanjut, setelah observasi langsung serta melihat hasil rontgen, disimpulkan bahwa memang saya menderita apendisitis, namun yang sifatnya kronis, alias kambuh-kambuhan, karena tidak terjadi gejala seperti demam dan mual yang umumnya dialami penderita apendisitis akut. 

Malam itu juga saya diberikan opsi untuk memilih kapan ingin operasi serta metode operasinya. Metode operasi ada dua, operasi bedah biasa dengan sayatan terbuka atau dengan metode laparoskopi. Awalnya saya memilih bedah biasa dengan pertimbangan bisa dijadwalkan lebih cepat karena tim untuk laparoskopi sedang bertugas di luar kota. Pada bedah biasa, sisi perut sebelah kanan bawah saya akan disayat beberapa sentimeter untuk kemudian dilakukan pemotongan usus buntu secara terbuka, bius/anestesi yang diberikan juga anestesi spinal, hanya pinggang sampai kaki saja yang dianestesi. Namun, masa penyembuhan dari metode ini lebih lama, sampai kurang lebih tiga bulan, selain itu pantang untuk banyak naik turun tangga, termasuk olahraga, duh mau jadi apa selama itu ga olah raga.

Pada metode laparoskopi, tidak dilakukan bedah terbuka, akan ada tiga sayatan kecil pada titik yang berbeda, masing-masing hanya sekitar satu sentimeter. Pada satu titik, akan dimasukkan alat yaitu laparoskop, yang digunakan untuk melihat rongga perut melalu kamera. Pada alat ini ada kamera serta lampu LED, dari sini lah dokter bedah dapat melihat isi perut. Lalu di dua titik lainnya dimasukkan alat yang dapat dioperasikan oleh dokter untuk melakukan tindakan operasi, seperti memotong organ dan lainnya. Ibaratnya, dua alat ini adalah tangan dokter di dalam perut kita. Metode ini dianggap lebih baik karena tim medis tidak perlu melakukan kontak langsung dengan organ dalam, juga masa pemulihan relatif lebih singkat, sekitar satu bulan, karena luka sayatan yang lebih kecil. Tetapi, metode ini memerlukan anestesi umum/bius total.

Dengan beberapa pertimbangan, saya akhirnya lebih memilih laparoskopi demi masa pemulihan yang lebih singkat. Jadwal pun ditentukan, pekan depan saya akan dioperasi.
----

Hari itu pun tiba, saya sampai di rumah sakit dengan keadaan yang segar bugar bersama orang tua, rasanya hampir tidak bisa dipercaya saya harus terbaring lemas tanpa daya dalam beberapa jam lagi. Beberapa saat sebelum operasi, kerabat saudara datang untuk memberikan dukungan, ah terharu.

Operasi yang dijadwalkan pukul 20.30 pun mundur sekitar satu jam karena masih ada operasi lain yang belum selesai. Ketika tiba waktunya, saya diantar petugas masuk ruang operasi yang terasa sekali nuansa sterilnya, semua serba bersih. Setelah  berbaring, jari telunjuk kiri saya dijepitkan suatu alat yang ternyata digunakan untuk memantau denyut jantung, dan lengan kanan dipasang tensimeter otomatis untuk memantau tekanan darah. Bismillaah, semakin deg degan.

Tak lama kalau tidak salah dua orang datang, dugaan saya salah satunya adalah dokter anestesi. Ternyata benar, beliau bilang, “kalau ngantuk tidur saja mas,” “iya dok,” sambil dia injeksikan zat anestesi melalu saluran infus. Kata terakhir yang saya dengar dari dokter adalah, “bismillahirrahmanirrahim.”

Saat Operasi (Dokumentasi Pribadi)
Tidak tahu apa yang terjadi selama itu, tapi sebelumnya saya menitipkan flash disk kepada adik saya yang diperbolehkan ikut masuk memantau di ruang operasi (hitung-hitung sebagai pengalaman menuju jadi dokter) untuk meminta file rekaman laparoskopi kalau bisa.

Beberapa jam kemudian, saya merasa setengah sadar, mungkin baru 20%-30%, tapi entah kenapa saya terus menerus membanting kepala saya ke kiri dan kanan seolah olah ingin berontak (ini setelah diberitahu).

Sekitar pukul 2.30 pagi saya terbangun dengan keadaan lemas dan nyeri di bagian perut, sakit sekali rasanya, ingin bangun saja sulit. Akhirnya saya tidur kembali.

Pagi harinya, dokter datang memeriksa kondisi saya, dan bilang, saya belum boleh makan sebelum buang angin. Karena anestesi yang diberikan juga membius usus, sehingga harus ditunggu sampai usus kembali aktif baru saya boleh makan dan minum, padahal rasanya haus sekali ketika itu. Kalau saja infusnya bisa diganti kuah Soto Seger Mbok Giyem kan enak, hahaha.

