Friday, February 24, 2012

Filled Under: ,

This is Kingdom of Thailand!

Friday, February 24, 2012

D6: Thailand!
Beberapa hari di Melaka, saya tidak terlalu banyak melakukan aktifitas, selain karena kaki yang masih gempor akibat the real jalan-jalan di Singapore, teman yang saya kunjungi juga akan menempuh ujian.


Pada hari ke-3 di Melaka, saya bertolak ke Kuala Lumpur, sore itu saya akan terbang ke Bangkok (‘Krung Thep’ dalam Bahasa Thai), Thailand! Yeay, setelah rencana sebelumnya batal, akhirnya jadi juga ke Thailand! Horeeeee (girang segirang-girangnya :D)

Sekitar pukul 20.00 waktu Thailand yang juga sama dengan WIB, saya menginjakkan kaki di Suvarnabhumi International Airport - Bangkok. Ekspresi yang girang itu harus ditahan supaya ga keliatan malu-maluin, akibatnya, jadi salah tingkah karena pakai sunglass, padahal itu udah malam -_-
Suvarnabhumi International Airport
Sebelum mencapai konter imigrasi, yang hampir sama jauhnya seperti di Changi, seorang petugas berkata kepada saya dalam Bahasa Mandarin dan menawarkan kartu imigrasi, seoriental itukah muka saya? :o

Well, setelah paspor distempel, wow, I’m in THAILAND (masih ga nyangka)..

Sambil masang wajah dengan ekspresi normal, saya menuju arrival hall dan mencari dimana Suvarnabhumi Airport Rail Link atau yang biasa disebut SARL. SARL inilah yang menghubungkan antara airport dengan pusat kota. Wah kapan kita bisa punya ARL?

Di ticket vending machine yang berbahasa Thai, sambil nebak-nebak dikit (bisa baca dikit), mana stasiun Makkasan dan tebakan saya bener, haha. Dengan biaya sekitar THB 35 (IDR 10,500) dengan SARL City Line (ada juga ekspress line, tiketnya THB 150) kita sudah bisa sampai di Makkasan.

Sekitar 15 menit nunggu SARL, akhirnya datang juga. SARL mirip sama MRT, cuma ini bedanya nutup pintunya lebih kasar, kayak bunyi nutup pintu mobil, lebih kenceng lagi, kaget eh..

Dua puluh lima menit kemudian saya sampai di Makkasan (City Terminal). Keluar dari stasiun, sambil mengikuti petunjuk, saya menuju ke stasiun MRT Petchaburi yang kemudian akan mengantarkan saya ke stasiun MRT Lumphini.

Setelah 4 perhentian, saya tiba di Lumphini Station. Keluar dari stasiun, karena lupa print peta, maka saya tanya orang sekitar, dan ternyata dia juga kesulitan berbahasa Inggris (tepok jidat). Dia pun nanya-nanya ke temannya, dan ternyata ga tau juga. Entah usul dari mana, ia memberikan petunjuk untuk menyebrang jalan dan menyusi jalan di seberang sana. Sebenernya sih feeling saya belok kanan, bukan nyebrang, tapi ga gitu yakin. Akhirnya saya ikut petunjuk dia, dan ternyata emang salah, jalan kaki dari MRT Lumphini sampai Kedubes Jepang sambil bawa backpack itu rasanya sesuatu..

Cukup yakin dengan kesalahan petunjuk, akhirnya saya mengikuti feeling, dan ternyata bener, alhamdulillah..

Sampai hostel, setelah check-in selesai, dan rebah sebentar, mandi, terus tidur. Di kamar sempet ngobrol sama roommaate yang dari Korea, katanya dia besok mau ke Kamboja, wih..

Oh ya, saya milih nginap di daerah Lumphini daripada di Khao San, karena akses transportasi yang lebih mudah. Kalau di Khao San, transportasi adanya bus, tuk-tuk, sama taksi. Ada ratusan jalur bus di Bangkok, naik tuk-tuk juga harus tawar-tawaran dulu (saya ga jago), naik taksi males kalo supirnya nakal ga mau pake argo. Selain itu di Lumphini juga lebih tenang daripada Khao San, supaya istirahatnya lebih nyaman.

