Tuesday, September 27, 2011

Filled Under: ,

[Mathematics is Everywhere] Batik Fraktal, Aplikasi Matematika pada Batik

Tuesday, September 27, 2011

Beruntung sekali dapat menjadi salah satu koordinator publikasi dan dokumentasi di Seminar Nasional Matematika 2010 yang diadakan oleh Himatika FMIPA Unpad pada tahun lalu. Selain soft skill yang pastinya didapat, tentunya ilmu baru juga dapat menginspirasi.

Seminar yang bertajuk “Matematika dan Aplikasinya” diisi oleh beberapa pembicara. Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Asep Kuswandi Supriatna, M.S, beliau membawakan topik mengenai aplikasi matematika pada kehidupan sehari-hari. Pada film-film action seringkali kita lihat adegan berbahaya, pemodelan matematika membantu menghitung pemodelan resiko. “Jadi sebetulnya matematika itu sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Banyak mitos yang berkembang terkait dengan matematika, dimana menyebutkan matematika adalah ilmu yang tidak mudah, dan tidak menyenangkan. Maka, tugas matematikawan adalah untuk meluruskan mitos ini,” lengkap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Matematika, FMIPA Unpad ini.

Pembahasan berikutnya dibawakan oleh, Rangga Praduwiratna perwakilan dari Tim Microsoft. Sayangnya, pada saat itu saya tidak sedang di tempat seminar, karena sedang membantu panitia untuk mempersiapkan hal yang lain.

Guest star dari acara seminar kali ini adalah Tim Batik Fraktal. Hadir di seminar tersebut Nancy Margried, Muhammad Lukman, dan Yun Haryadi. Tim ini memberikan pemaparan secara gamblang dan singkat mengenai Batik Fraktal.

Batik merupakan seni budaya tradisional Indonesia yang dikerjakan dalam proyek kriya tradisional secara turun-temurun. Fraktal adalah sebuah bentuk karya yang muncul dari perkembangan lanjut geometri kontemporer. Jadi Batik Fraktal bentuk konstruksi yang mengakuisisi keduanya: antara tradisi Indonesia dan tradisi matematika Barat yang dilakukan secara komputasional. Desain kriya yang lahir dari tangan pembatik ditiru dalam teknik komputasional melahirkan tak terbatasnya inovasi kreasi dari apa yang disebut sebagai Batik.

Batik sebagai sebuah obyek estetika berpola memiliki tata aturan penggambaran pseudo-algoritmik yang dapat diperlakukan sebagai bentuk seni generatif yang memiliki kegunaan:
  • Memberikan sumbangan dan inspirasi kepada peradaban umat manusia, khususnya dalam bidang perkembangans seni generatif.
  • Mendorong dan memperluas eksplorasi dan apresiasi atas batik sebagai bagian dari seni tradisi nusantara Indonesia.
  • Penelitian tentang aspek fraktalitas pada batik secara umum mendorong penggalian lebih jauh tentang aspek kognitif terkait cara pandang dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu kita tentang alam dan masyarakat - mengingat eratnya kaitan antara seni dan sains sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangan dan sejarah sains modern.

Fraktal: Geometri Batik
Ketika batik telah dapat ditunjukkan pola fraktalnya, maka ia menjadi memiliki peluang untuk dilihat sebagai bentuk generatif. Beruntung, karena kita memang telah pula mengetahui pseudo-algoritma bagaimana menghasilkan. Bahkan bukan tak mungkin, beberapa jenis pola fraktal yang telah dikenal sebagai "keindahan matematika" dapat pula meng-inspirasi pola batik. Dari sini, penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya 3 tipe pola fraktal yang secara komputasional dapat menjadi bentuk motif batik fraktal generatif secara komputasional, yakni:

Tipe 1: Fraktal sebagai Batik
Beberapa jenis fraktal yang dikustomisasi sedemikian sehingga memiliki pola tertentu dapat didesain sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik. Kustomisasi dapat dilakukan atas aturan-aturan iteratifnya, modifikasi pada bentuk pencorakan warna, dan sebagainya. Dalam demonstrasi berikut ini, kita mensimulasikan zooming dan kustomisasi teknis pewarnaan dari himpunan Mandelbrot yang dapat digunakan sebagai bahan dasar fraktal batik mode 1.

