Wednesday, February 25, 2009

Filled Under: ,

SPBU Curang ??

Wednesday, February 25, 2009

Kejadian ini saya alami beberapa hari yang lalu. Ketika mengisi bensin di SPBU Karanganyar – Balikpapan, saya meminta diisikan sebanyak 20.000 IDR. Setelah diisi, ternyata tidak sampai 20.000 IDR, tapi sekitar 17.900 sekian. Saya bilang, “Sudah mas, cukup” Tapi dia tidak menggubris, terus saja dia mengisi tangki sampai benar benar penuh dan tumpah. Ketika itu, angka menunjukkan 18.135 IDR pada monitor. Sebelumnya saya telah memberikan uang tunai sebesar 20.000 IDR. Tapi ternyata saya hanya diberikan kembalian sebesar 1.500 IDR. Loh, seharusnya kan 1.865 IDR, karena tidak mungkin saya hanya mengharapkan kembalian sejumlah 1.700 IDR. Tetapi dia tidak memberikannya, padahal saya melihat dengan jelas bahwa dia memiliki uang koin pecahan 200 IDR. Tapi saya hanya dikembalikan 1.500 IDR.

Dengan sedikit agak kesal saya meninggalkan SPBU tersebut. Kenapa hanya dikembalikan segini, padahal seharusnya lebih. Saya tidak akan mempersalahkan jika bensin yang saya beli senilai 18.459 IDR atau bahkan 18.400 IDR pun tidak apa. Tapi ini terlalu banyak selisih. Sebenarnya bukan nominal uang yang saya permasalahkan, tapi ini masalah kejujuran.

Jumlah uang yang disetorkan kepada pemilik SPBU oleh petugas tentu saja sesuai dengan kalkulasi penghitungan pada mesin pompa. Mau berapa rupiah pun yang akan disetorkan jumlahnya harus tepat dengan yang tertera di rekapitulasi mesin pompa. Jika dia kalkulasi menjukkan 3.434.050 IDR, maka jumlah yang disetor pun harus sama, tidak kurang juga tidak lebih. Lalu kemana selisih dari kembalian yang kita terima dengan rekapitulasi mesin? Tentu saja masuk kantong.

Kita bisa membuat kalkulasi, jika seorang petugas mengisi bahan bakar 200 kendaraan sehari, dan selisih kembalian yang diberikan dengan yang tertera di monitor adalah 150 IDR.

200 kendaraan x 150 IDR = 30.000 IDR per hari
30.000 IDR x 30 hari = 900.000 IDR per bulan !!

Lihat, betapa banyaknya uang yang mereka dapatkan dari selisih kembalian tersebut. Sembilan ratus ribu rupiah bukanlah jumlah yang sedikit. Mereka bisa menambah penghasilan dari cara yang tidak halal tersebut.

Mungkin sebagian dari konsumen SPBU merasa kecewa dengan hal tersebut, termasuk saya. Lagi-lagi bukan masalah uang tapi terlebih kepada beban moral. Kebiasaan ini harus dihilangkan, walaupun kelihatannya sepele tetapi ini sangat penting. Karena perilaku ini adalah bentuk kecil dari tindak pidana KORUPSI. Ingat segala sesuatu berawal dari hal-hal kecil.

Saya sangat mengharapkan agar para petugas SPBU memberikan uang kembalian yang sesuai atau paling tidak mendekati nominal yang harus dibayarkan. Dan uang yang dikumpulkan dari selisih tersebut alangkah baiknya jika disumbangkan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Selain beramal untuk diri sendiri, secara tidak langsung para petugas SPBU pun membantu para konsumen untuk beramal.