Saya Mau Nulis ™

Selalu ada inspirasi baru di tiap harinya

Singapore ah?

D1: Raining
Seperti biasa, semuanya sudah siap, backpack berisi pakaian dan seluruh perlekapannya serta sebuah tripod, kamera sudah siap, plus satu buah sling bag berisi passport dan ‘senjata’ penting lainnya.

Alhamdulillah akhirnya dapat kesempatan ke salah satu negara maju, Singapore. Ya walaupun belum jauh-jauh amat :D

Setelah sampai bandara dan urusan bla bla bla nya, terbanglah saya ke Singapore dari Bandung. Penerbangan selama hampir dua jam ini tidak terlalu smooth, cuaca beberapa kali menggoyang badan pesawat sampai akhirnya saya tiba di Singapore.

Changi airport benar-benar sangat luas, dari gate ke imigrasi itu jauh. Setelah keluar dari imigrasi, saya naik sky-train ke terminal 3, karena mau naik MRT dari sana. Naik MRT harus punya kartu, kalau ngga bakal tekor banget pake single journey ticket. Ada dua jenis kartu, EZ-Link dan STP (Singapore Tourist Pass). EZ-Link kartu yang bisa di-top up, setiap diunakan saldonya akan berkurang. Sedangkan STP adalah kartu yang diperuntukkan untuk turis yang ingin mengeksplore Singapore lebih banyak tanpa harus menghabiskan banyak biaya. Ada 3 jenis, 1-day pass, 2-day pass, dan 3-day pass. Saya sendiri pilih STP dengan 3-day pass, tarif per hari $8, 3 hari $24 + $10 untuk deposit kartu (dan ini dapat di-refund).
STP Card
STP sudah ditangan, tujuan pertama saya hostel tempat saya menginap, daerah sekitar MRT Lavender, King George’s Avenue. Hujan cukup deras sempat menahan saya di stasiun MRT sebelum akhirnya saya menerobos hujan.

Hostel (tempat saya menginap) yang sebelumnya saya book melalui salah satu web ini sangat hommy sekali suasananya walaupun sekamar isi 8 orang. Dengan fasilitas yang memadai, cukup lah untuk sekedar tempat istirahat.

Setelah hujan reda, akhirnya saya mulai jalan, sempat mengeksplore Orchard, Somerset, dan Marina Bay sebelum akhirnya kembali ke Hostel.

D2: Feel Like Singaporean
Esok harinya, pengen nih liat Merlion, karena dekat dengan Marina Bay Sands, akhirnya saya turun di stasiun MRT Bayfront, dan sebuah kesalahan besar karena saya harus jalan kaki ke seberang sana, dan itu bener-bener gempor segempor-gempornya.. Liat peta MRT lagi, eh, ternyata lebih dekat kalau turun di Esplanade…
Merlion
Selesai ambil gambar, ternyata dapat teman baru, diajaklah ke Little India, Mustafa lebih tepatnya. Cuma beli coklat sama earphone $7 yang suaranya ga karuan ternyata. Oh ya, kalau mau ke Mustafa, sebaiknya naik MRT turun di Farrer Park, itu lebih dekat daripada turun di MRT Little India, karena harus nyambung bus lagi.
MRT underground Station
Dari sana kami jalan ke Orcard, kali ini lebih menghayati (?) karena kami menyusuri Orchard dengan jalan kaki. Selesai Orchard, ke Somerset lagi, karena foodcourtnya enak disana makanannya. Dari Somerset, akhirnya ke Marina Bay Sands, ada Wonder Full Show, itu loh yang perpaduan air dan laser beam. Keren banget ini!
Wonder Full Show
Pertunjukkan selesai, akhirnya kami menuju Bugis Street, banyak merchandise khas Singapore disana, kaos, keychain dll.