Jam sembilan pagi akhirnya saya mulai merasakan gejolak diperut, dan akhirnya, yes udah buang gas, duh malu, tapi ini memang pertanda bagus. Setelah diperiksa dokter, akhirnya saya boleh makan dan minum, tetapi makanan yang lembut saja dulu, nasi belum boleh.

Efek anestesi juga masih terasa, terkadang kaki masih kesemutan, dan walaupun akhirnya bisa bangun tidur, ketika berdiri pun masih terasa goyah, mungkin juga karena efek operasi yang menyayat sedikit otot perut.

Selama tiga hari saya menjalani masa pemulihan di rumah sakit sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Well, semoga lekas sehat, dan tidak ada lagi penyakit-penyakit lain yang datang, aamiin.

Sunday, October 16, 2016

E-Toll Card

Flazz BCA
Berpergian merupakan kebutuhan hampir setiap orang, entah untuk keperluan mencari nafkah, menuntut ilmu, bersosialisasi, dan keperluan lainnya yang membutuhkan kita untuk berpindah ke suatu tempat. Pastinya di zaman modern ini banyak sekali moda transportasi yang bisa kita gunakan, mulai dari sepeda motor, mobil, bus, kereta api, pesawat, dan lainnya. Mobil merupakan salah satu moda transportasi yang sebagian besar digunakan untuk berpergian, terlebih untuk jarak yang menengah sampai jauh, dan juga jika membutuhkan ruang yang luas untuk membawa barang.

Sudah lumayan lama saya menggunakan moda transportasi beroda empat ini, dan beruntungnya di wilayah Bandung Raya ada jalan bebas hambatan atau jalan tol yang bisa digunakan. Salah satu masalah yang kerap kali terjadi di jaringan jalan tol adalah kemacetan di gerbang tol, karena kendaraan harus mengantri untuk melakukan pembayaran tol. Beruntungnya, saat ini sudah ada gardu tol otomatis yang disediakan untuk pengguna jalan tol yang memiliki kartu tol prabayar (e-Toll Card) yang dapat mengurangi durasi antrian di gardu. Tinggal tempelkan saja kartu di mesin hingga saldo otomatis terpotong dan portal terbuka, tidak perlu repot-repot menyiapkan uang tunai dan menunggu kembaliannya.

Sudah cukup lama pula saya menggunakan e-Money dari Bank Mandiri yang juga berfungsi sebagai e-Toll Card, dan sejauh ini hampir semuanya baik-baik saja, walaupun pernah sekali terjadi saldo saya terdebit dua kali tarif tol, entah bagaimana, beruntungnya bukan tarif jarak terjauh.

Sejak Tol Cikampek-Palimanan dibuka, kemudian dilanjutkan sampai Brebes, saya penasaran apakah e-Toll Card sudah dapat digunakan di jaringan tol tersebut. Pada tahun 2015 ketika saya melakukan perjalanan mudik dari Bekasi ke Solo, saya mencoba jalur Tol Cikopo-Palimanan-Kanci-Pejagan yang dilanjutkan dengan ruas Tol Pejagan-Brebes yang masih dalam tahap konstruksi, alias off-road dengan debu yang sangat tebal. Saat itu e-Toll Card baru bisa digunakan dari Bekasi-Cikarang-Cikopo, sisanya baru bisa dengan pembayaran tunai. Lalu dilanjutkan dengan Tol Semarang yang sudah bisa menerima pembayaran e-Toll Card.

Setahun berlalu, konon menurut berita yang beredar, ruas tol jalur mudik Pantura sudah bisa menggunakan e-Toll Card untuk pembayaran, dan kali ini lebih banyak bank, yaitu Mandiri, BNI, BRI, dan BCA, yang selama ini kita tahu (mungkin) e-Toll Payment dimonopoli oleh bank Mandiri, syukurlah sudah tersedia untuk beberapa bank. Kemarin saat saya kembali mudik melalui jalur utara menuju Bandung, benar saja e-Toll Card sudah dapat digunakan di semua ruas tol. Mulai Tol Bawen-Tembalang, yang terkenal dengan tol yang sedikit-sedikit bayar, lalu ke jalur biasa dan kemudian masuk di Gerbang Brebes Timur sampai Cileunyi dengan jarak tempuh yang kurang lebih 300 kilometer, cukup membosankan memang.

Akhirnya setelah kurang lebih empat jam di jalan tol sampai juga di Cileunyi, dan ini yang paling penting, saya telah lama penasaran dengan tarif Tol Palimanan-Cileunyi yang sudah sejak lama saya Googling dimana-mana tapi tidak ketemu, dan ternyata cukup menguras saldo, yaitu Rp 143.000, belum lagi ditambah tarif Tol Brebes-Palimanan Rp 55.500, dan printilan-printilan ruas Tol Bawen-Tembalang (Tol Semarang) sejumlah Rp 19.500,  semua tarif tersebut  per tanggal 11 Oktober 2016. Finally, mission accomplished: Driving in Cipali-Bandung Toll Road! 

