Thursday, July 09, 2009

Filled Under: ,

Enam jam di bandara . . . (PART 1)

Thursday, July 09, 2009

Kemarin pas gw di bandara (mau balik ke BPN), gw tiba di bandara enam jam sebelum keberangkatan. Karena ga ada kerjaan, akhirnya inilah yang terjadi . . .

- - -

Waktunya pulang, yap setelah sekian lama di Bandung demi memperjuangkan masa depan (tssaahh), di hari ke limapuluh enam ini gw balik ke Balikpapan. Berangkat dari Bandung pukul 9.20 AM (padahal gw bilang jam 10.00) dengan menggunakan jasa salah satu travel di Bandung.

Di travel gw cuma bertiga termasuk supir. Penumpang lain tersebut bernama Bobby/Bobi/Bobbi/Boby, ga tau tulisannya gimana. Ngobrol-ngobrol, ternyata dia udah kuliah, lulusan SMA 2008, dia kuliah di Unila (universitas Negeri Lampung) jurusan kedokteran, wow.

Perjalanan dari Bandung dimulai dari pintu tol Pasteur, yang dilanjutkan ke jalan toll Cipularang, Cikampek, dan Jalan Toll dalam Kota Jakarta, dan terakhir Toll Bandara. Perjalanan dimulai sekitar jam sepuluh kurang limabelasmenit. Perjalanan lancar-lancar saja, sampai suatu ketika di jalan toll dalam kota Jakarta, entah kenapa mobil yang kami naiki disuruh berhenti oleh polisi. Bla bla bla, ternyata karena mobil berada di lajur kanan lalu ke lajur kiri lalu pindah lagi ke lajur kanan, trus juga di lajur kanan juga karena kurang tinggi kecepatannya.

Setelah berdebat beberapa menit, disimplkan bahwa polisi hanya mengada-ada saja, alias Cuma pengen cari duit. Terbukti ketika sopir akan ditahan SIM/STNKnya, dia ditanya harus membayar empat puluh ribu rupiah agar SIM/STNKnya ga ditahan. Kentara banget dah ni, pengen duit aja.

Lanjut perjalanan sampai sekitar setengah jam kemudian kami tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta terminal 1A Pesawat Lion Air. Turun dari travel langsung cari trolley. Bingung, ngapain dulu nih, masih enam setengah jam lagi. Makan dulu, tapi cash habis, ke ATM dulu. Dan ternyata duit tidak bisa diambil karena saldo tidak mencukupi, yaaaaaaaahhhhh, gimana donk, jangankan buat makan, buat airport tax aja ga cukup. Ya jadinya telpon boss deh, ehehehe.

Langsung cari tempat makan pas duit dah terkirim, pengennya sih di HokBen, HokBen di terminal 2F Garuda Indonesia, ya jalan dulu deh menyusuri koridor terminal 1A. Ketika sampai di terminal 1C, loh kok mentok, bukannya nyambung sama terminal 2 ya? Ternyata prediksi gw ga tepat, kalo mau ke terminal dua musti naik shuttle bus, ah males, biar gratis juga, bawaan gw ribet. Karena di dekat situ ada A&W, ya makan disitu aja.

Selesai makan, balik lagi ke terminal 1A, ga masalah sih jalan kaki, udah biasa jalan jauh kok, hehehe. Pernah loh dari Jalan Sumur Bandung ke Pelesiran masuk, keluar lagi lanjut ke Jalan Ir H. Juanda, lanjut ke Jalan Aceh, Jalan Belitung dan sampailah di Jalan Bali. Keren kan? :D

Ngapain di luar, panas euy, masuk aja, bla bla bla, ditanyain sama satpam, “Mau kemana dek?”, “Balikpapan”, “Jangan di Baliknya di sampingnya aja”, “Ehehehe -_-“”. Antri, enak check-in disini, semua counternya melayani semua penerbangan, jadi ga sendiri-sendiri, ga dibagi-bagi berdasarkan kota tujuan. Setelah check-in, gw dapet seat di 7F, sesuai request. Bayar airport tax, airport taxnya berupa stiker dengan barcode, jadi ga ada sobek-sobekan kertas lagi. Akhirnya pihak bandara peduli juga sama lingkungan :).

Masuk, ke ruang tunggu, di depan mesin x-ray ketemu Ines Piri, kaget *enggak juga sih. Dia naik pesawat yang sama, tujuan yang sama, tapi beda jam keberangkatan. Dia jam 14.40, gw empat jam dan lima menit setelah dia. Mau coba online, tapi ternyata ga ada hotspot, ah payah, ngapain donk 4,5 jam gw disini?

Ke ruang tunggu A7, ga ada hotspot juga. Akhirnya gw duduk. Deket gw ada rombongan keluarga yang mau ke Surabaya, ketika dipanggil untuk boarding, “Ayo cepet-cepet”, trus ada ibu-ibu yang juga keluarganya bilang, “Sebentar, katanya si bla bla bla mau ke toilet dulu”, “Nanti aja di pesawat ntar telat”, “Ah ga mungkin telat, wong Indonesia kok”. Beeeggghhh, sombongnya ai ibu-ibu ini, mentang-mentang orang Indonesia budaya telat, trus mau berusaha on-time, malah diremehin. Tau yang udah pernah ke luar negeri, tapi ga usah sombong gitu donk. Inilah salah satu sebab yang bikin bangsa kita sulit berkembang, mau maju malah diremehin, kalo salah diketawain bukannya dibenerin, ckckckck . . .

Ruang tunggu jadi sepi, sisa dua orang perempuan, yang satu masih muda yang satu udah tua (entah neneknya atau ibunya). Mereka ngobrol pake bahasa Mandarin, aiihhh nda ngerti. Sambil ngetik tulisan ini gw ngemil rotiboy yang tadi gw beli. Bosan juga lama-lama.

Petugas masih berteriak-teriak *ga juga sih, “Surabaya Lionair, 572”, ternyata emang masih ada yang belum masuk. Ga berapa lama, datanglah serombongan orang yang tergesa-gesa, yap mereka adalah ‘artis’ yang sangat dinanti kedatangannya karena merekalah yang ditunggu. Beberap menit kemudian gw denger petugas ngomong via HT, “Lionair Surabaya 572 minus 2 (orang).”

Aduh, ngapain ya bosen banget, diSMS pada ga jawab. Ntar lagi dilanjutin yah. Sisa tiga jam dan lima menit waktu gw di Bandara..