Tuesday, June 15, 2010

Filled Under: ,

Untitled

Tuesday, June 15, 2010

Setelah membaca sebuah post dari blognya Ichal, teringat sebuah kejadian sekitar setahun yang lalu.

. . .

Suatu hari, di Kota Bandung, tepatnya di Bandung Indah Plaza, setelah selesai berbelanja di Hypermart, saya bergegas pulang menuju kosan saya yang berada di daerah sekitar BIP, Jalan Bali. Keluar dari BIP, ketika sampai di persimpangan jalan depan Bakso Malang Karapitan, tiba-tiba ada dua orang pria, satu berperawakan bapak-bapak, dan satunya lagi hampir seumuran dengan saya, mungkin dua tahun lebih muda.

Si bapak tersebut menanyakan suatu hal yang seharusnya tidak saya tanggapi, karena setelah dipikir-pikir memang konyol pertanyaannya, “Dik, jalan ke Semarang ke arah mana ya?”. Bayangkan, saat itu saya sedang berada di Kota BANDUNG dan dia bertanya jalan ke SEMARANG, dan bodohnya lagi di daerah itu jalannya hanya ada jalan SATU ARAH. Dengan berbekal jawaban klasik saya berkata, “Maaf, kurang tau Pak”.

Kemudian dia berkata, “Kalau ada orang tanya tolong di jawab dengan baik, sekali lagi saya tanya, jalan ke SEMARANG ke mana?”. Aneh! Tidak wajar! Logika saya masih normal saat itu, “Mungkin kesana Pak, coba tanya orang lain, maaf saya buru-buru”.

Untuk yang kedua kali dia mengulang pertanyaan tersebut, dan saya tetap menjawab hal yang sama. Lalu, “Saya sebagai orang baik-baik ingin mengucapkan salam, selamat malam, salam sejahtera, sebagai orang Muslim saya ucapkan , Assalamu’alaikum. Adik Muslim?”, “Iya”, “Kalau begitu tolong dijawab salam saya”, “Wa’alaykumsalam”. Sampai disini, semua hal semakin absurd saja.

Tiba-tiba dia memberikan wasiat untuk selalu berbuat kebaikan, dan sebagainya, alayakna orang tua memberi nasehat. Sampai akhirnya saya potong pembicaraan, “Maaf Pak, saya buru-buru, sudah ditunggu”, “Tinggalnya dimana Dik?”, “Di Jalan Bali”, “Oh dekat, sebentar saja kok”, “Maaf Pak, tapi saya memang buru-buru”, “Sebentar saja”, sampai disini saya mulai terpengaruh, entah mungkin karena ada kontak mata secara tidak sengaja.

Lanjut, “Ini saya punya batu, batu ini bisa membuat pintar, beruntung, bla bla bla ....”, oke, akal sehat saya masih jalan, bagaimana mungkin bisa sebuah batu berbuat bla bla bla, MUSYRIK! Sembari dia ngoceh, tiba-tiba dia menggenggamkan sebuah batuh ke tangan saya, tanpa seizin saya, alias secara paksa. “Ini nanti batu di rumah dikasih air, diremdam x menit sambil dibaca-baca .............”. Saya masih sadar, “Maaf pak, ini saya kembalikan batunya, saya buru-buru sekali, maaf”,”Gak bisa dik, batunya sudah ada sama kamu, sudah kamu pegang, tidak bisa dikembalikan, takutnya nanti di jalan terjadi apa-apa, jadi selesaikan dulu urusan disini”. Sampai sini, saya mulai terpengaruh. Kontak telah terjadi: Tatap mata dan genggaman tangan.

Lalu apa yang terjadi dengan orang yang berada disebelah saya, diapun ikut terpengaruh.

Next, “Supaya batunya bekerja, adik harus buang sial dulu, pakai jarum”, saya masih 70% berpikir logis, dia berkata lagi”Nyebrang dulu ya, disebelah sana aja (menunjuk seberang jalan)” , lalu saya pun diajak nyebrang, bersama orang yang satunya lagi. Nyebrang sudah agak oleng, hampir saja DITABRAK MOBIL. Sambil nyebrang, ‘teman’ saya mengajak berkenalan, saya lupa namanya, ngobrol sesaat, sayapun sempat berkata, “Eh, ini bukanya musrik ya? Kan ga boleh percaya sama yang kayak gitu-gitu”,”Enggak lah, kita coba aja dulu”, sepertinya keadaan dia lebih paraha dari saya.