Capek juga seharian jalan, eh bukan capek, tapi capek sekali. You know what, orang Singapore suka sekali yang namanya jalan kaki, dan itu jalannya ga nyantai tapi cepet. Kenapa? Karena waktu sangat berharga disini, bahkan eskalator di stasiun MRT bergerak 2 kali lebih cepat daripada eskalator di mall-mall. Waktu 1-2 menit sangat berharga, bahkan banyak yang rela berlari-lari ngejar MRT daripada menuggu MRT selajutnya yang ‘hanya’ jeda sekitar 3-5 menit.. *merenung

D3: In the Mid Night
Hari ini waktunya ‘me time’, pengen lah jalan-jalan sendiri menikmati Singapore. Keluar dari hostel, saya menuju ke Raffles, pengen liat Singapore river. Sampai disana, dan karena dollar sudah tidak memadai, akhirnya saya menuju sebuah ATM untuk tarik tunai, dan langsung ke river sesudahnya.
Singapore River
Biasa aja sih rivernya, cuma ya itu, BERSIH. Ga ada sampah daun apalagi sampah plastik, dan ikan-ikan disana juga hidup tenang karena ada larangan ‘No Fishing’. Sampai di jembatan yang akhirnya saya memberanikan diri untuk menyeberang jembatan dan Alhamdulillah saya selamat tanpa kurang suatu apapun (jangan ketawa), sampai di Asian Civilization Museum, lokasi startnya Amazing Race Asia season 2.
Asian Civilization Museum
Dari sana, lanjut jalan kaki, mau ke Esplanade. Dan ternyata Esplanade jauh terlihat lebih bagus dari jauh dan pada malam hari, haha. Gedung ini digunakan untuk pertunjukkan-pertunjukkan seni. Perjalanan dilanjutkan ke Merlion, tapi dari arah yang berbeda, karena ingin naik bus menuju HarbourFront dari sana.

Sekitar 15 menit perjalanan, sampailah di Harbour Front, Vivo City Mall tepatnya. Inilah gerbang menuju Sentosa Island. Ada 4 akses menuju Sentosa, pertama naik kendaraan pribadi/taxi, ini bakal langsung sampe. Kedua naik trem, dengan biaya $3, trem atau monorel ini akan mengantarkan Anda ke Sentosa dalam waktu tidak sampai 5 menit. Ketiga, cable car, saya kurang tahu berapa biayanya, lebih mahal dari trem yang pasti, cable car ini kalau bahasa Indonesianya kereta gantung. Buat saya big NO untuk kereta gantung.. Dan yang terakhir lewat Sentosa Boardwalk, menyusuri jembatan sejauh kurang lebih 600 meter, dan hanya bayar $1.
Sentosa Boardwalk
Sentosa Boardwalk
Sentosa Boardwalk
Selain karena lebih murah, saya memilih boardwalk karena juga ingin menikmatik pemandangan sepanjang perjalanan.
Universal Studios Singapore
Sampai di Sentosa, cuma ingin sekedar tahu dan ambil foto sih, Universal Studio? Nanti dulu deh, kalo sendirian ga seru, haha.

Lumayan laper dan capek juga, karena udah males jalan, pengen naik trem baliknya, gratis ini, haha. Sampai di Vivo City langsung cari makan.
Inside Monorail
Dari Vivo City, rencananya ke Labrador Park, dan sampai sana ternyata hujan, ya udah deh. Trus pindah ke Jurong East, masih ujan juga. Ini kerjaan iseng sih, udah mulai ngantuk akhirnya naik MRT dari Jurong East ke Kranji, sekedar ngecek bus untuk ke Malaysia besoknya. Ngecek udah, akhirnya naik MRT lagi, begitu naik, hujan lagi, dan tertidur..

Begitu terbangun, tau-tau udah nyampe City Hall, sampe sana ganti jalur MRT lagi, dan mengarah ke Jurong East lagi, sumpah ini iseng abis, hujan terus sih. Di peta MRT ada tulisan Chinese Garden, coba ah kesana, kali aja bagus. Dan ternyata lumayan lah, free admission pula.
Chinese Garden
Kembali lagi ke Marina Bay Sands, saya selalu senang menghabiskan sore disini. Dapat temen baru lagi yang ternyata satu kampus, haha.
View from Marina Bay Sands
Malamnya, nyempatkan keliling di Clark Quay, ketemu lagi sama teman yang kenal di pesawat, udah jam 9an, diajakin ke Mustafa. Sudah hampir jam 12 malem, ga selesai-selesai dah..

Ngejar MRT ga dapet, nunggu bus ga dateng-dateng, dan ternyata busnya udah ga ada jadwalnya lagi..