Struk Tol Pantura-Cileunyi
Satu hal lagi yang cukup membuat saya penasaran, karena selama ini hanya e-Toll Card Bank Mandiri yang terpasang logonya di gardu tol namun menurut pemberitaan e-Toll Card ke empat bank tadi sudah bisa digunakan, akhirnya beberapa hari yang lalu saya coba membuktikan dengan menggunakan e-Toll Card dari BCA (Flazz BCA) untuk ruas Tol Padalarang-Cileunyi, dan ternyata memang bisa digunakan. Walaupun saya hanya menempuh jarak dari Cileunyi hingga Buah Batu, dari situ (menurut saya) bisa dilihat bahwa Flazz BCA sudah bisa digunakan untuk ruas Tol Jakarta-Cikampek, Cikampek-Padalarang-Cileunyi, dan Cikampek-Cikopo-Palimanan-Kanci-Pejagan karena ruas tersebut terintegrasi. Untuk Tol Pejagan-Brebes saya belum tahu apakah Flazz BCA sudah bisa digunakan atau belum, namun untuk tiga bank lainnya sudah bisa digunakan.

Semoga bermanfaat! Oh ya, ini bukan endorse, tapi kalau ada yang endorse boleh laah :D

Friday, October 14, 2016

Tak Sependapat (APDX - 01)


Malam sunyi yang diiringi suara jangkrik serta alunan musik klasik lembut namun tidak membuat kantuk menjadi temanku selama proses pengerjaan karya ilmiah itu. Tulisan yang dipersyaratkan untuk mendapatkan gelar sarjanaku itu cukup menyita waktu dan sedikit banyak merubah jam biologisku. Jari-jari ini lebih aktif menari-nari di atas papan ketik saat malam hari, sementara di siang hari mereka ingin istirahat, begitupun dengan neuron di kepalaku yang lebih senang ngobrol dengan sesamanya saat matahari telah terbenam.

Ah hampir selesai, sudah empat per lima bagian aku kerjakan, memang masih ada revisi sana-sini, bukan tentang penulisan, namun lebih kepada konsep yang harus lebih difokuskan pada objek agar pembahasan tidak melebar kemana-mana. Sebenarnya menyusun skripsi ini gampang gampang malas, kesulitan secara teknis dari materi ilmiah pasti ada, namun secara umum lebih sulit melawan rasa malas daripada mencari literatur untuk menambah referensi ilmu. Terlebih jika yang bersangkutan hanya menunggu mood baik datang tanpa mau mengusahakan agar mood itu datang.

Aduh.. tiba-tiba terasa nyeri di perutku, nyeri yang cukup hebat, bukan mulas seperti ingin buang air, entah. Tapi tak kemudian nyeri itu berangsur hilang, ah mungkin nyeri otot saja karena terlalu lama duduk.

Beberapa hari kemudian kembali terasa nyeri itu, lalu hilang, begitu terus terjadi hampir selama satu pekan. Karena penasaran saya mencari informasi di internet mengenai gejala-gejala tersebut, banyak sekali kemungkinannya, bisa masalah ginjal, batu empedu, usus buntu, dan lain-lain, duh kenapa jadi horor begini.

Satu hal yang dapat saya simpulkan saat itu, mungkin ini adalah penyakit batu empedu karena sakit perut yang dialami terjadi tiba-tiba (kolik bilier). Pencarian berlanjut dan akhirnya saya menemukan cara alami untuk penyembuhannya, yakni dengan terapi apel, saya agak lupa persisnya. Setelah saya coba, beberapa hari saya rasa biasa-biasa saja, dan tak lama kemudian sakit perut itu terasa kembali, duh.

Esok harinya saya sempatkan berkunjung ke rumah sakit di sekitar Cileunyi. Keluhan yang saya sampaikan hanya sakit perut itu, beberapa kali dokter pun bertanya, apa juga terasa sakit ketika kencing, tapi saya tidak merasakan hal itu. Sampai akhirnya dilakukan tes urin karena dokter mencurigai adanya infeksi saluran kemih, duh nambah lagi kemungkinannya.

Setelah hasil laboratorium keluar, tidak ada hal yang mengindikasikan adanya penyakit seperti yang diduga sebelumnya. Dokter tersebut juga bingung, dan saya hanya diresepkan obat analgesik untuk mengurangi nyeri saja, selebihnya hanya dinasehati untuk makan dan minum teratur dan sehat.
Sebenarnya ada apa ini?

