Sunday, March 07, 2010

The Joy of February . . .

Sunday, March 07, 2010

Februari kemarin adalah bulan yang paling hed*n buat gw pertama kalinya. Dimulai sejak sampai dari Balikpapan, beberapa hari kemudian papa dateng nengokin, *ga perlu dijelaskan lah kalau seorang papa dateng nengokin anaknya ke kosan :D.


Beberapa hari sebelumnya, gw bersama teman-teman se-tengah-angkatan nonton bareng film Hallowen II –film ini terpilih karena terjadi perdebatan sengit, ga gitu juga sih- yang menurut gw film ini ga bermutu banget, dan ga ngerti banget ceritanya.

Seminggu berikutnya, ketika saya sedang berburu lemari lipat, dari Carrefour Kircon, Hypermart BIP, AceHardware IBCC, sampe Carrefour PVJ, ternyata ga ada yang punya. What? Udah ga musim kah lemari kayak gini? Penting banget padahal. *kalau ada yang tau yg jual di daerah Bandung, tepatnya dimana kasitau ya :)


Oke lanjut, saking capeknya muter-muter, eh ga tau kenapa pengen ke Blitz. Well, kali ini gw benar-benar tidak merencanakan dan tidak tahu film apa yang bakal gw tonton. Sampai disana, ke BCM (Blitzcard Machine) nge-tap Blitzcard, eh? Kok ga kebaca-baca? Ganti mesin, sama juga, ga kke-detect kartunya. Akhirnya ke CS, setelah di-cek ternyata kartunya rusak, what? Rusak??? Baru juga satu setengah bulan dipake, tau-tau dah rusak. Dan setelah bla-bla-bla akhirnya disaranin buat ganti kartu, dan prosesnya sekitar 2 minggu sampe 1 bulan.

Mau gimana lagi, diganti aja udah, yah . . .
Selesai urusan, tiba-tiba tertarik dengan 3D display sebuah film, liat dari deket ternyata Percy Jackson and The Lightning Thief. Kayaknya seru nih, langsung sikat, beli tiket (kali ini cash, karena blitzcard rusak, padahal saldonya masih lumayan di kartu), nunggu sebentar, lan jalan. Filmnya oke juga ternyata –saya sedang tidak mood untuk menceritakan bagaimana film tersebut.

Seminggu kemudian, saking penasarannya dengan film Rumah Dara, maka pada hari Sabtu malam, gw merencanakan untuk nonton film Rumah Dara + The Spy Next Door berturut-turut di Jatos (well, this is emergency only if I watch film in Jatos), ini dilakukan untuk menghilangkan trauma yang kemungkinan terjadi setelah menonton film horror, karena gw nontonnya sendirian.

Four thumbs up for Rumah Dara, the best horror movie Indonesia ever made. Suka banget sama suaranya dara yang serius + rada-rada ngebas gitu. Ga tanggung-tanggung sadisnya, meski ada beberapa yang disensor, tapi tetep aja mengerikan. Tapi ada sesuatu yang membuat bertanya-tanya, ketika polisi yang datang ke Rumah Dara dan memutar film roll, kenapa ada logo BINTANG DAVID disitu?? Setelah googling, ternyata itu logo  juga logo Freemanson. Kenapa logo itu ada di film Rumah Dara?

Sesudah Rumah Dara, pindah ke The Spy Next Door, film ini sumpah kocak abis, bikin ngakak melulu, untungnya ga sampe muntah.

Dua minggu kemudian, salah seorang teman, sebut saja Tammy, ngajak nonton film. Awalnya mau ngajak nonton Rumah Dara (lagi), karena gw benar-benar ketagihan. Tapi ternyata, salah seorang teman yang lain, sebut saja K, dia ga mau nonton film horror, padahal udah dipaksa-paksa, tetep ga mau. Maka akhirnya kami nonton Edge of Darkness, hmmm, I have no idea what this movie about. Sebelum nonton, kami mengadakan acara makan malam terlebih dahulu, ya meet and greet with Akbar gitu lah (?). Dan ternyata, Miss Kalap, sebut saja begitu, dia tidak kunjung kenyang, setelah satu porsi makanannya sendiri habis, selanjutnya dia masih nyomot punya yang lain, dan kayaknya kesenangan tuh karena ada yang ga habis makannya, hahaha *untung makanan gw dah habis duluan.

Setelah makan, nonton. Film ini, tentang pembunuhan, dan bahasannya lumayan berat, perlu pemikiran yang kritis untuk menemukan arti dari ending film ini, karena endingnya ga banget, gantung .