Duit cash tinggal $7, ATM ga ada, udah tengah malam, naik taksi mana cukup, dan akhirnya.. Saya jalan kaki dari Farrer Park sampai Lavender, yak jalan kaki menempuh jarak sekitar 1,3 KM!
Walking Distance
Ya walaupun Singapore relatif aman, tapi ya kalo udah tengah malam serem juga. Jalan kaki menyusuri Serangoon Rd dari Sri Srinivasa Perumal Temple, sampai di persimpangan berbelok ke kanan, Lavender Rd. Udah Lavender memang, tapi Lavender Rd itu panjang. Sepanjang jalan melewati bar bar, night club, dsb. rada-rada deg deg, tapi untungnya ga ada yang ganggu..

Setelah bertanya-tanya, akhirnya sampailah saya di King’s George Avenue Rd, seperti menemukan oase di tengah padang pasir rasanya..

Sampai hostel mandi, ngguyur kaki pake air hangat, trus tidur..

D4: Hard Walking
Hasil jalan kaki semalam adalah menumpuknya asam laktat pada persendian kaki, bahkan jalan kaki aja mirip orang habis disunat..

Karena papa minta tolong buat dicariin harga sebuah gadget, maka pergilah saya ke Sim Lim Square setelah saya check-out dan menitipkan barang bawaan saya di hostel.

Sampai di Sim Lim, mulailah berkeliling, memperhatikan toko-toko yang siapa tau menjual gadget tersebut. Hampir dua jam, ternyata ga ada satu toko pun yang menjualnya, wah kok bisa..

Sebenernya ada sih gadget inceran saya, setelah tau harganya, malah lupa kalo di Indo harganya berapa, ga jadi deh..

Keluar dari sana, saya menuju Orchard Rd, pengen aja jalan-jalan di sana, sampai akhirnya waktu Dzuhur udah dekat, saya menuju ke Arab St dan cari masjid untuk Jum’atan.

Setelah itu, segera saya kembali ke hostel buat ngambil backpack dan seluruh bawaan saya. Hari ini jadwalnya untuk pindah negara, melalui Kranji-Woodlands, saya akan menuju Melaka via Johor. Setibanya di MRT Kranji, saya turun dari MRT, dan menunggu bus CauseWay 1. Bus ini adalah penghubung antara Kranji (Singapore) dan Larkin, Johor (Malaysia), tarifnya $0.80

Bus dari Larkin membawa saya menuju Woodlands CIQ Check-point. Setelah turun dari bus, semua penumpang diharuskan untuk melewati imigrasi Singapore. Selesai dari imigrasi, penumpang naik bus lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Johor. Sampai Johor Check-point, penumpang turun lagi untuk melalui imigrasi Malaysia. Setelah itu, penumpang naik bus lagi untuk menuju terminal bus Larkin.

Di Larkin, setelah bertanya-tanya, saya membeli tiket bus untuk ke Melaka. Dengan RM 19, saya akan sampai di Melaka dalam waktu 3 jam.

Tiga jam kemudian..

Melaka Sentral, akhirnya sampai juga di terminal bas ini.
Lapar sudah tidak tertahankan, makan pun sudah tidak bisa ditunda, setelah menemukan rumah makan yang cocok, akhirnya saya mengisi perut dengan nasi campur + Teh O’ Suam. Alhamdulillah.

Sebenarnya saya juga menunggu teman saya yang baru kembali ke Melaka dari rumahnya di Balikpapan. Sambil menunggu, karena BB roaming (gratis) sudah ga aktif, saya beli SIM Card seharga RM 5 isi pulsa RM 2 + Top Up RM 5.

Tak berapa lama kemudian, teman-teman saya datang, Selamat Datang ke Melaka :D

Bridge of Lights

Bridge of Lights - P!NK
OST. Happy Feet 2


When you think
Hope is lost
And giving up
Is all you got,
Blue turns black,
Your confidence is cracked,
There seems no turning back from here

Sometimes there isn't an obvious explanation
While the holiest stars can feel the strongest palpitations

That's when you can build a bridge of light,
That's what turns the wrongs all right
That's when you can't give up the fight

That's when love turns nighttime into day,
That's when loneliness goes away,
That's why you gotta be strong tonight,
Only love can build us a bridge of light

When your feet are made of stone
You're convinced that you're all alone
Look at the stars instead of the dark
You'll find your heart shines like the sun
Let's not let our anger get us lost
And the need to be right comes at way too high a cost

That's when love can build a bridge of light
That's what turns the wrongs all right
That's when you know it's worth the fight

That's when love turns nighttime into day
That's when loneliness goes away,
That's why you gotta be strong tonight
'cause only love can build us a bridge of light

Deep breath, take it on the chin
But don't forget to let love back in

That's when love can build a bridge of light
That's what turns the wrongs all right
That's when you can't give up the fight

That's when love turns nighttime into day,
That's when loneliness goes away
That's why you gotta be strong tonight
'cause only love can build us a bridge of light

Only love can build us a bridge of light...

