Thursday, August 09, 2012

Filled Under: ,

Umroh - Part 2

Thursday, August 09, 2012


Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh, Bapak-Ibu yang terhormat, Alhamdulillahirrabil’alamin kita telah mendarat di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah, waktu setempat menunjukkan pukul 5.50 menit di sore hari, waktu di Jeddah adalah 4 jam lebih lambat dari waktu di Jakarta. Silakan tetap duduk dan mengenakan sabuk pengaman Anda sampai pesawat bener-benar berhenti dengan sempurna...”

Desert! Padang Pasir! Gurun!
Sepanjang mata memandang, sekeliling berwana coklat.

Turun dari pesawat dan diantar bus menuju terminal haji. Konon terminal ini masih baru, dipergunakan untuk rombongan haji, terpisah dari terminal utama.

Sampai di terminal, seperti yang dikatakan teman saya, Austin, banyak orang yang menawarkan SIM Card, hmm. Alhamdulillah, ada promo dari operator selular yang saya pakai untuk roaming internasional, cukup worthed lah dibandingkan harus beli kartu baru.

Jegrek! Cap imigrasi beraksara Arab gundul telah dibubuhi di sebelah visa umroh saya, nambah lagi capnya, hehe.

Keluar terminal, sangat terasa udara gurunnya. Sambil menunggu bus, seperti biasa celingak-celinguk nyari stop kontak, namun belum rejeki. Baterai yang tinggal 30% ini harus bisa bertahan sampai di Madinah nanti, which is 7 jam perjalanan.

Akhirnya kami, rombongan umroh dipanggil untuk segera masuk, tapi ternyata ada sedikit masalah yang membuat keberangkatan kami menuju Madinah tertunda hampir satu jam, ujian kesabaran pertama.

Masalah akhirnya selesai, dan berangkatlah bus. For the first time ever, I ride on a bus which is walking on the right side of the road. Agak bingung-bingung norak dikitlah, pintu penumpang di sebelah kanan, haha.

Di perjalanan, bus berhenti sejenak untuk mengambil paket makan malam kami. Satu paket makan berisi Nasi Putih, Ayam Bakar, plus Tumis Tempe dan Lalapan beserta satu buah pisang. Cukup untuk malam ini.

Perjalanan menuju Madinah dimulai menjelang Isya’. Sepanjang perjalanan, jalanan sangat lega sekali, ga macet, mungkin karena malam hari.

Semakin malam, udara semakin dingin. Yah, inilah gurun, panas menyengat di siang hari, dingin agak menusuk di malam hari.

--
“Bapak Ibu sekalian, kita telah melewati check-point dan kita sudah memasuki kota Madinah al-Munawarrah”

Terbangun oleh pengumuman tersebut, masih setengah percaya, beneran ini saya  di Madinah? Subhanallah :’)

Terlihat Masjid Bir-Ali, Miqat, tempat dimana jama’ah umroh yang datang dari arah Madinah menuju Mekkah menjatuhkan niat umrohnya.

Masjid Nabawi after Shubuh

Tak lama, terlihat King Fahd Gate Masjid Nabawi, sekali lagi, masih hampir ga percaya.

Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari lebih sekian menit, istirahat sejenak..


--
Hari-hari selanjutnya diisi dengan berburu tiket ke surga, ya mumpung di tanah suci, entah kapan bisa kembali lagi.

Selain itu kami juga berziarah ke tempat-tempat bersejarah, ya napak tilas kehidupan Rasulullah SAW selama di Madinah, ke Masjid Quba salah satunya, tempat dimana kita bisa mendapatkan pahala umroh dengan sholat dua raka’at.

Sudah bukan hal yang aneh lagi jika bertemu dengan orang Indonesia di setiap sudut tempat, mulai dari hotel, tempat makan, pusat perbelanjaan, sampai masjid. Namun yang unik adalah, hampir semua pedagang bisa berbicara bahasa Indonesia, umumnya pedagang. Kata-kata yang paling sering terdengar adalah “MURAH.. MURAH.. MURAH..” juga kata lain seperti “Apakabar”. Bahkan beberapa diantara mereka bisa berbicara bahasa Indonesia dengan fasih.

--- 
Hari ke-4 akhirnya tiba. Siang itu setelah sholat Dzuhur kami berganti pakaian Ihram dan bersiap untuk berangkat ke Mekkah. Sebelum ke Mekkah, jama’ah Umroh/Haji yang berasal dari Madinah harus menjatuhkan niat umrohnya di Miqot Masjid Bir Ali, dan menunaikan sholat dua raka’at disana.

