Thursday, December 15, 2011

Filled Under: ,

What are We Doing at Our Age?

Thursday, December 15, 2011

Lama nih ga nulis review film, biasanya film yang saya review itu film yang sangat-sangat menginspirasi, hehe.

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan untuk pergi ke bioskop, yah sekedar melepas penat, sekaligus melakukan kunjungan karena udah lama ga ke bioskop (?) Haha.

Blitzmegaplex Paris Van Java, satu-satunya bioskop jaringan Blitz yang hadir di Bandung memang selalu menyajikan pilihan-pilihan film yang jauh lebih bervariasi dari bioskop tetangga. Selain film-film Box Office, ada juga film Bollywood, Indie, dan Thailand.

Film “The Billionaire (วัยรุ่นพัน)” yang merupakan film produksi GTH Studio Thailand ini diangkat dari kisah nyata. Beruntung salah seorang teman saya berhasil memberi pancingan supaya saya nonton film itu, good job, haha.
Saat itu saya tiba di PVJ sore hari, dan mendapatkan tiket untuk pukul 6.55PM, wah masih lama, mana ngantuk juga, duh. Ya udahlah jalan-jalan sana sini, dan habislah waktu itu.

WARNING! SPOILER ALERT!

Adegan film dimulai dengan setting di sebuah kantor, seorang pemuda duduk menghadap manajer keuangan di bank. Pemuda itu bernama Itthipat Kulapongvanit, ia berusaha untuk menceritakan tentang dirinya.

Top, demikian sapaan untuk Itthipat Kulapongvanit, seorang remaja berusia 16 tahun, penggemar game online. Suatu saat ada seorang rekan virtualnya yang ingin membeli asesoris untuk karakter di game onlinenya. Singkat cerita, diterimalah tawaran itu, dan Top medapat imbalan sebesar SGD 500 yang setara dengan THB 12,000. Untuk 1 item saja ia bisa mendapatkan uang sebesar itu dan ia masih mempunyaI item-item yang lainnya, pasti bisa dapat uang banyak, demikian imajinasi si Top.

Hari-hari berlalu, semakin banyak uang yang ia dapat dan pada suatu saat ia pun bisa membeli sebuah mobil.

Namun, di sisi lain, orang tuanya tidak suka dengan tingkah laku Top yang suka menghambur-hamburkan uang. Sementara ia juga harus mulai belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Pada suatu hari, ia pergi ke toko elektronik dan membeli satu unit PS2 dan DVD player. Ketika membawa pulang barang-barang tersebut, orang tuanya kembali marah, dan kemarahannya ditambah ketika mereka tahu bahwa Top tidak diterima di perguruan tinggi negeri. Sebenarnya orangtuanya sangat khawatir, namun Top berkata, “I can take care my self, I don’t need your money” kepada orangtuanya..

Ia pun kembali melanjutkan ‘bisnis online’nya, menjual item-item dari game online. Namun ternyata akunnya telah diblokir karena diketahui untuk digunakan secara komersil.

Tidak kehilangan akal, dengan sisa uang tabungannya, ia membeli set DVD di toko elektronik tadi dengan harga yang lebih murah untuk dijual kembali. Sesampainya di rumah, ketika ia mencobanya ternyata ia ditipu oleh penjual, semua DVD tersebut rusak. Ia kembali ke toko dan membentak si penjual, singkat cerita, Top pulang dengan luka memar di wajahnya.

Di mobil ia melihat ayahnya sedang berjalan pulang, ia mengajaknya untuk naik bersama di mobilnya. Ketika di mobil, ayahnya pun berkata, “Life isn’t fun as playing online game”. Ayahnya pun mengatakan, ia akan membiayai dimanapun Top ingin melanjutkan pendidikannya, namun karena sifat Top yang keras kepala, ia menolaknya, ia tidak ingin dibiayai oleh ayahnya.

Cerita ini diwarnai oleh hadirnya Lin sebagai kekasih Top, akan saya ceritakan di beberapa bagian berikutnya.

Beberapa bulan kemudian Top masuk ke kelas di sebuah universitas, tapi darimana ia dapat biaya untuk kuliah?

Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia mengambil jimat milik orangtuanya dan menggadaikannya untuk biaya kuliah, dan ia mendapatkan THB 100,000.

Ya, Top memang kuliah, tapi hari-harinya dihantui dengan bayangan bagaimana ia bisa mengembalikan THB 100,000 ke orangtuanya.