Tipe 2: Hibrida Fraktal Batik
Pola-pola dari fraktal dapat digunakan sebagai pola model utama dari ornamentasi dan dasar dekorasi bersama-sama dengan isen original dari motif dasar batik dan sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan secara komputasional apa yang merupakan motif batik tradisional dengan hasil adaptasi sedemikian dari fraktal non-batik. Modus disain ini menggabungkan secara estetik pola fraktal yangr dilahirkan secara komputasional dan apa yang dilahirkan melalui tradisi budaya batik yang luas dikenal. Dalam demonstrasi ini, ditunjukkan sebuah modifikasi dari sistem-L yang dirancang sehingga menghasilkan bentuk pengisian ruang (space-filling curves) yang dapat dijadikan sebagai bentuk bahan bagi batik untuk dikustomisasi.
Tipe 3: Batik Inovasi Fraktal
Merupakan bentuk implementasi dari gambar dengan pola tertentu dan atau acak dengan menggunakan bentuk-bentuk teselasi iteratif atau algoritma pengisian dari ornamentasi batik yang asali sebagai isen atau pola batik yang telah dikenal secara tradisional. Hal ini dapat dilakukan dengan ekstraksi motif dasar dari ornamentasi batik yang kemudian di-iterasi ulang dengan menggunakan pseudo-algoritma batik yang telah dikenal. Sebagai contoh demonstratif sebagaimana yang ditunjukkan pada contoh ini. Di sini, dua motif batik di-proses ulang secara komputasional dengan memberikan desain besar atas pola umum yang secara komputasional akan diproses (isen dan harmonisasi) yang menghasilkan sifat-sifat fraktal sehingga menghasilkan motif yang sama sekali baru dengan memperhatikan pola dan prinsip proses mbatik. Pengguna dapat melakukan kustomisasi dengan pewarnaan tertentu.

Ketiga pola ini merupakan bentuk dari implementasi generatif atas kesadaran bagaimana batik memiliki sifat fraktal dan mendukung peluasan bentuk apresiasi terhadap budaya tekstil Indonesia non-tenun ini.

Para peserta pun berdecak kagum ketika melihat hasil kolaborasi antara matematika, teknologi, seni, yakni batik fraktal. Kini siapapun, baik itu matematikawan, desainer, maupun pebisnis dapat membuat desain batiknya sendiri dengan menggunakan aplikasi yang mereka sebut dengan jBatik.


“Hasil penelitian kami telah diterbitkan dalam proceeding generative X di Milan Italia pada 2008. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa batik dengan sample 200 motif batik, memiliki dimensi fractal 1,5. Figur obyek batik dalam format jpeg ditansformasikan ke dalam Tranformasi Fourrier dan dihitung dimensi fractalnya pada setiap sudut dan jari-jari,” jelas Yun Haryadi.

Begitupula dengan Muhammad Lukman, ia mengatakan bahwa program jBatik dirancang dan diciptakan secara khusus untuk menghasilkan desain batik Fraktal yang semirip mungkin dengan desain batik tradisional.

“jBatik sebagai sebuah upaya dalam memperkaya khazanah batik Indonesia. Dibutuhkan peran serta pembatik, seniman, matematikawan, ilmuwan dan pencipta program untuk bisa menempatkan jBatik sebagai salah satu alat bantu yang kelak sejajar dengan canting,” tutup Nancy Margried melengkapi.

Sources:
My own experience
unpad.ac.id
budaya-indonesia.org
fraktal.bandungfe.net

Pictures:
Semnas 2010 Archive
unpad.ac.id

budaya-indonesia.org
fraktal.bandungfe.net

Video:
youtube.com