Saya juga sempat berkonsultasi dengan adik saya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran. Dari gejala-gejala yang saya sampaikan, dia bilang ada kemungkinan saya mengalami radang usus buntu. Namun saya bingung, karena saya tidak mengalami keluhan lain seperti gejala apendisitis pada umumnya, seperti demam, mual, muntah, dan nyeri ketika kaki dilipat mendekati badan.

Ah sudahlah, ‘nikmati’ dulu rasa nyeri ini sampai saya sempat untuk bertindak lebih lanjut, karena saat itu memang saya dikejar target untuk segera menyelesaikan tugas akhir dengan waktu yang hanya tersisa dua bulan saja, bahkan tidak sampai.

Pada akhirnya, tiba waktunya untuk mudik lebaran, jadi memang dua bulan itu terpotong libur lebaran. Sampai di Jogja, saya lanjutkan ngobrol langsung dengan adik saya dan dia coba untuk observasi langsung dengan cara menekan beberapa titik di perut, dan saat sampai satu titik, saya merasakan nyeri sekali. Ternyata dugaan adik saya ada kemungkinannya benar, usus buntu saya mengalami peradangan. Untuk memastikannya kembali, dia bilang, “coba tanya Mas Andi.” Ketika itu memang sedang ada beberapa saudara yang berkunjung ke rumah, dan Mas Andi yang merupakan sepupu saya ini berprofesi sebagai dokter bedah.


Setelah berdiskusi dan observasi langsung, dugaan semakin kuat bahwa memang saya mengalami apendisitis. Tapi untuk memastikannya kembali, saya harus melakukan cek laboratorium, termasuk tes darah, urin, dan USG abdomen.

Esok harinya saya pergi ke salah satu laboratorium swasta di dekat bundaran kampus UGM. Tes yang saya ambil adalah hematologi lengkap, urin lengkap, dan USG abdomen. Setelah sampel darah dan urin diambil, saya dipersilakan masuk ke sebuah ruangan dengan tempat tidur, komputer dan beberapa monitor. Sedikit penasaran, sebelum dokter datang saya sempat lihat-lihat alat yang ada, keren juga sih, oke skip.

Dokter dengan gelar belakang Sp.Rad (spesialis radiologi) pun datang, saya diminta mengangkat kaos kemudian diolesi gel, entah gel apa, mungkin gel USG, lalu dengan alat yang berbentuk seperti scanner barcode dengan pegangan itu perut saya dielus-elus (apasih). FYI, saya bukan orang yang mudah percaya maupun apatis, “itu apa dok? Kalo yang tadi? Itu kenapa?” adalah pertanyaan yang selalu saya sampaikan, karena saya tidak mau datang ke dokter, sampaikan keluhan, lalu terima resep begitu saja. Sebagai pasien, saya merasa harus tahu apa yang terjadi pada diri saya, istilahnya saya harus merasa teredukasi oleh dokter mengenai diri saya. Jadi dari situ, saya tahu yang mana liver, ginjal, empedu, dan lain-lainnya. Namun ketika fokus pada bagian usus buntu, USG juga tidak bisa melihat posisi apendiks saya, walaupun sudah ditekan berkali-kali, tetap tidak terlihat.

Hasil USG: Regio Iliaca Dextra

Hasil lab kemudian saya sampaikan kepada kakak sepupu saya, beliau bilang semuanya bagus, darah, urin, tapi memang tidak terlihat bagian usus buntunya. Dari situ saya disarankan untuk mengkonsumsi antibiotik selama beberapa hari, lalu dilihat kembali perkembangannya.

Libur lebaran sudah usai, saya harus kembali melanjutkan tugas akhir untuk mengejar sidang skripsi pada awal bulan depan, waktu yang tersisa tidak sampai empat pekan. Perjuangan tidak sia-sia, akhirnya saya berhasil lulus kuliah, alhamdulillaah. Namun tidak semuanya berakhir begitu saja, masih ada revisi dan beberapa administrasi untuk pengurusan wisuda, ijasah, dan sebagainya. Di sela-sela itu, saya masih sering mengalami keluhan nyeri di perut. Kali ini ini nyerinya lebih terfokus ke bagian kanan bawah, dan terkadang terasa sampai pinggang bagian belakang, namun sering kali saya abaikan karena memang masih banyak yang harus diselesaikan.