D7: I Beat My Phobia
Agenda hari ini adalah mengunjungi Grand Palace, Khao San, dan sekitarnya. Mandi, kemudian keluar cari sarapan, banyak sih yang jual makanan di kaki lima, cuma khawatir ga halal, akhirnya 7-eleven jadi pelarian, beli makanan yang dipanasin pake microwave dan susu coklat cukup buat sarapan.

Kembali ke MRT Lumphini, tujuan stasiun berikutnya adalah Silom. Sampai di Silom transit dengan BTS (Bangkok Mass Transit System) atau lebih dikenal dengan BTS atau Rot Fai Fa (Sky Train) dalam Bahasa Thailand.

Dari BTS Sala Daeng saya menuju BTS Saphan Taksin. Turun di Saphan Taksin, saya masih harus menyambung dengan transportasi lain, yakni perahu, ya, perahu!
On The Boat
Sebenernya dari dulu saya phobia banget kalo naik perahu/kapal, sulit untuk dijelaskan. Tapi, hari ini saya tidak merasa takut sama sekali, alhamdulillah..

Dari Sathorn (Central Pier), saya harus naik perahu menyusuri sungai Chao Praya dan turun di dekat Grand Palace, agak lupa nama perhentiannya.

Begitu sebuah perahu merapat, saya langsung naik. Tarif perahu ini THB 15 sekali jalan, jauh dekat. Setelah beberapa stop, akhirnya saya melihat sebuah bangunan yang mirip seperti Grand Palace yang pernah saya lihat di internet, turunlah saya di perhentian sekitar situ.

Anehnya, yang turun cuma saya, padahal kan Grand Palace itu must visit place kalo ke Bangkok. Dan ternyata bener, saya emang salah, setelah keluar dari pelabuhan, malah lewat kompleks ruko-ruko yang jual-jual spare part mesin, yang belakangan saya tau ternyata itu daerah Chinatown, haha.
Around Chinatown
Oh ya, yang mirip Grand Palace tadi, ternyata itu Wat Trimit, yang ga terlalu besar. Salah sih salah, ya tapi ga sial juga :D
Wat Trimit
Ambil foto disana, kemudian menyusuri jalan di Chinatown, ya ga beda-beda amat, just like another Chinatown.

Karena udah dari kemaren belum ada ngabarin ortu, saya pun beli SIM card Happy dari DTAC di 7-eleven, SIM card seharga THB 49 ini berisi pulsa THB 15 dan gratis internetan untuk hari pertama.

Sambil jalan ke pelabuhan terdekat, akhirnya saya tiba juga. Kata orang sih tadi tinggal lurus trus ada perempatan belok kiri, tapi lurusnya itu jauh juga, setelah belok kiri juga masih jauh, harus betah jalan kaki memang..

Sampai di pelabuhan, ada kapal berhenti, dan untungnya yang berhenti tourist boat, jadi ada guide yang mendongeng dalam bahasa Inggris.

Ada beberapa jalur perahu, jadi ga semua perahu berhenti di semua pelabuhan. Cara bedainnya, ada di bendera perahu, ada warna orange, kuning, biru, dan hijau kalo ga salah, oh ya merah juga. Itu semua jalurnya beda-beda.

Setelah 2 stop dan turun, ternyata masih harus jalan lagi untuk ke Grand Palace. Well, it was pretty hot and humid, my T-shirt getting wet.

Grand Palace udh kelihatan, tapi masih jauh, terus berjalan di tengah-tengah teriknya matahari sampai akhirnya tiba di pintu masuk.

Di pintu masuk ada petugas, mereka mem-filter pengunjung yang tidak mengenakan pakaian secara pantas. Ya karena Grand Palace adalah istana, jadi harus berpakaian sopan, jadi ya bule-bule yang pada pake tank top, short pants (termasuk yang pria) , ga boleh masuk dulu.

Tepat di sebelah pintu masuk, ada satu ruangan, sepertinya menyediakan pakaian untuk dipinjamkan kepada pengunjung yang ‘pakaiannya tidak lengkap’ haha.
Grand Palace Entrance
Sedikit foto-foto di luar, kemudian beli tiket masuk ke kompleks utama, harga tiket THB 400 ini termasuk tiket ke Dusit Palace yang berlaku selama 7 hari.