Sampai diseberang jalan, kami diberitahukan ‘prosedur buang sial’. Caranya, berjalan bawa jarum digenggam ditangan kanan sambil dzikir, tanpa tengok kanan kiri, berjalan sejauh 300 meter ke depan, setelah sampai buang jarumnya, jangan lupa, jalannya pelan-pelan.

Giliran pertama adalah ‘teman’ saya tersebut. Syarat untuk ‘buang sial’ adalah tidak boleh membawa (harta) apapun selain baju yang melekat, tas, handphone, dompet, kacamata, dan lain-lain, karena KATANYA akan TERBAKAR ketika ‘buang sial’.

Setelah itu, ‘teman’ saya tersebut melakukan apa yang diinstruksikan. Setelah selesai dan kembali, dia berkata, seperti mendengar adzan di ujung sana, bapak tersebut lalu berkata, “Alhamdulillah, kamu telah berhasil”.

Ok, this is my turn, sebenarnya saya agak keberatan ketika harus menitipkan semua barang bawaan saya, termasuk barang berharga, tapi karena saya sudah dibawah pengaruh, ya iya iya saja.

Kemudian saya pun melakukan hal tersebut. Semakin jauh berjalan, semakin berdebar-debar hati saya, sepertinya saya mulai sadar apa yang terjadi, lalu saya ‘abort operation’ dan menengok ke belakang, dan voila! Dua orang tersebut sudah tidak ada!

Lalu saya berlari ke tempat semula, mengecek barang bawaan, dan ternyata telah LENYAP!

Panik, sedih, kesal, marah. Mondar-mandir saya tanya orang disekitar situ tentang dua orang tersebut beserta barang bawaan saya, dan salah satunya menjawab, “Tadi sudah pergi naik angkot”, WTF!

Tidak karuan perasaan dan pikiran saya, karena saya tidak berbekal apapun selain baju, berikut barang saya yang hilang:
  1. Tas (berisi, dokumen legalisir dari sekolah, catatan sipil, dan lain-lain)
  2. Dompet (KTP, SIM A, SIM C, Kartu ATM, Uang Tunai)
  3. Handphone Nokia seri 6300 beserta simcard simPATI
  4. Belanjaan dari Hypermart (sabun, snack, dan lain-lain)
  5. Gorengan yang baru saja saya belipun ikut raib
Segera saya lari ke Kantor Polisi terdekat, di ujung Jalan Merdeka. Sampai disana, saya ditanya banyak hal, buat berita acara, dan saya sangat panik + sebal, karena seolah-olah para polisi tersebut sangat ‘santai’ dan tenang dalam mengurus kasus saya, sementara saya sangat panik.

Setelah urusan selesai, mendapat surat kehilangan dan laporan polisi, menelpon ke rumah mengabari ortu, menelpon call center bank untuk memblokir ATM saya, saya diantar pulang ke kosan dengan mobil polisi.

Masih kacau pikiran saya, sampai di kos segera saya mengecek koper dan ALHAMDULILLAHIRABBIL’ALAMIN, Kartu Peserta USM ITB dan Kartu Peserta SMUP serta Buku Tabungan: MASIH ADA! TERIMA KASIH YA ALLAH. Ternyata sebelum pergi saya sempat mengeluarkan surat-surat tersebut.

Lalu, apa yang terjadi dengan ‘teman’ saya tersebut?
Ternyata mereka berkomplot, dan ‘teman’ saya tersebut dikondisikan seperti saya, seolah-olah sebagai orang yang ditanya, sama seperti saya.

Waktu menunjukkan pukul 23.30, segera sholat Isya’, astagfirullah, ternyata tadi saya pergi belum sholat.

Kemudian tidur . . . .
  • Jangan jawab pertanyaan konyol, apalagi dari orang yang tidak dikenal
  • Jangan tatap mata orang yang tidak dikenal
  • Jangan berjabat tangan
  • Jangan bawa surat-surat berharga terlalu banyak
  • Jangan pergi sendirian
  • Jangan lewat jalan gelap atau remang-remang
  • Jangan lupa selalu berdo’a sebelum pergi
Sekian, semoga bisa menjadi pelajaran berharga untuk saya pribadi dan kita semua.
- - -

Kejadian tersebut terjadi ketika saya belum genap seminggu tinggal di Bandung, terjadi sekitar tanggal 20 - 22 Mei 2009

Ciri-ciri pelaku:
  • Bapak-bapak, tinggi sedang, sedikit gemuk, perut besar, umur 30-40an, waktu itu memakai kemeja coklat
  • Pemuda, tinggi sedang, sedikit kurus, umur 19 - 22, waktu itu memakai kaos beserta Name Tag Alumni ESQ (sepertinya hasil curian juga)