Saturday, March 28, 2015

Thirty-two Hours in Singapore

Saturday, March 28, 2015

Halo, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan baik-baik saja dan semakin bertambah kebaikan setiap waktunya. Sedikit ingin berbagi tentang perjalanan singkat kemarin ke negeri tetangga yang sudah pernah dikunjungi sebelumnya, Singapura. Ngga bosen Bar ke Singapura melulu? Ngga kok, apalagi kalo gratis, hahaha. Hah, gratis? Alhamdulillaah, perjalanan ini disponsori oleh salah satu maskapai budget ternama di Asia, Jetstar Asia dalam partisipasinya sebagai partner salah satu ajang pencarian bakat terkenal yang dibuka untuk seluruh negara se-Asia, Asia’s Got Talent.


Day 1:
Tanggal 24 Maret 2015 pun tiba, saya berangkat dari Bandung pukul 3.30 pagi menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang. Lalu lintas yang lancar membawa saya sampai di CGK sekitar pukul 6.20. Setelah menyantap bekal makanan untuk sarapan, saya masuk ke dalam untuk check-in. Oh ya, saya berpergian bersama salah satu teman saya. Karena penasaran dengan berita mengenai tidak bisanya orang yang memiliki unsur nama Muhammad dan Ali untuk melewati auto-gate, akhirnya saya dan teman saya mendaftar untuk fasilitas auto-gate, paspor kami sama-sama bukan paspor elektronik.


FYI, nama lengkap saya Muhammad Shofyan Akbar Surya. Setelah berhasil didaftarkan, kami mengantri di imigrasi jalur auto-gate, sampai akhirnya tiba giliran saya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindai/scan halaman paspor yang berisi identitas. Tidak lama setelah loading, muncul tampilan yang isinya kurang lebih, “maaf untuk sementara tidak dapat digunakan.” Karena masih penasaran, saya coba hingga tiga kali namun tidak berhasil, setelah bertanya kepada petugas, dengan sedikit kecewa saya dipersilakan untuk mengantri di jalur reguler.

Sambil mengantri, saya melihat teman saya ternyata berhasil lolos di jalur auto-gate, loh kok? Rasa penasaran yang tidak bisa dibendung membuat saya kembali bertanya kepada petugas imigrasi lainnya, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sekedar, “saya kurang tau mas.” Memang nama teman saya tidak mengandung dua unsur nama yang telah disebutkan sebelumnya, ah sudahlah.

Kali ini adalah pertama kalinya saya berpergian bersama Jetstar, pesawat yang digunakan juga termasuk mainstream untuk penerbangan regional, namun sambutan dan keramahan ala Singapura yang diberikan awak kabin membuat perjalanan kali ini terasa berbeda.


Perjalanan selama kurang lebih 1 jam dan 20 menit berakhir dengan pendaratan mulus di Bandar Udara Internasional Changi Singapura. Ok, ready to explore Changi Airport! Setelah turun dari pesawat dan selesai pemeriksaan barang bawaan kabin, hal yang selanjut dicari adalah kios pendaftaran Wifi Changi, hahaha. Kios yang bisa ditemui hampir di seluruh penjuru bandara ini, mensyaratkan kita untuk memindai halaman identitas paspor di alat yang tersedia untuk mendapatkan password. Voila! Muncullah password berupa beberapa digit angka yang memberikan kita akses gratis ke Wifi Changi.


Keasikan dengan akses internet dan suasana dingin Changi Airport, sampai tidak terasa waktu sudah berlalu sekitar satu jam, dan kami hampir lupa dengan checked baggage yang harus diambil di luar setelah gerbang imigrasi, waduh. Sedikit tergesa-gesa, setelah menuntaskan proses imigrasi, kami segera mencari conveyer belt yang memuat bagasi penerbangan kami. Teman saya mendapatkan tasnya, namun saya tidak. Bertanya kepada petugas yang ada, kami dipersilakan untuk bertanya ke bagian lost and found, dan ternyata tas saya memang ada disana bersama bagasi-bagasi lain yang belum diambil, duh.

