Tuesday, June 16, 2009

Filled Under:

What happened . . .

Tuesday, June 16, 2009

Ini adalah hari kedua dimana hujan yang sangat deras sudah turun sejak kemarin, tidak hanya hujan namun juga disertai badai dan petir yang menggelegar. Tidak tahu apa yang terjadi, namun tiba-tiba sirine berbunyi lama sekali, kali ini bukan menandakan jam enam pagi ataupun waktu berbuka puasa. Ini adalah tanda bahwa bencana yang besar akan terjadi.

Semua orang gelisah, semua berlarian menuju tempat tinggalnya masing-masing. Ada instruksi dari polisi militer bahwa semua orang harus segera bersiap-siap dan mem-packing barang-barangnya karena akan dilakukan evakuasi besar-besaran. Semua orang panik, tidak terkecuali saya. Pada saat itu saya sedang makan di sebuah rumah makan dan mendengar berita seperti itu.

Saya langsung pulang untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan keluarga saya. Di rumah saya dapati mereka sedang tertidur pulas, lalu saya langsung membangunkan mereka dan mengatakan apa yang akan terjadi. Lalu kami segera bersiap-siap.

Di daerah lain, teman-teman saya pun juga begitu, mereka masing-masing sibuk bersiap-siap. Hujan bertambah deras, petir semakin mengggelegar dengan ganasnya. Semua orang semakin panik, jalanan sepi, bagai kota mati, ditambah dengan tidak adanya suplai listrik dari PLN, seluruh kota gelap. Hanya beberapa bangunan megah yang masih bercahaya dengan sumber listrik dari generator, itupun tidak semua lampunya menyala.

Ketika harus pergi pada malam hari, tidak diperbolehkan pergi sendiri, setidaknya harus lima orang pergi bersama-sama, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Malam semakin larut, tapi saya dan teman-teman harus pergi ke suatu tempat untuk menjemput teman-teman kami yang lain.

Berbekal senter seadanya, kami pergi menyusuri kota yang sudah sangat gelap, hanya cahaya senter yang menemani. Di sepanjang jalan kami mendapati beberapa pasang mata mengamati gerak-gerik kami, seperti serigala yang akan menerkam mangsanya. Tapi kami tahu, mereka adalah intel dan beberapa polisi militer yang bertugas mengamankan kota.

Hari ketiga, hujan juga belum berhenti, namun anehnya tidak ada banjir sama sekali, padahal biasanya daerah ini selalu banjir. Kami seluruh warga kota sudah siap dengan evakuasi yang akan dilakukan, masing-masing orang telah menunggu di tempat yang telah ditentukan. Kendaraan-kendaraan pun sudah siap, semua orang masuk ke dalam kendaraan, beserta barang-barang bawaannya.
Karena saya termasuk sebagai regu yang mengawasi penduduk agar jangan sampai ada yang tertinggal. Kendaraan-kendaraan pun mulai berangkat, entah kemana ke tempat yang lebih tinggi atau rendah, kami mempercayakan semua pada polisi militer dan rekan-rekannya. Tersisa satu kendaraan, semua orang sudah masuk, kendaraan tersebut mulai berangkat. Tanpa disadari mereka telah meninggalkan saya sendiri di kota itu, saya pun mulai putus asa, berharap dan berdoa agar saya bisa selamat.

Tiba-tiba petir menyambar sebuah gedung yang tepat berdiri di belakang saya, gedung itu pun mulai roboh, saya tidak menyadari hal itu pada awalnya, namun saya dikejutkan oleh jatuhnya sebuah kaca jendela di depan saya.

Berusaha melarikan diri, namun gedung jatuh lebih cepat, dan saya tiba-tiba saya terkejut . . . . . .
- - -

Astagfirullah, ternyata semua itu hanya mimpi, mimpi buruk yang aneh tapi seolah nyata, sangat terasa nyata, dan sampai saat ini saya masih berdebar-debar jika mengingat mimpi itu. Apalagi pas bangun tidur juga denger suara sirine polisi gitu . . . Hhhhh . . .
Mudah-mudahan itu semua memang hanya sebuah bunga tidur. Sudah ya, saya mau bimbel dulu . . . ^_^