Ketika semua sudah selesai, saya kembali pulang dan menghubungi sepupu saya kembali, dan dia juga bilang untuk melakukan tes darah lagi. Sebelum tes darah, saya sempat berkonsultasi dengan dokter umum di laboratorium tersebut. Kesimpulan yang saya dapat, dokter tersebut tidak mendiagnosa apendisitis, tapi juga tidak dapat memastikan apa yang terjadi. Saya pun sempat menanyakan untuk mengambil tes apendikogram. Rontgen apendiks dengan menggunakan bahan kontras, tes ini untuk melihat jika terjadi peradangan, maka usus buntu tidak akan dapat terlihat ketika dirontgen. Sebelumnya, ketika pertama kali saya ke laboratorium ini memang sempat disarankan untuk mengambil tes ini, tapi karena harus meminum zat kontras namun saat itu saya sedang berpuasa, akhirnya saya lebih pilih USG.

Akhirnya saya lakukan saja pemeriksaan darah sesuai saran. Sambil menunggu hasil, saya sempatkan untuk berkonsultasi ke dokter penyakit dalam di rumah sakit Dr. Sardjito untuk mencari fifth opinion (saking berbeda-bedanya semua pendapat dokter yang saya temui). Dan apa yang terjadi? Dokter tersebut menduga ada masalah pada ginjal saya, dan untuk memastikannya lagi saya diminta untuk melakukan USG lower abdomen, duh.

Semakin bingung, hampir semua punya opini yang berbeda, ah..

Tak lama kemudian email hasil tes laboratorium masuk, dan lagi-lagi semua dalam keadaan normal..
Sepertinya saya harus mengambil keputusan, kalau begini terus rasanya saya akan menghabiskan banyak dana hanya untuk mondar mandir periksa laboratorium dan kunjungan dokter. Setelah hasil lab saya sampaikan ke Mas Andi, beliau juga menyarankan untuk USG lower abdomen saja untuk memastikannya. Tapi entah kenapa saya agak ragu, dan saya tanya lagi, “bagaimana kalau apendikogram saja mas?” Lalu beliau menjawab, “boleh, tapi kurang valid, tapi bisa dicoba. Soalnya terkadang apendiks itu mencengkram, jadi bisa ga masuk zat kontrasnya.”

Jadi apendikogram adalah teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan apendiks dengan menggunakan kontras media positif barium sulfat dan merupakan salah satu pemeriksaan radiologi yang membantu dalam menegakkan diagnosis adanya apendisitis. Singkatnya, ada zat kontras yang harus saya minum agar usus terutama usus buntu dapat tervisualisasi ketika dilakukan rontgen, karena usus tidak dapat terlihat tanpa zat kontras.

Saya kembali (lagi) ke laboratorium untuk mendaftarkan apendikogram, setelah transaksi, saya diberikan 250 gram bubuk barium sulfat yang harus saya minum delapan jam sebelum dirontgen. Karena saya ingin tes besok pagi, barium yang harus dilarutkan bersama air hangat ini akan saya minum malam ini sekitar pukul sepuluh atau sebelas, sehingga delapan jam kemudian diharapkan bariumnya sudah sampai ke usus.

Larutan ini tidak ada rasanya sama sekali, jadi ya tidak masalah lah, walaupun sebenarnya boleh dicampur dengan sirup supaya bisa lebih nyaman di lidah. Oke, selamat malam.

Saturday, August 13, 2016

Ujian TOEFL-ITP

Halo dunia! Lama tidak bersua dari blog ini. Mumpung sudah senggang, saya ingin berbagi pengalaman selama blog ini vakum. Oke sebelumnya mari kita kerja bakti bersih-bersih sarang laba-laba di blog ini dulu, hahaha.

Seingat saya, pertama dan terakhir kali saya mengikuti ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) kira-kira tahun 2010/2011, itu juga hanya sebagai partisipasi acara yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa jurusan saya waktu itu, walaupun sebelumnya saat masih SMA, hampir tiap tahun diberikan ujian simulasi TOEIC (Test of English as International Communication). Iseng mengikuti, ternyata alhamdulillaah saya dapat skor murni 520, walaupun hanya TOEFL prediction.

Tahun-tahun berlalu, sampai akhirnya tiba saat-saat dimana saya akan menyelesaikan studi di universitas (akhirnya!). Saat itu, salah satu berkas yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan sidang adalah salinan dari sertifikat TOEFL yang masih berlaku dengan skor minimal 450. Rasanya memang sudah saatnya bagi saya untuk kembali mengukur ulang kemampuan berbahasa Inggris saya, dan akhirnya diputuskan untuk mengambil ujian TOEFL yang resmi tingkat institusi, lebih populer dengan TOEFL-ITP (TOEFL Institutional Testing Program).

Karena sempat disibukkan dengan tugas kuliah dan skripsi, saya baru sempat daftar tes di bulan Mei, padahal rencananya saya sudah harus siap semua dokumen sebelum lebaran (yang saat itu jatuh pada awal Juli). Setelah cari info sana-sini, akhirnya saya dapat info untuk ujian pada 21 Mei 2016 yang diadakan di English First cabang Antapani Bandung, untungnya dua hari sebelum tes masih diperbolehkan untuk mendaftar, oh ya, saat itu biaya yang harus dibayarkan untuk ujian adalah Rp 445.000. Jadwal ujian TOEFL-ITP se-Indonesia bisa dicek di jadwal TOEFL-ITP Indonesia.