Suatu hari ketika sedang kelaparan, ia pun mengajak pacarnya, Lin untuk pergi makan bersama, namun ternyata Lin sedang sibuk untuk pementasan drama, dan akhirnya pergilah si Top sendirian.

Di perjalanan, ia melihat banner bahwa sedang ada festival makanan, ia pun kesana. Karena sedang festival, maka banyak makanan gratis, dan makanlah ia disana. Sambil menikmati makanan-makanan gratis, ia mengamati mesin-mesin yang memproduksi makanan dan ia tertarik dengan satu mesin pembuat cheese-nut yang akhirnya ia putuskan untuk menyewanya.

Lagi-lagi orangtuanya marah, karena mereka lebih suka jika Top lebih serius ke kuliahnya.

Kemudian Top melakukan survey ke beberapa penjual cheese-nut, mengamati bagaimana proses pembuatan dan pengolahannya, dan mencoba mempraktekannya di rumah. Ternyata percobaanya berhasil menghasilkan cheese-nut yang enak.
Ia pun pergi ke sebuah mall dan menyewa sebuah tempat untuk menjual cheese-nut-nya, dibantu pamannya, ia memulai usahanya.

Hari pertama, karena ia harus kuliah, maka pamannya yang berjualan. Namun hanya mendapat sekitar THB 100 pada hari itu. Ia pun mengajari pamannya untuk menarik pelanggan lebih, dan belum membuahkan hasil sedikit pun.
Beberapa hari berikutnya, ketika ia sedang mengantar Lin berbelanja untuk perlengkapan drama, ia melihat teknik bagaimana para penjual menarik konsumen, ia juga mempelajari bagaimana pengaruh lokasi terhadap jumlah pedagang. Yang akhirnya membuat ia berpikir untuk memindahkan lokasi kedainya ke tempat yang lebih sering di kunjungi orang.
Ketika ia berhasil mendapatkan pelanggan lebih banyak setelah memndahkan kedainya, Lin pun datang ke mall dan ia baru mengetahui kalau Top berjualan cheese-nut, Top pun malu, namun Lin tetap mau menerimanya. (Udahlah ya, saya susah menguraikan kisah-kisah cinta, haha)

Karena satu kedai berhasil, ia berniat untuk membuka beberapa kedai lagi supaya keuntungan maksimal. Sepuluh kedai berhasil ia dirikan di mall itu. Hasil yang didapat pun sesuai harapan.

Bersamaan dengan itu muncul sebuah masalah, ternyata kedai cheese-nut yang menghasilkan asap dari pengolahan makanan tersebut membuat langit-langit mall menguning, dan manajer meminta pertanggung jawaban. Top akhirnya menyanggupi untuk mengecat ulang. Sampai larut malam, ia ditemani ibunya. Pekerjaan belum selesai, namun waktu telah habis dan ia telah ditegur oleh keamanan untuk segera pulang.

Karena belum selesai dan ia harus pulang, ia pun ingin melanjutkan pekerjaannya besok. Dan ternyata ibunya berkata, “Sudah tidak ada waktu lagi, besok kau harus mengurus paspormu”. Top terheran, ternyata mereka akan pindah ke China untuk tinggal bersama saudara-saudaranya. Mereka pindah karena orangtuanya terjerat hutang oleh bank yang membuat seluruh asetnya disita..

Esoknya ketika pembuatan paspor, Top berkata kepada orangtuanya, ia memilih untuk tetap tinggal dan bersekolah. Orang tuanya merestuinya..

Sepeninggalan orangtuanya, Top kembali dirundung masalah, manajer mall mengatakan bahwa seluruh kedai cheese-nut milik Top harus dikeluarkan, karena merusak atap. Usaha cheese-nut Top pun terhenti..

Di suatu hari, Lin mengajak Top untuk makan bersama, membeli jajanan yang dulu sering mereka beli ketika SMA. Diperjalanan Lin membawa snack rumput laut yang rasanya membuat Top untuk memikirkan usaha yang baru.

Ia memulainya dengan menanyakan kepada penjual bagaimana cara mengolahnya, dan mempraktekkannya. Bersama pamannya, ia telah menghabiskan puluhan kardus rumput laut unutk digoreng, namun hasilnya tidak memuaskan karena rasanya pahit. Namun Top tetap yakin, pasti mereka dapat menemukan cara yang tepat.

Sampai pada suatu hari, ketika Top kembali dari membeli rumput laut, ia mendapati pamannya telah tergeletak pingsan di dapur. Dengan segera ia melarikannya ke rumah sakit, beruntung pamannya masih bisa diselamatkan.