Karena sudah waktunya makan siang, kami menuju staff canteen yang berada di area publik bandara. Staff canteen adalah solusi untuk budget traveller, karena harga makanan yang disediakan disini umumnya seharga makanan standar penduduk lokal di Singapura, yang rata-rata S$3 – S$5 sekali makan. Staff canteen terminal 1 berada di ujung sebelah kiri bangunan, setelah keluar dari area pengambilan bagasi, belok ke kiri dan jalan terus sampai lihat ada pintu keluar setelah Burger K**g, lalu belok kiri lagi, dan Anda akan melihat penanda arah bertuliskan staff canteen yang ada di bagian bawah. Kantin ini termasuk besar, dengan segala macam pilihan yang ada, akhirnya kami memutuskan untuk cari aman dengan membeli makanan dari stall yang memasang logo halal yang ada di ujung sebelah kanan, stall 1-4. Nasi padang dengan rendang seharaga S$4.50 adalah menu makan siang hari itu. Nasi padang? Karena stall lainnya menjual makanan yang kurang cocok dengan lidah saya, hahaha.


Selesai makan, perjalanan berlanjut ke penginapan yang telah di persiapkan oleh Jetstar, penginapan kami berlokasi di daerah Bugis, yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30-40 menit dengan MRT. Saya menuju mesin tiket untuk mengisi saldo kartu prabayar yang digunakan sebagai alat pembayaran MRT, EZ-Link, sebelum melakukan perjalanan. Beep, terbukalah pintu otomatis seketika setelah kartu ditempelkan ke alat pembaca, entah kenapa saya selalu terkagum-kagum dengan teknologi RFID pada kartu ini, sampai-sampai pernah saya jadikan proyek penelitian, curcol, maaf, oke lanjut.

“Bugis, Bugis, please mind the platform gap. Bssssss...” Tibalah kami di stasiun MRT Bugis, sedikit bingung dengan arah jalan menuju hotel, kami menggunakan kompas karena GPS tidak berfungsi dengan baik. Berjalan kaki sekitar 10-15 menit, kami tiba di hotel yang dituju, akhirnya, copot kaki dulu bisa nih, hahaha.

Tidak bisa berleha-leha terlalu lama, karena kami harus segera ke Marina Bay Sands (MBS) untuk acara utama dari perjalanan ini, menonton semifinal Asia’s Got Talent di Mastercard Theaters. Ajang pencarian bakat yang mengangkat David Foster, Anggun C. Sasmi, Van nes Wu, dan Melannie C. sebagai juri ini ditayangkan di stasiun tv AXN Asia setiap hari Kamis malam pukul 19.30 WIB. Namun perjalanan sedikit tertunda karena ada sedikit masalah pada setrika uap yang ternyata tidak berfungsi karena stop kontak belum dinyalakan, well, silly enough.

Perjalanan dari Bugis ke MBS dapat ditempuh dengan menggunakan MRT menuju stasiun Bayfront yang terhubung langsung dengan MBS. Kami mencoba jalur Downtown, jalur baru yang memang lebih ringkas untuk menuju Bayfront daripada jalur lainnya yang harus transit. Melalui jalur ini, menuju Bayfront hanya melewati satu pemberhentian sebelum turun, sedangkan jalur tercepat lainnya harus melewati tiga pemberhentian dan satu kali transit sebelum sampai Bayfront.


Sampai di MBS, perjalanan kaki yang sekiranya akan berakhir secepatnya, ternyata belum juga berakhir, Matercard Theaters berada di lokasi dengan jarak yang lumayan dari stasiun MRT. Sesampainya, kami mengambil tiket, dan setelahnya sedikit bersantai karena penonton baru akan diperbolehkan masuk ke teater setengah jam lagi.

Dengan angin segar sepoi-sepoi, suasana yang teduh, dan pemandangan yang rapi, pelataran MBS yang menghadap ke arah perairan selalu menjadi tempat favorit saya di negeri singa ini, bahkan sejak kunjungan pertama saya. Selain itu, setiap malam, ada pertujukan laser yang diberikan secara gratis untuk pengunjung.

Satu jam kemudian, kami masuk ke lobby teater, tas diperiksa dan kamera DSLR harus dititipkan. Tidak jauh dari lokasi saya berdiri, ada Indra Bekti, dia membawakan Asia’s Got Talent yang juga ditayangkan di stasiun TV lokal setiap hari Minggu, stay tune broh. Tidak lama menunggu, kami dipersilahkan masuk ke teater, awalnya saya mencari nomor kursi yang tertera di tiket, namun kru mempersilakan kami mengisi baris terdepan terlebih dahulu, dan kami cukup beruntung karena kami menduduki kursi PALING DEPAN TEPAT DI BELAKANG JURI, maaf capslock jebol :P


Sedikit terbawa euforia, kesempatan tidak disia-disiakan, walaupun dengan kamera ponsel yang ala kadarnya, momen “I was here” akhirnya bisa diabadikan juga, it’s happening, it’s happening!