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan saat itu, karena memang sedang lumayan sibuk. Namun, saya lumayan sering belajar bahasa asing di waktu senggang, karena memang saya cukup tertarik belajar bahasa. Termasuk untuk konten hiburan seperti film, terlebih film Hollywood, saya sering mematikan subtitel ketika menonton, ya hitung-hitung melatih kemampuan listening lah. Untuk masalah reading, saya mengandalkan kamus pocket Oxford untuk menambah kosakata. Tapi saya memang sedikit lemah di bagian grammar/structure, karena memang masih sering mengandalkan perasaan/intuisi untuk menentukan kebenaran struktur suatu kalimat, dari sini saya menggunakan beberapa aplikasi dari toko aplikasi untuk belajar grammar.

Saat tes hari-H, ada beberapa alat tulis yang dibawa, pensil 2B, rautan/penserut, penghapus, dan bolpoin, sekaligus tisu jika perlu, karena ujian dilaksanakan menggunakan lembar jawaban komputer (LJK). Untuk papan jalan/scanner/dada tidak diperlukan di lembaga tempat saya ujian (kurang tahu untuk lembaga lain). Sesi pertama sebelum tes, identitas peserta dicek satu persatu untuk dipastikan kebenarannya. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian identitas, seperti nama, tanggal lahir, dan sebagainya. Nama belakang/lastname ditulis terlebih dahulu, lalu diikuti nama depan/firstname. Misal: Ini Ibu Budi, maka urutan penulisannya: Budi Ini Ibu, untuk yang namanya lebih panjang bisa disingkat secukupnya kolom, misal nama saya: Muhammad Shofyan Akbar Surya, karena juga menyesuaikan dengan jumlah kolom akhirnya nama saya tulis: Surya M Shofyan Akbar.

Sesi pertama ujian adalah Listening Comprehension, soal yang diberikan berjumlah 50 soal yang dibagi ke dalam beberapa bagian, percakapan pendek, percakapan panjang, dan monolog panjang. Tips saya untuk bagian listening adalah baca terlebih dahulu opsi jawaban yang diberikan sebelum audio untuk soal terkait dimulai. Sambil mendengarkan, kita juga bisa mencoba untuk mengingat-ngingat beberapa kata kunci penting dalam percakapan itu. Saya sempat kerepotan untuk beberapa soal terakhir yang menurut saya agak sulit.

Sesi selanjutnya adalah Structure and Written Expression dengan 40 soal diberikan waktu selama 25 menit untuk menyelesaikan dua bagian soal, yaitu: soal dengan jawaban pilihan ganda dan soal untuk memilih jawaban yang salah. Tipsnya, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar structure, karena saya pun cukup kesulitan.

Sesi terakhir yakni Reading Comprehension, selama 55 menit peserta diharuskan untuk menyelesaikan 50 soal yang diberikan. Soal berbentuk teks panjang yang kemudian disertai dengan soal pilihan ganda. Tips yang sudah hampir diketahui semua orang adalah baca terlebih dahulu pertanyaannya baru kemudian baca teksnya. Selain itu kita juga perlu jeli dalam menggali makna-makna tersirat dalam tulisan.

Tes yang diselesaikan dalam durasi kurang lebih 120 menit ini menyisakan tangan yang sedikit pegal akibat sudah lama tidak menghitamkan jawaban di LJK, hahaha. Saran tambahan, sebelumnya kalau bisa latihan dengan handgrip supaya bisa lebih cepat menjawab soal-soal.

Hasil tes dijanjikan akan keluar dalam dua pekan, namun ternyata hasil baru keluar sekitar 17-18 hari setelah tes.


Alhamdulillaah, walaupun belum sesuai target, setidaknya skor tes saat ini lebih tinggi dari tes sebelumnya. Akhirnya saya punya sertifikat TOEFL resmi yang berlaku selama 2 tahun ke depan. Well, semoga selanjutnya bisa punya kesempatan untuk ujian IELTS dan GRE :D

Monday, May 23, 2016

Ada Apa dengan Kita?


Assalamu’alaykum, salam sejahtera untuk kita semua. Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, saya Akbar, saya bukan salah satu warga kota Bandung, namun sudah hampir tujuh tahun saya tinggal di daerah Bandung coret. Saya cukup sering bolak-balik hingga 2-4 kali setiap pekannya ke Kota Bandung untuk beberapa urusan.