---

Just watched Happy Feet 2, great movie and very entertaining. Watch in your favourite theater soon before it sunk by some new movies :)

One Day Vacation: Tangkuban Parahu

Since Jatinangor being extremely quiet, I always decided to leave this place. The first one was last February, I went to Yogyakarta with Ebby by my bike. The second was when my mom phoned me then she asked me if I wanna go home, then I said yes. The third one was yesterday. This week should be the end of final tests according to my campus schedules, but because of some unpredictable ‘things’ my faculty have different schedule, and my tests will be started at the beginning of 2012, what the...

After finished my damn lots laundry, Reza and I leave Jatinangor for Bandung, we have decided where to go but still unsure yet because of traffic. Arriving at Unpad DU, which was our check point, we waited for another participant, Retna. While waiting, we were looking for some snacks and drinks. Unfortunately, Reza took failed production of a bottle vit-C, we can’t even open the cap just because the seal was broken, it’s keep rotating with the cap. Struggling with the cap for half an hour, finally I took the pliers, and voila! It’s open..

Done with Dzuhur prayer, Retna have just arrived. Having short conversation, then we depart to Punclut which was our next check-point for lunch. Because none of us have ever been there, we use Google Maps supported with GPS from their Androids (well, I’m not interested enough to Android, I’ll buy an iPhone, LOL). Following the GPS, but suddenly get loss (GPS weren’t help enough), we clogged at the end of roads. Asking locals with Sundanese Accent, we got new direction.
Mount Geulis (in the middle) - View from Punclut
Arrived at Puclut, we saw many of Lesehan Restaurant, as always, we choose the crowded one which seems to be popular, LOL. Having seated on tikar (floormat made from braided plastic) we ordered Roasted Chiken, Lalapan (traditional salad), Brown Rice, and Es Dwegan (Fresh opened coconut). The food was just ordinary tasted, but the view was wonderful. At that high we can see entire Bandung, even I can took picture of Geulis Mt. located at Jatinangor.

Leaving Punclut, our next destination was Bosscha Observatory, but due to traffic we turn to another place, Tangkuban Parahu Mt. Last time I visited Tangkuban Parahu was more than a decade ago, this gonna be nostalgic one. Riding for about 10 kilometers to north, slow but sure the weather became drizzly, also fog covered our visibility.

At the entrance gate of Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu, the officer was asked three of us for IDR 49,000! (IDR 13,000 per domestic visitor, IDR 5,000 per bike) Too expensive we think, even international visitor should pay IDR 50,000 per ticket for a person! This is a robbery!

Forget about that..
From entrance gate, there’s still some kilometers away to Tangkuban Parahu, the road was wide enough for just two cars, fogs getting thicker and thicker. After 15-20 minutes riding we arrived at the place. In the parking lots, a person asked us to pay (again) IDR 2,000 per bike for parking, bzzz….

Getting around we the crater, but lil bit hard because fogs covering them, but a few minutes later the fogs was away and we could see the crater.
Almost two hour we spend at TWA Tangkuban Parahu also due to it’s operation hour till 5.00 PM finally we leave the TWA.

One hour later we arrived at Masjid Al Furqan at Universitas Pendidikan Indonesia (University of Education Indonesia). We took Maghrib prayer there. I was so exhausted, maybe due to the journey also I haven’t sleep last night, I slept there for about 15 minutes.

Our next destination was looking for a dinner, browsing through the internet, we depart to Gepuk Ny. Yong. As soon as we leave UPI, suddenly the skies fall, it’s raining hard! Step aside and wearing raincoat, we continue our journey, but then we found that Ny. Yong Restaurant was close so then we heading to D’Cost at BIP.

This is the end of the note (Seems familiar, huh? LOL) :D

What are We Doing at Our Age?

Lama nih ga nulis review film, biasanya film yang saya review itu film yang sangat-sangat menginspirasi, hehe.

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan untuk pergi ke bioskop, yah sekedar melepas penat, sekaligus melakukan kunjungan karena udah lama ga ke bioskop (?) Haha.

