Sunday, February 22, 2009

Filled Under:

Indonesiaku . . . (part 1)

Sunday, February 22, 2009

Indonesia adalah negara yang kaya, kekayaan ini tidak semata-mata dilihat dari segi materi seperti sumber daya alam misalnya, namun kekayaan juga bisa dipandang dari segi non materi. Keanekaragaman budaya, bahasa, suku juga merupakan bentuk kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Sebagai warga negara sudah seharusnya kita turut menjaga dan melestarikan kekayaan tersebut. Tidak hanya itu, kita juga sepatutnya memproteksi kebudayaan kita agar tidak asal di-copy paste oleh negara lain. Tentu saja kita masih ingat peristiwa beberapa waktu lalu, ada salah satu kebudayaan kita yang di-klam oleh negara lain sebagai budaya mereka, padahal sudah jelas-jelas kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Indonesia.

Reaksi masyarakat Indonesia terhadap kejadian itu bisa dilihat dari banyaknya demo-demo yang dilakukan, termasuk salah satunya demo di kantor kedutaan besar negara yang mengklaim budaya tersebut (saya tidak akan menyebutkan negara terebut untuk menghindari konflik). Pertanyaannya adalah, kenapa baru saat-saat seperti ini masyarakat Indonesia ‘bereaksi’?

Peng-copy paste-an budaya tersebut tentu saja terjadi karena suatu sebab, bisa saja mereka tidak punya budaya asli sehingga harus meng-copy paste budaya kita untuk meningkatkan devisa negara mereka dari sektor pariwisata, namun sebenarnya ada penyebab lain. Yaitu karena KITA TIDAK MENJAGA DAN MELESTARIKAN BUDAYA KITA SENDIRI. Ya, karena hal tersebut maka negara ‘pencontek’ melihat peluang yang cukup bagus untuk ‘mengadopsi’ budaya kita. Sehingga terciptalah budaya ‘asli’ negara mereka yang sebenarnya adalah CONTEKKAN dari negara kita.

Kita juga pasti tahu tentang peristiwa lepasnya dua pulau yang berinisial “L” dan “S” dari NKRI. Dan beberapa tahun lalu, terjadi lagi pengklaiman oleh negara lain atas blok Am*****. Padahal sudah jelas-jelas daerah tersebut adalah daerah kekuasaan NKRI. Kenapa hal-hal ini bisa terjadi? Di sini saya tidak menyalahkan TNI yang sudah bekerja keras menjaga wilayah perbatasan NKRI. Tetapi tentu saja tidaklah cukup hanya TNI yang menjaga wilayah perbatasan. Dukungan yang ekstra dari pemerintah juga diperlukan, yakni dukungan pemerintah kepada masyarakat Indonesia (terutama yang berada di wilayah perbatasan) dalam rangka membangun daerah perbatasan. Dengan begitu secara tidak langsung daerah perbatasaan akan lebih terpantau dan tentunya aman dari ‘pencaplokan’ wilayah.

Ada peristiwa lain yang penyebabnya juga akibat dari kurangnya perhatian pemerintah dalam menjaga wilayah NKRI. Ingat dengan peristiwa penjualan pasir secara illegal ke negara lain? Pasir dari salah satu pulau terluar di Indonesia dijual ke negara lain yang mengakibatkan ‘tenggelamnya’ pulau terebut. Pasir itu digunakan oleh negara pembeli untuk ekspansi wilayahnya. Yang notabene ekspansinya menyebabkan bergesernya garis batas antarnegara ke dalam wilayah NKRI.

Pada dasarnya yang diperlukan untuk menjaga bangsa kita ini ‘hanya’lah perhatian yang serius. Tentu saja serius tidak hanya dalam perkataan, tetapi yang lebih penting adalah prakteknya. Perhatian ini tentu saja tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga masyarakat. Percuma saja jika pemerintah memberi perhatian yang serius tetapi rakyat tidak mendukung. Percuma saja jika pemerintah mengeluarkan anggaran dana hingga ratusan triliun rupiah tetapi hasil pembangunan tersebut tidak dirawat. Tetapi percuma juga jika masyarakat saja yang bergerak namun perintah bersikap acuh tak acuh. Percuma jika masyarakat tiap hari berkoar-koar, berdemo, dsb dari segala arah tetapi tidak juga digubris oleh pemerintah.