Banyak hal positif yang saya dapatkan selama tinggal di sini, secara umum merantau ke daerah lain sangat memperkaya sudut pandang kita. Namun ada beberapa hal yang sejak awal tinggal di daerah Bandung Raya mengusik pikiran dan jiwa saya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak bermaksud tendesius terhadap sekelompok masyarakat, saya sangat menyayangkan perilaku pemakluman kesalahan.

Pemakluman kesalahan yang saya maksud adalah kondisi ketika kesalahan sudah dianggap menjadi hal yang lumrah karena seringnya kesalahan itu terjadi. Hal pertama yang mengusik saya adalah masalah sampah, tidak jarang saya melihat orang yang dengan santainya membuang sampah keluar jendela mobil, atau sengaja membuah plastik makanan minuman dimana saja mereka mau. Semakin disayangkan pula, tidak banyak yang peduli walaupun sekedar menegurnya.

Selanjutnya masalah transportasi umum, banyak sekali transportasi umum yang kita bisa temukan di Bandung Raya ini, mulai dari angkot, elf, sampai bus kota. Pemerintah Kota Bandung akhir-akhir ini sangat mengkampanyekan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan di jalan yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi, salah satunya adalah dengan meremajakan dan menambah unit bus kota di Bandung. Saya sangat mendukung karena salah satu faktor yang membuat banyak orang malas menggunakan transportasi umum adalah masalah kenyamanan dan tentu saja tarifnya. Namun sayang sekali, tidak jarang ketika saya naik transportasi umum, termasuk bus kota dan mobil angkot, pengemudi/penyedia jasa tidak menghargai waktu penumpangnya. Bukan hal aneh bila kita menemukan banyaknya mobil tranportasi publik yang menghabiskan waktu sekian lama untuk nge-tem. Nge-tem memang tidak salah, namun durasi nge-tem itulah yang bermasalah, belum lagi masalah sopir yang sering memaju-mundurkan kendaraan supaya semakin banyak penumpang yang ingin naik, namun ketika sudah naik, sopir memundurkan kembali kendaraannya, bukankah ini penipuan? Belum lagi masalah nge-tem di daerah persimpangan (dekat lampu lalu lintas) yang sering membuat macet.

Masalah tidak berhenti di situ, perilaku sopir yang ugal-ugalan, berhenti mendadak, seringkali sangat membahayakan pengguna jalan yang lainnya. Entah berapa kali saya hampir mengalami kecelakaan karena perilaku ugal-ugalan tersebut. Tidak hanya sopir kendaraan umum yang berperilaku ugal-ugalan, namun, mohon maaf, banyak sekali orang yang saya temui di jalanan daerah Bandung Raya berperilaku negatif.

Perilaku pertama yang ingin saya bahas adalah melawan arus, punten kang teh, bisa kita saling menghargai di jalan dengan tidak melawan arus? Saya tau kita semua punya kepentingan masing-masing, kita buru-buru, tidak ingin terlambat, tidak ingin pula mencari putar balik yang terlalu jauh, tapi apakah kita harus melupakan aspek keselamatan? Maaf, kalau Anda mau mengabaikan keselamatan sendiri, itu hak Anda, terserah. Tapi dengan melawan arus, Anda juga membahayakan keselamatan orang lain, kalau sudah kejadian baru menyesal, dan (mungkin) kemudian menyalahkan pengendara lain yang kendaraannya lebih baik dari Anda (teringat kasus kecelakaan di Jakarta, akibat melawan arus, pemotor meninggal dunia, lalu masyarakat meminta pertanggung jawaban pengendara mobil yang ditabrak motor tersebut).

Selanjutnya masalah menunggu di lampu merah, bukankah saat ini sudah disediakan zona khusus kendaraan roda dua di baris depan? Lagi-lagi saya hanya bisa mengelus dada melihat orang-orang yang tidak sabar menunggu kemudian beranjak ke zebra cross. Ketika sedikit sepi saja (namun lampu belum hijau) dengan santainya melanggar lampu lalu lintas, hal ini dilakukan oleh hampir semua pengendara kendaraan bermotor, termasuk pengendara mobil. UNIKNYA, mereka yang sudah bersiap namun tidak kebagian jatah untuk melanggar, ketika lampu sudah hijau, tidak segera bergerak, seringkali harus ditegur via klakson terlebih dahulu baru jalan. Saya tidak ingin berspekulasi mengenai masalah buta warna. MENAKJUBKANNYA LAGI, ketika saya  tetap berada di posisi diam menunggu lampu menjadi hijau, tidak sedikit pula yang mengklakson saya seolah menyuruh saya melanggar lampu lalu lintas.