Blitzmegaplex Paris Van Java, satu-satunya bioskop jaringan Blitz yang hadir di Bandung memang selalu menyajikan pilihan-pilihan film yang jauh lebih bervariasi dari bioskop tetangga. Selain film-film Box Office, ada juga film Bollywood, Indie, dan Thailand.

Film “The Billionaire (วัยรุ่นพัน)” yang merupakan film produksi GTH Studio Thailand ini diangkat dari kisah nyata. Beruntung salah seorang teman saya berhasil memberi pancingan supaya saya nonton film itu, good job, haha.
Saat itu saya tiba di PVJ sore hari, dan mendapatkan tiket untuk pukul 6.55PM, wah masih lama, mana ngantuk juga, duh. Ya udahlah jalan-jalan sana sini, dan habislah waktu itu.

WARNING! SPOILER ALERT!

Adegan film dimulai dengan setting di sebuah kantor, seorang pemuda duduk menghadap manajer keuangan di bank. Pemuda itu bernama Itthipat Kulapongvanit, ia berusaha untuk menceritakan tentang dirinya.

Top, demikian sapaan untuk Itthipat Kulapongvanit, seorang remaja berusia 16 tahun, penggemar game online. Suatu saat ada seorang rekan virtualnya yang ingin membeli asesoris untuk karakter di game onlinenya. Singkat cerita, diterimalah tawaran itu, dan Top medapat imbalan sebesar SGD 500 yang setara dengan THB 12,000. Untuk 1 item saja ia bisa mendapatkan uang sebesar itu dan ia masih mempunyaI item-item yang lainnya, pasti bisa dapat uang banyak, demikian imajinasi si Top.

Hari-hari berlalu, semakin banyak uang yang ia dapat dan pada suatu saat ia pun bisa membeli sebuah mobil.

Namun, di sisi lain, orang tuanya tidak suka dengan tingkah laku Top yang suka menghambur-hamburkan uang. Sementara ia juga harus mulai belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Pada suatu hari, ia pergi ke toko elektronik dan membeli satu unit PS2 dan DVD player. Ketika membawa pulang barang-barang tersebut, orang tuanya kembali marah, dan kemarahannya ditambah ketika mereka tahu bahwa Top tidak diterima di perguruan tinggi negeri. Sebenarnya orangtuanya sangat khawatir, namun Top berkata, “I can take care my self, I don’t need your money” kepada orangtuanya..

Ia pun kembali melanjutkan ‘bisnis online’nya, menjual item-item dari game online. Namun ternyata akunnya telah diblokir karena diketahui untuk digunakan secara komersil.

Tidak kehilangan akal, dengan sisa uang tabungannya, ia membeli set DVD di toko elektronik tadi dengan harga yang lebih murah untuk dijual kembali. Sesampainya di rumah, ketika ia mencobanya ternyata ia ditipu oleh penjual, semua DVD tersebut rusak. Ia kembali ke toko dan membentak si penjual, singkat cerita, Top pulang dengan luka memar di wajahnya.

Di mobil ia melihat ayahnya sedang berjalan pulang, ia mengajaknya untuk naik bersama di mobilnya. Ketika di mobil, ayahnya pun berkata, “Life isn’t fun as playing online game”. Ayahnya pun mengatakan, ia akan membiayai dimanapun Top ingin melanjutkan pendidikannya, namun karena sifat Top yang keras kepala, ia menolaknya, ia tidak ingin dibiayai oleh ayahnya.

Cerita ini diwarnai oleh hadirnya Lin sebagai kekasih Top, akan saya ceritakan di beberapa bagian berikutnya.

Beberapa bulan kemudian Top masuk ke kelas di sebuah universitas, tapi darimana ia dapat biaya untuk kuliah?

Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia mengambil jimat milik orangtuanya dan menggadaikannya untuk biaya kuliah, dan ia mendapatkan THB 100,000.

Ya, Top memang kuliah, tapi hari-harinya dihantui dengan bayangan bagaimana ia bisa mengembalikan THB 100,000 ke orangtuanya.

Suatu hari ketika sedang kelaparan, ia pun mengajak pacarnya, Lin untuk pergi makan bersama, namun ternyata Lin sedang sibuk untuk pementasan drama, dan akhirnya pergilah si Top sendirian.

Di perjalanan, ia melihat banner bahwa sedang ada festival makanan, ia pun kesana. Karena sedang festival, maka banyak makanan gratis, dan makanlah ia disana. Sambil menikmati makanan-makanan gratis, ia mengamati mesin-mesin yang memproduksi makanan dan ia tertarik dengan satu mesin pembuat cheese-nut yang akhirnya ia putuskan untuk menyewanya.