Dari Masjid Bir Ali, perjalanan ke Mekkah ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Tak henti-hentinya kalimat talbiyah diucapkan di sepanjang perjalanan.

Highway di Saudi Arab memang tidak terlalu ramai, sehingga pemandangan sangat mudah untuk dinikmati. Gurun pasir dan gunung-gunung batu adalah pemandangan yang biasa sepanjang perjalanan, sesekali terlihat unta.

Menjelang waktu Isya’ bus yang kami tumpangi memasuki kota Mekkah. Dan tiba-tiba jalan yang hendak kami lalui ditutup oleh polisi setempat dan disarankan untuk melalui jalan lain, padahal jarak ke hotel tinggal beberapa ratus meter lagi. Sempat terjadi perdebatan antara supir dengan polisi, wah wah..

Hampir satu jam kami tertahan oleh polisi, perdebatan yang tadinya hangat menjadi semakin hangat, karena memang karakteristik orang Mekkah yang memang lebih keras.

Akhirnya setelah permasalahan selesai, kami melanjutkan perjalanan dan check-in di hotel. Sebelum check-in kami makan malam di salah satu restoran, dan subhanallah, dari jendela restoran tampak dengan jelas Masjidil Haram :’)

---
Setelah istirahat sejenak di kamar, kami berkumpul di lobby hotel untuk bersiap umroh. Kaki dilangkahkan menuju Masjidil Haram. Masjid yang tak pernah sepi siang maupun malam.

Rasa haru itu semakin menjadi-jadi ketika Ka’bah sudah terlihat, tak tertahankan lagi.
Ritual thawaf pun kami mulai, tujuh putaran, dibimbing oleh pemimpin rombongan.

Selesai thawaf, sholat dua aka’at di tunaikan di antara garis lurus Maqom Ibrahim dan Multazam.
Sesudahnya, kesegaran air zam-zam mampu mengurangi rasa letih setelah thawaf.

Masjidil Haram

Sa’i adalah ritual selanjutnya yang harus dilakukan, berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah, sebagai napak tilas ibunda Nabi Ismail AS, Siti Hajar, ketika mencari mata air untuk Ismail kecil yang kehausan.

Bukit Safa dan Marwa kini telah ditutupi dengan kaca di bagian puncaknya, mungkin supaya masih bisa terlihat bentuk aslinya.

Selesai Sa’i, terakhir adalah Tahalul, yaitu memotong rambut. Dan akhirnya selesailah ibadah umroh.

Masjidil Haram Under Construction
---
Seperti di Madinah, hari-hari selanjutnya diisi dengan berburu tiket ke surga. Jika masih ingin dan mampu untuk umroh (lagi), pihak penyelenggara masih bisa memfasilitasi.


Selain itu, kami juga berziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekkah, termasuk Jabal Rahmah, Mina, dan Bukit Gua Hira.

--- 
Soal makanan, memang tidak diragukan lagi, lidah Indonesia tidak bisa dibohongi meski masakan sudah diolah sedemikian rupa supaya tetap bercita rasa Indonesia, tapi lidah berkata lain, hehe. Ya dinikmati saja, toh memang setiap tempat memiliki ciri makanannya sendiri. Makananan yang cenderung santan/kari sangat dominan disini.

--- 
Selesai thawaf wada (perpisahan), kami bertolak ke Jeddah. Sedih rasanya harus pergi dari sini, kedamaian hati yang tidak bisa didapatkan di tempat lain dengan sangat mudah didapatkan disini :’)

Di Jeddah, kami diberi kesempatan untuk berbelanja oleh-oleh. Jeddah sebagai kota transit terkenal dengan barang-barang yang dijual dengan harga miring, bahkan jika dibandingkan dengan Indonesia pun, harga-harga disini cenderung miring.

Selesai berbelanja, kami menuju masjid terapung di tepi laut merah. Seperti oase di tengah padang pasir (dan memang padang pasir), cuaca yang sangat terik langsung hilang seketika ketika memasuki masjid yang full-AC.

Seagull in the sde of Red Sea
---
Jatinangor – Jakarta – Jeddah – Madinah – Mekkah – Jeddah – Jakarta – Jatinangor, semoga suatu saat bisa kembali lagi ke tanah suci :’)