Hal berikutnya adalah penyalahgunaan sirine pada kendaraan pribadi dengan tujuan bisa membuat pengendara lain menepi dan akhirnya ia bisa cepat melaju. Kembali lagi, semua orang buru-buru, lalu apakah tidak bisa saling menghargai? Saya belum tahu persisnya, tapi apakah ada kendaraan pribadi yang diperbolehkan menggunakan sirine di jalan umum? Belum lagi arogansi pengguna motor gede yang seolah-olah harus diprioritaskan, apa pentingnya?

Saya pun juga ingin menyampaikan beberapa ide solusi dari permasalahan yang telah saya sampaikan. Memang tidak mudah meningkatkan kesadaran akan masalah perilaku negatif, pemerintah dan masyarakat harus membangun komitmen yang solid. Pemerintah sebagai regulator harus menindak tegas pelanggaran yang terjadi, masyarakat pun harus pula membangun kesadaran di lingkungannya masing-masing, dan hal itu pun harus berkelanjutan, tidak sekedar penerapan sekali dua kali. Edukasi masyarakat mengenai sampah misalnya, pemerintah bisa membuat suatu program edukasi yang menyeluruh, untuk hal ini pemerintah bisa bekerja sama dengan camat, lurah, RW, hingga RT. Masyarakat yang sudah sadar akan masalah ini pun juga harapannya dapat diberdayakan untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang kebersihan.

Mengenai masalah durasi nge-tem yang terlalu lama, saran saya, sebaiknya angkutan kota dikelola oleh pemkot dan supir diberikan gaji tetap, sehingga tidak harus nge-tem demi mengejar setoran. Saya masih ingat ketika pemerintah Kota Bandung menggratiskan angkutan kota, hari itu merupakan salah satu hari paling tertib di jalan Dago.

Untuk masalah lalu lintas, aparat penegak hukum harus menjadi contoh dan bisa lebih berkomitmen kepada penegakan peraturan, tidak pandang bulu terhadap pelanggaran, siapapun yang melakukan, walaupun itu adalah rekan dan sanak saudaranya sendiri. Karena banyak pula kejadian pelanggaran (yang hampir berakhir tilang) yang akhirnya diloloskan hanya karena pelaku memiliki relasi/kerabat yang juga aparat penegak hukum (kolusi masih merajalela). Salah satu pengalaman pribadi saya, ketika itu saya diberhentikan oleh petugas yang berjaga di pos polisi dekat Gedung Sate karena tidak menyalakan lampu kendaraan roda dua di siang hari, saya sudah pasrah saja karena memang saya yang salah. Saat petugas mengisi formulir untuk saya sidang di pengadilan nanti tiba-tiba ia menawarkan saya, “saya tau adik sibuk, supaya tidak usah sidang, belikan saja rokok di kios seberang jalan.” Sebelumnya saya memang belum pernah diberhentikan petugas dan (hampir) ditilang, pernyataan tersebut membuat saya kaget dan sangat disayangkan. Saya sendiri tetap bersikukuh untuk ditilang saja dan menjalani proses hukum, karena saya memang salah dan saat itu cukup penasaran dengan proses hukum di pengadilan. (Mungkin) terlanjur malu, setelah berusaha ‘bernegosiasi’ dengan saya, akhirnya petugas tersebut mengembalikan surat-surat saya dan berkata, “lain kali hati-hati, jangan lupa nyalakan lampunya.” 

Oh ya, satu lagi saran saya, semoga peningkatan kualitas dan pengaturan lampu lalu lintas di Kota Bandung bisa lebih diperbaiki lagi, karena sampai saat ini masih banyak lampu yang mati dan saya juga menemukan resiko kecelakaan yang cukup tinggi ketika di persimpangan jalan (simpang empat) lampu lalu lintas menyala hijau di dua arah yang berseberangan.

Untuk rekan-rekan yang juga menyadari masalah-masalah di atas dan ingin memperbaikinya, mari kita sama-sama tularkan pengaruh baik ke lingkungan kita, paling tidak dari keluarga dan rekan terdekat. Jangan malu dan segan menegur kesalahan yang terjadi, KEBURUKAN MERAJALELA BUKAN KARENA BANYAKNYA ORANG JAHAT, NAMUN KARENA BANYAKNYA ORANG BAIK YANG DIAM.

Beberapa orang mungkin saja akan menganggap penulis sok suci, pahlawan kesiangan, ataupun sebutan negatif lainnya. Namun penulis punya prinsip, saya tidak akan menegurkan suatu hal kepada orang lain sebelum saya menegur diri sendiri, karena perubahan sejatinya dimulai dari diri sendiri. Penulis hanya ingin melihat negeri ini khususnya tempat saya tinggal saat ini (daerah Bandung Raya), menjadi tempat yang masyarakatnya lebih beradab, menghargai satu sama lain, dan saling menjaga, bukankah itu yang kita semua inginkan? Ataukah kita masih ingin begini-begini saja tanpa ada kemajuan?


Salam,
Akbar Surya