Ok, the next day, *oh ya, this was long weekend, 3 days- I was inviting my friend to watch My Name is Khan, in Ciwalk. What made me curious about this movie, my last Tuesday religion lecturer told us about this movie, he said that the movie is about how the Moslem discrimination and their effort to clear image that Moslem is an aggressive and cruel religion in western country, this is related to terrorism.

Ok, back again to Indonesian. Gw ngajak teman-teman pas pagi hari, tapi katanya sore baru bisa. Sore pun tiba, Ashar sudah berlalu, tetapi kabar juga tidak kunjung datang, kelamaan nunggu akhirnya ketiduran, sekitar jam 5.20 PM, saya dikagetkan dengan telepon dari teman-teman, “Bar, ayo kita berangkat, kami dah di depan pertigaan Brimob, bawa helm ya.” Whaaaatttt? Langsung pusing ga karuan, aduh gimana, baru bangun, nyawa belum terkumpul semua, akhirnya gw bilang, “Sebentar ya, baru bangun nih, butuh klik kanan refresh dulu”. Cuci muka, sikat gigi, packing (baju + sepatu), kunci, bla bla bla, akhirnya siap juga, tapi nyawa masih 80%.

Ke depan, akhirnya barengan, iring-iringan. Tapi gw bukan tipe orang yang sabaran, akhirnya saya yg memimpin di depan, sampai semuanya hilang dari pandangan. Di Soekarno-Hatta juga, mereka jalur lambat, gw jalur cepat. Sampai akhirnya kami terpisah, saya ke arah BSM yang lain ke arah Laswi.

Gatsu – BSM – Sunda – Sumatera- Belitung – Jawa –Riau, dan ketika akan belok kanan menuju dago, dari arah jalan Riau, polisi tiba-tiba nyuruh belok ke kiri, entah apa maksudnya, awalnya ga mau, tapi dipaksa, banget dah, akhirnya belok, aduh gimana ini, Ciwalk dimana, saya dimana *di depan BIP, ya udah tau kenapa nanya (?).

GPS beraksi, yap, saya sangat mengandalkan GPS ketika jalan-jalan ke Bandung, karena jalan di Bandung itu sangat aneh dan rumit, masih mending Solo & Jogja. Akhirnya ketemu di GPS rute tercepat, tapi gw ngerasa asing banget dengan rute itu, biarin dah, GPS kan pinter.

After 1 kilometer turn right, OK. After 300 hundred meters turn right,... Follow the course of the road for 2 kilometer,.. now turn right. After 150 meter you will reach your destination. Ternyata dilewatin Jalan Cipaganti yang entah kenapa dari BEC bisa tembus kesitu....

Gara-gara polisi, jadinya gw yang paling terakhir nyampe dah.
Sampai di Ciwalk, ternyata udah lewat yang show jam 19.00, dan ga ke kejar kalo mau beli juga, antri panjang meenn. Sementara, terjadi selisih pendapat, sebagian mau nonton From Paris with Love, ada juga yang mau Up in The Air, ada lagi yang pengen Confusius, zzzzz. Hmm, ga menarik semua lah, udah My Name is Khan aja, biarin yang jam 21.45 juga, ya ya ya ya ya :D. Singkat cerita akhirnya semuanya mau, kami yang berdelapan orang itu mengumpulkan uang dan saya mengantri beli tiket. Sampai di konter, wAw, udah penuh semua, tinggal sisa depan-depan, seubeuleun.

Mau cancel ga mungkin, ganti jam, tambah ga mungkin lagi (film yg jam 23.45, mau sampe Nangor jam berapa?). Ya udah, karena masih ada, akhirnya beli yang itu, baris ke-3 dari depan. Dan ternyata semuanya kaget, yaiyalah, secara duduk di depan bukan merupakan hal yang baik, kecuali ketika kamu dalam kelas.

Berada di Ciwalk, serasa berada di negeri yang berpenduduk lebih dari 1 milliar, seolah kami turis disini (?). Sambil nunggu film yang bakal mulai dua jam lagi, maka kami pun sholat dulu, trus makan.
Foto-foto yang pasti, hhaha :D

Akhirnya kami memilih sebuah resto makanan Italia yang terkenal, sebut saja PH. PH ternyata penuh, dan kami perlu menunggu beberapa saat untuk mendapatkan tempat duduk. Tak dinanya, ternyata, setengah dari rombongan kami yang telah memisahkan diri semenjak di XXI tadi sudah berada disana, wih ga ngajak-ngajak, ckckck.