Masuk ke dalam, dan langsung takjub :o













Karena saya tidak ambil tour, jadinya mutar-mutar sendiri, foto sana sini, kadang ya nebeng dengerin guide tour, hahaha.

Hampir 3 jam saya di sana, akhirnya keluar juga. Tujuan selanjutnya Khao San Road, belum jadi backpacker kalo belum ke Khao San, haha. Jalan sepanjang 500 meter ini adalah magnet para backpacker dari seluruh dunia, banyak pertokoan, penginapan, kafe, pedagang kaki lima, makanan khas Thailand, dsb disini. Sempat juga ke Democracy Monument.



Khaosan Road
Democracy Monument

Sudah laper, akhirnya saya masuk ke KFC di sekitar sana, haha, jauh-jauh makan di KFC, biarin daripada gak halal :D

Ada satu paket, combo 4, yang isinya nasi, softdrink, sama ayam yang diiris-iris terus dikasih bumbu semacam rujak khas Thaliand. Itu rasanya enak banget banget banget :9 Harus coba kalo kesana :D

Tuk tuk

Makan selesai, karena udah hampir sore, keburu perahunya ga beroperasi lagi, akhirnya saya melangkahkan kaki ke pelabuhan terdekat. Sebelum nyampe ke sana, ternyata ada konter, setelah saya baca-baca brosurnya, ternyata menyediakan sepeda untuk dipinjam/disewa untuk keliling daerah situ, wah pengen sih, tapi udah mulai capek, akhirnya ga ambil tour sepeda.

Naik perahu, sampai di Sathorn Pier, seperti rute berangkat tadi, Saphan Taksin - Sala Daeng – Silom – Lumphini.


Leyeh-leyeh bentar di hostel, dan berangkat lagi setelah Magrib.

Malam itu saya ke Siam, tempat hangout populer di Bangkok. Dari BTS Sala Daeng naik yang ke arah National Stadium.

BTS Siam

Sethani thadpai: Siam
Yang pertama terlihat adalah Siam Paragon, cuma liat di luar ga masuk, coba check-in foursquare ternyata ada hampir 300an orang yang check-in, wow.

Siam Paragon
Ada tiga mall berderet, Siam Paragon, Siam Center, dan Siam Discovery. Di seberangnya ada Siam Square, kompleks ruko-ruko. Di seberang Siam Discovery ada MBK Center (Mahboonkroong).

MBK Center

Mau cari oleh-oleh, kaos, souvenir, etc kalau ga sempat ke Cathuchak weekend market cari aja di MBK. Tapi ternyata souvenirnya lumayan mahal.

Setelah mendapat apa yang dicari, saya kembali karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00.

Tidur

D8: One Day Pass
Rencana saya hari itu keliling Bangkok dengan BTS, jadi saya membeli One Day Pass ticket, karena untuk sekali jalan naik BTS, bisa THB 20-35. Dengan ODP yang seharga THB 120 ini sudah bisa naik BTS sepuasnya.
One Day Pass
Bangkok Mass Transit System (BTS)
Pertama ke arah National Stadium, trus ganti jalur yang ke arah Bearing, turun di Chit Lom, disana ada Erawan Shrine.

Erawan Shrine

Dari sana ganti jalur, balik lagi dan turun di Sala Daeng, udah agak siang, laper, pengennya sih makan, eh nemunya McD, masuk deh, pas mesen ternyata pelayannya ga bisa bahasa Inggris, duh. Setelah berusaha memahami satu sama lain namun tidak paham-paham juga, akhirnya saya pergi, ujung-ujungnya makan di Siam Paragon deh, zz.

Wajah orang Thai tidak jauh berbeda dengan wajah orang Indo, jadinya ya kalau baru pertama kali ketemu bakal diajak ngomong Thai. Ngomong aja ‘Phut Thai mai dai’ yang artinya ‘I can’t speak Thai’ or just say ‘Sorry?’
Inside BTS
Selesai makan, saya ke arah Mo Chit. Nyobain turun satu-satu di setiap stasiun, sampai akhirnya tiba di Mo Chit yang dekat dengan Cathuchak Park, pengen main sih, tapi kok ya panas..