Ketika pamannya di rumah sakit, ia kembali ke rumah untuk mencoba menggoreng rumput laut, namun tetap saja gagal, ia telah menghabiskan satu kardus dan tidak ada lagi yang tersisa.

Sementara ia melihat-lihat, ia menemukan sebungkus rumput laut yang terjatuh, ia mengambilnya dan mencobanya, dan ternyata enak.

Setelah tahu caranya, ia mulai produksi, namun rumput laut hanya awet sampai beberapa hari saja setelah itu basi.

Sampailah ia ke sebuah sekolah pertanian dan pengolahan pangan, di sana ia meminta seorang dosen untuk membantunya memberikan pengetahuan bagaimana supaya makanan dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.

Karena rumput laut goreng berminyak, maka ia akan mengalami proses oksidasi yang disebabkan adanya oksigen di dalam kemasannya, oleh karena itu oksigen harus dikeluarkan (dibuat hampa udara) lalu dimasukkan Nitrogen.

Setelah mengetahui caranya, ia memulai prosesnya, dan ternyata dagangannya laris.

Karena sibuk memikirkan usahanya, ia sering meninggalkan kuliah dan menitipkan tape recorder kepada temannya, supaya tidak terlewat bahan yang diajarkan.

Suatu malam, ia pergi ke sebuah waralaba retail, 7-eleven, dan mendapatkan ide untuk memasarkan rumput lautnya di 7-Eleven.

Pergilah ia ke kantor 7-Eeven setelah membuat janji. Menunggu cukup lama dan akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan produknya. Namun fakta berkata lain, ternyata produk milik Top belum siap jual, baik dari segi ukuran, harga, maupun desain kemasan.

Sekembalinya, ia mencoba untuk mendesain ulang kemasan dan kembali lagi ke kantor 7-eleven. Menunggu sekian lama, namun orang yang ditunggu tidak datang juga, dan akhirnya ia pulang membawa rumput lautnya.

Di lift, ia melihat seorang petugas dan memberikan rumput lautnya kepada petugas tersebut.

Pulang dengan keputus asaan, ia menelpon ibunya, dan curhat...

Dan siapa sangka, ternyata rumput laut yang diberikan kepada petugas di lift pun sampai ke tangan manajer dan dinyatakan diterima untuk dipasarkan di 7-Eleven. Dalam beberapa minggu ke depan ia harus memproduksi 72,000 kemasan untuk dipasarkan ke 3,000 cabang 7-Eleven. Akhirnya...

Dan beberapa minggu ke depan, perusahaan juga akan melakukan kunjungan ke pabriknya, untuk menilai GMP (Good Manufacturing Practice).

Itulah yang menjadi sebab Top datang ke Bank, ia ingin mengajukan pinjaman untuk membangun pabrik. Namun, karena Top masih berusia 19 tahun, bank tidak dapat memberikannya dengan alasan belum cukup umur..

Ia teringat orangtuanya pernah punya sebuah ruko, yang akhirnya membuat Top untuk membangun pabrik disitu. Dengan memperkerjakan beberapa tukang, ia dapat menyelesaikan pabrik dalam beberapa hari.

Ketika pihak 7-Eleven datang untuk menilai GMP, mereka masih menemukan beberapa kekurangan. Dan hasilnya pun akan diberitahukan dalam beberapa hari melalui fax.

Di hari itu, ia menerima sebuah fax yang menyatakan bahwa produknya disetujui untuk dipasarkan di 7-Eleven.

Berkat produknya, Top berhasil melunasi hutang orangtuanya di bank dan mereka masih tinggal di rumah yang sama sampai saat ini.

Produk yang dibuat oleh Top telah diekspor ke 27 negara, dan sampai tahun 2010 telah memperoleh laba sebesar THB 1,5 milliar.

Pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan produk buatan Top ini, karena produk yang bermerek TAO KAE NOI ini dapat dengan mudah kita jumpai di supermarket :)
Top Itthipat - "Tao Kae Noi" Owner
Tao Kae Noi
---
Saat usia 16, dia adalah pencandu game online.
Saat usia 17, ia putus sekolah untuk menjadi penjaja kacang.
Saat usia 18, keluarganya bangkrut dan meninggalkan hutang sebesar 40 juta Baht.
Saat usia 19, dia menciptakan cemilan rumput laut 'Tao Kae Noi' yang dijual di 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.
Kini, di usia 26, ia adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf.

What are we doing at our age?