Oke biarin. Jarak tempat mereka duduk dengan kami sekitar 4-5 meter, entah kenapa, setengah jam lebih mereka tidak menyadari kehadiran kami, akhirnya saya mengirim sebuah layanan pesan singkat kepada salah seorang diantara mereka, sebut saja R, “Adeuh yang makan, ga bagi-bagi”. First minute, it was pending, ah kenapa pake pending pula, and in the third minutes, it was sent.

Beberapa saat kemudian, si R clingak-clinguk dan menghampiri kami, dan meminta maaf sampe berlutut-lutut, merengek-rengek, ngesot-ngesot di lantai, oke ini berlebihan *kalian percaya?. Dengan perasaan (entah seberapa) bersalah, dia meminta maaf kepada kami, dan bilang tadi ga rencana. Hahaha, ok fine, it’s ok, we’re just kidding.

Makan, dan pesanan kami adalah paket berempat, 3 loyang roti berbentuk lingkaran yang berisi aneka ragam toping diatasnya, beserta satu piring mie yang terbuat dari gandum. Makan-makan, wah enak, udah lama banget ga makan makanan ini, awal-awal sih biasa aja, dan sampai selesai biasa aja. Tumben nih Miss Kalap ga beraksi, hhaha.

Keluar, kenyang, alhamdulillah, film masih setengah jam lagi, dan kami foto-foto dulu.

Mulai ngantuk, wah gawat, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sekotak kopi siap minum. Antri di kasir, lama juga, lelet nih, ah lama, taunya scannernya error, grrrr. Buruan teh, udah telat ini.

Selesai beli kopi, minum, ke atas, bertemu yang lain, akhirnya menunggu beberapa saat, tersisa dua orang yang belum tiba, katanya sih ke supermarket *kayaknya mengalami masalah yang sama dengan gw.

Akhirnya kami tinggalkan mereka diluar bersama teteh-teteh penjaga pintu tukang nagih tiket, hahaha :D *ntar mereka nyusul. Baru nempel sebentar si pantat, gw dikejutkan dengan kehadiran beberapa teman SMA yang #faktanya mereka kuliah di Jogja dan Semarang *baru juga diomongin di atas. One of them shouted, “Eh, itu Akbar bukan sih?”, dan gw familiar banget dengan suara itu, siapa lagi kalo bukan Adit, hhaha. Wah, asik, reunian nih, walau cuma bentar. Selain Adit, ada Vebi, Arum, Ghulam, Qay, Vivian, Febrina, dll. Ternyata mereka main ke Bandung karena looong weekend

Film dimulai, wah, musik awalnya Kuch-kuch Ho Ta Hai, udah curiga nih, pasti bakal ada joged-joged India, hhaha. Ternyata di awal ga ada, alhamdulillah. Di tengah-tengah, ada lagi, curiga lagi, ternyata enggak, pokoknya setiap ada musik yang India banget gitu gw curiga, hahha.

Film yang sangat panjang, baik dari segi cerita maupun durasi, film yang bercerita tentang perjuangan seorang Muslim dalam mengubah bagaimana pandangan orang Amerika terhadap Muslim ini sangat layak untuk ditonton. Banget! Film terbaik yang gw tonton bulan ini! Anda perlu menyaksikan sendiri film ini.

Film selesai pada pukul 00.15, dan Ciwalk sudah sangat sepi. Setelah keluar dari toilet, akmi langsung menuju parkiran, benar-benar sepi. Dan akhirnya kami memulai perjalanan pulang yang rutenya terpecah menjadi tiga. Sebagian besar ke Jatinangor, ok siap!

Benar-benar sepi, cukup dengan 50 km/jam saja, Ciwalk-Nangor dapat ditempuh dalam waktu tidak sampai 1 jam, yang nota bene bisanya memerlukan waktu sampai 1,5 jam atau lebih. Diperjalanan, sekitar daerah Ujungberung, akmi di-stop polisi (mau apalagi seh), ternyata ada pemeriksaan surat-surat kendaraan, bla bla bla, beres, ternyata ada razia pembalap liar (keyboard saya ngadat ketika ngetik raZia).

Ga lama sampai juga di Nangor, Alhamdulillah ga hujan, Alhamdulillah, hari yang menyenangkan.


Dan cerita belum berakhir, sampai kosan ternyata langsung pada OL, Plurking, zzz, ckckckck.