Oya, ada sedikit pengalaman buruk, begitu keluar dari BTS, ada seorang perempuan yang gerak-geriknya mencurigakan mendekati saya dan colek-colek, perempuan jadi-jadian pasti ini, aaaahhh tidak, sesegera mungkin saya menghindar dan mengatakan ‘mai mai mai’ yang artinya ‘no no no’, zzz...

Wongwian Yai BTS Station
Kembali lagi, dan akhirnya saya kembali juga ke MBK, nyari-nyari apa gitu, dan dapet DVD ‘The Billionaire’ yang belum ada di Indo, horeee, tapi belakangan setelah saya setel ternyata ga ada English subnya, mati..

Agak malam akhirnya saya kembali ke hostel dan packing sambil ngobrol-ngobrol dengan roommate, ada yang dari Holland, Brazil, German, Switzerland, German, wah banyak, enak ngobrolnya nyambung, haha..

Ga nyangka besok harus udah pergi dari Bangkok, huhu, I’m not done yet in Bangkok.

D9: Expensive Rate
Siang itu saya akan kembali ke Kuala Lumpur, esoknya baru pulang ke Balikpapan.

Ngenet bentar, mandi, sarapan, check out, naik MRT lagi ke Petchaburi, SARL Makkasan – Suvarnabhumi Airport.

Sampai di Bandara, karena masih lapar, ya makan dulu.
Asik-asik makan liat udah mau jam 11, belum masuk imigrasi pula, belum lagi kalo concoursenya jauh.

Dan ternyata bener, imigrasinya rame banget, pemeriksaan juga lebih ketat, dan concourse nya juga jauh. Udah jalan cepet, hampir lari, masih aja ga nyampe-nyampe. Dan begitu sampai di gatenya, belum 5 menit duduk udah boarding, nah lo, untung cepet..

Selama di Bangkok, saya belum nemu satupun orang Indo, pas ketemu, malah di pesawat, udah gitu ramenya norak deh..

Sampai di KL, langsung nyelip-nyelip orang, males antri lama-lama di imigrasi.

Saya kehabisan Ringgit, mau ambil di ATM CIMB, karena kalau punya rekening CIMB, bisa gratis traik tunai di CIMB mana aja, termasuk luar negeri. Eh ternyata, kartunya ga kebaca, emang sistemnya yang beda atau kartunya yang rusak, entah, ga bisa kebaca.

Liat dompet, adanya SGD, IDR, sm THB. Ngumpulin IDR sama SGD dengan niat dituker di money changer, dan alamak, ternyata ratenya mahal, lebih mahal 10%, zz.. Tapi ga ada pilihan lain, saya harus ke hotel dan itu butuh biaya.

Naik bus dari LCCT ke KL Sentral, kemudian nyambung monorel dan sampailah saya di Tune Hotel KL, nginep disitu karena kemaren dapet promo, hihihi

Mandi dan rebah-rebah capek, tau-tau udah jam 8 aja, pergi deh ke Bukit Bintang, disana makan dulu, trus keliling.

Bintang Walk
Tiba-tiba tercetus ide yang kurang kerjaan abis, ke Kedubes Indonesia di KL, kalo liat di peta sih KAYAKNYA deket, pas jalan, ternyata ga nyampe-nyampe, balik deh..

Kembali ke hotel, ga bisa tidur, entah kenapa, mana masih behamburan semua lagi, males juga beres-beresnya, ah udah mau selesai ya liburannya :(

D10: Time up
Entah jam berapa akhirnya saya tidur, dan terbangun jam 4 pagi, langsung packing karena jam 6 harus udah berangkat ke airport.

Check-out jam 6, langsung naik monorel ke KL sentral dan bus ke LCCT. Sarapan di airport dan akhirnya boarding, flight Airasia Kuala Lumpur – Balikpapan.

Perjalanan 10 hari melintasi 3 negara ini sangat banyak memberikan saya inspirasi, semoga saya bisa kembali lagi, Thank you ah, Terima Kasih, Khop Kun Khrap :)