Lagi-lagi orangtuanya marah, karena mereka lebih suka jika Top lebih serius ke kuliahnya.

Kemudian Top melakukan survey ke beberapa penjual cheese-nut, mengamati bagaimana proses pembuatan dan pengolahannya, dan mencoba mempraktekannya di rumah. Ternyata percobaanya berhasil menghasilkan cheese-nut yang enak.
Ia pun pergi ke sebuah mall dan menyewa sebuah tempat untuk menjual cheese-nut-nya, dibantu pamannya, ia memulai usahanya.

Hari pertama, karena ia harus kuliah, maka pamannya yang berjualan. Namun hanya mendapat sekitar THB 100 pada hari itu. Ia pun mengajari pamannya untuk menarik pelanggan lebih, dan belum membuahkan hasil sedikit pun.
Beberapa hari berikutnya, ketika ia sedang mengantar Lin berbelanja untuk perlengkapan drama, ia melihat teknik bagaimana para penjual menarik konsumen, ia juga mempelajari bagaimana pengaruh lokasi terhadap jumlah pedagang. Yang akhirnya membuat ia berpikir untuk memindahkan lokasi kedainya ke tempat yang lebih sering di kunjungi orang.
Ketika ia berhasil mendapatkan pelanggan lebih banyak setelah memndahkan kedainya, Lin pun datang ke mall dan ia baru mengetahui kalau Top berjualan cheese-nut, Top pun malu, namun Lin tetap mau menerimanya. (Udahlah ya, saya susah menguraikan kisah-kisah cinta, haha)

Karena satu kedai berhasil, ia berniat untuk membuka beberapa kedai lagi supaya keuntungan maksimal. Sepuluh kedai berhasil ia dirikan di mall itu. Hasil yang didapat pun sesuai harapan.

Bersamaan dengan itu muncul sebuah masalah, ternyata kedai cheese-nut yang menghasilkan asap dari pengolahan makanan tersebut membuat langit-langit mall menguning, dan manajer meminta pertanggung jawaban. Top akhirnya menyanggupi untuk mengecat ulang. Sampai larut malam, ia ditemani ibunya. Pekerjaan belum selesai, namun waktu telah habis dan ia telah ditegur oleh keamanan untuk segera pulang.

Karena belum selesai dan ia harus pulang, ia pun ingin melanjutkan pekerjaannya besok. Dan ternyata ibunya berkata, “Sudah tidak ada waktu lagi, besok kau harus mengurus paspormu”. Top terheran, ternyata mereka akan pindah ke China untuk tinggal bersama saudara-saudaranya. Mereka pindah karena orangtuanya terjerat hutang oleh bank yang membuat seluruh asetnya disita..

Esoknya ketika pembuatan paspor, Top berkata kepada orangtuanya, ia memilih untuk tetap tinggal dan bersekolah. Orang tuanya merestuinya..

Sepeninggalan orangtuanya, Top kembali dirundung masalah, manajer mall mengatakan bahwa seluruh kedai cheese-nut milik Top harus dikeluarkan, karena merusak atap. Usaha cheese-nut Top pun terhenti..

Di suatu hari, Lin mengajak Top untuk makan bersama, membeli jajanan yang dulu sering mereka beli ketika SMA. Diperjalanan Lin membawa snack rumput laut yang rasanya membuat Top untuk memikirkan usaha yang baru.

Ia memulainya dengan menanyakan kepada penjual bagaimana cara mengolahnya, dan mempraktekkannya. Bersama pamannya, ia telah menghabiskan puluhan kardus rumput laut unutk digoreng, namun hasilnya tidak memuaskan karena rasanya pahit. Namun Top tetap yakin, pasti mereka dapat menemukan cara yang tepat.

Sampai pada suatu hari, ketika Top kembali dari membeli rumput laut, ia mendapati pamannya telah tergeletak pingsan di dapur. Dengan segera ia melarikannya ke rumah sakit, beruntung pamannya masih bisa diselamatkan.

Ketika pamannya di rumah sakit, ia kembali ke rumah untuk mencoba menggoreng rumput laut, namun tetap saja gagal, ia telah menghabiskan satu kardus dan tidak ada lagi yang tersisa.

Sementara ia melihat-lihat, ia menemukan sebungkus rumput laut yang terjatuh, ia mengambilnya dan mencobanya, dan ternyata enak.

Setelah tahu caranya, ia mulai produksi, namun rumput laut hanya awet sampai beberapa hari saja setelah itu basi.

Sampailah ia ke sebuah sekolah pertanian dan pengolahan pangan, di sana ia meminta seorang dosen untuk membantunya memberikan pengetahuan bagaimana supaya makanan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.

Karena rumput laut goreng berminyak, maka ia akan mengalami proses oksidasi yang disebabkan adanya oksigen di dalam kemasannya, oleh karena itu oksigen harus dikeluarkan (dibuat hampa udara) lalu dimasukkan Nitrogen.

Setelah mengetahui caranya, ia memulai prosesnya, dan ternyata dagangannya laris.

Karena sibuk memikirkan usahanya, ia sering meninggalkan kuliah dan menitipkan tape recorder kepada temannya, supaya tidak terlewat bahan yang diajarkan.

Suatu malam, ia pergi ke sebuah waralaba retail, 7-eleven, dan mendapatkan ide untuk memasarkan rumput lautnya di 7-Eleven.

Pergilah ia ke kantor 7-Eeven setelah membuat janji. Menunggu cukup lama dan akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan produknya. Namun fakta berkata lain, ternyata produk milik Top belum siap jual, baik dari segi ukuran, harga, maupun desain kemasan.

Sekembalinya, ia mencoba untuk mendesain ulang kemasan dan kembali lagi ke kantor 7-eleven. Menunggu sekian lama, namun orang yang ditunggu tidak datang juga, dan akhirnya ia pulang membawa rumput lautnya.

Di lift, ia melihat seorang petugas dan memberikan rumput lautnya kepada petugas tersebut.

Pulang dengan keputus asaan, ia menelpon ibunya, dan curhat...

Dan siapa sangka, ternyata rumput laut yang diberikan kepada petugas di lift pun sampai ke tangan manajer dan dinyatakan diterima untuk dipasarkan di 7-Eleven. Dalam beberapa minggu ke depan ia harus memproduksi 72,000 kemasan untuk dipasarkan ke 3,000 cabang 7-Eleven. Akhirnya...

Dan beberapa minggu ke depan, perusahaan juga akan melakukan kunjungan ke pabriknya, untuk menilai GMP (Good Manufacturing Practice).

Itulah yang menjadi sebab Top datang ke Bank, ia ingin mengajukan pinjaman untuk membangun pabrik. Namun, karena Top masih berusia 19 tahun, bank tidak dapat memberikannya dengan alasan belum cukup umur..

Ia teringat orangtuanya pernah punya sebuah ruko, yang akhirnya membuat Top untuk membangun pabrik disitu. Dengan memperkerjakan beberapa tukang, ia dapat menyelesaikan pabrik dalam beberapa hari.

Ketika pihak 7-Eleven datang untuk menilai GMP, mereka masih menemukan beberapa kekurangan. Dan hasilnya pun akan diberitahukan dalam beberapa hari melalui fax.

Di hari itu, ia menerima sebuah fax yang menyatakan bahwa produknya disetujui untuk dipasarkan di 7-Eleven.

Berkat produknya, Top berhasil melunasi hutang orangtuanya di bank dan mereka masih tinggal di rumah yang sama sampai saat ini.

Produk yang dibuat oleh Top telah diekspor ke 27 negara, dan sampai tahun 2010 telah memperoleh laba sebesar THB 1,5 milliar.

Pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan produk buatan Top ini, karena produk yang bermerek TAO KAE NOI ini dapat dengan mudah kita jumpai di supermarket :)
Top Itthipat - "Tao Kae Noi" Owner
Tao Kae Noi
---
Saat usia 16, dia adalah pencandu game online.
Saat usia 17, ia putus sekolah untuk menjadi penjaja kacang.
Saat usia 18, keluarganya bangkrut dan meninggalkan hutang sebesar 40 juta Baht.
Saat usia 19, dia menciptakan cemilan rumput laut 'Tao Kae Noi' yang dijual di 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.
Kini, di usia 26, ia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf.

What are we doing at our age?

Mobile Version


QR-Code
Scan this using Beetag or directly click on the picture

Just Say It . . .

Jangan asal copy paste


... karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Sponsor

Archives

Time and Date . . .


Waktu Indonesia Barat
GMT: + 07.00

Followers

Sitemeter