Sebelum bertanya-tanya tentang isi acaranya, mohon maaf, saya tidak bisa menuliskan secara detail, karena memang ada himbauan dari pihak produser untuk tidak menceritakan apapun tentang penampilan yang ada pada hari itu. Selain itu, karena termasuk tayangan tunda, acara hari itu adalah semifinal, sedangkan yang tayang di TV masih proses audisi, well, just wait if you’re lucky enough to see me on TV, hahahaha :D


Selesai pertunjukkan, perut sudah minta diisi, untungnya ada ada minimarket yang menyediakan roti sandwich. Setelahnya, kami mampir sejenak di Garden By The Bay, tidak sampai masuk, karena sudah terlalu malam, dan akhirnya kami kembali ke hotel, what a day!

Day 2:
Pergelangan kaki yang masih terasa pegal, membuat diri ini cukup malas beranjak dari tempat tidur. Belum lagi ada tugas yang harus dikerjakan karena akan dikumpulkan besok. Besok? Iya, malam ini saya sudah harus pulang, haha, huhu.


Tugas, sarapan, mandi, dan repacking selesai, namun kami belum akan check-out. Merlion Park merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika bertandang ke Singapura. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan menumpang MRT, dan turun di Stasiun Raffles Place. Keluar dari stasiun, pemandangan yang tidak biasa muncul di depan mata. Ratusan atau mungkin ribuan orang mengantri mengular secara tertib di pinggir jalan tanpa mengganggu lalu lintas. Minggu ini memang Singapura sedang berkabung karena founding father Singapura, Mr. Lee Kuan Yew, wafat pada tanggal 23 Maret 2015. Mr. Lee Kuan Yew lah yang membuat Singapura menjadi seperti sekarang ini. Jasa yang begitu luar biasa beliau berikan untuk Singapura yang membuat masyarakat hormat dan rela mengantri untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau, belakangan diketahui panjang antrian melebihi dua kilometer.




Setelah berhasil melalui antrian, kami melanjutkan perjalanan ke Merlion Park, suasana disana juga tidak terlalu ramai. Selesai berfoto sebentar, kami kembali ke hotel untuk check-out dan membawa tas. Tidak lupa, kami mampir sejenak untuk membeli es krim roti khas Singapura, yah walaupun tidak beli di Orchard Road, es krim yang juga bisa didapatkan di daerah Bugis seharga S$1 ini cukup segar untuk hari yang panas ini.


Kami berpisah, saya sendiri langsung menuju Changi Airport untuk memasukkan bagasi saya, dan setelahnya saya ingin menuju ke Changi Business Park, semacam SCBD kalau di Jakarta, biasa lah ada sedikit urusan di sana.

Sampai di Changi, ternyata saya belum diperbolehkan untuk memasukkan bagasi karena penerbangannya memang masih cukup lama, wah, akhirnya mau tidak mau harus membawa kembali tas ini, duh. Kembali naik MRT dan turun di Stasiun Expo. Setelah bertanya, akhirnya saya disarankan untuk naik bus nomor ke tempat tujuan di Changi South Avenue 3, tapi bus yang ditunggu tidak kunjung tiba membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki yang ternyata tidak terlalu jauh.

Dua setengah jam berlalu, selesai keperluan di sana, kembalilah saya ke Changi. Berhasil memasukkan bagasi, perut sudah minta diisi kembali, dan saya kembali ke Staff Canteen untuk makan sore. Dengan kondisi perut yang sudah terisi, saya siap untuk aktifitas selanjutnya, exploring Changi Airport again, hahaha. Changi Airport memang tidak ada habisnya untuk di eksplore, mulai dari fasilitas wifi, pijat kaki, air minum, taman tematik, ruang game computer, sampai PS3 pun disediakan gratis untuk mereka yang berpergian dari Changi. Hari itu fokus saya adalah Sunflower Garden, karena dari sana kita bisa menikmati pemandangan apron (tempat parkir) pesawat. Changi memiliki banyak variasi jenis pesawat karena memang Changi melupakan salah satu bandara penguhubung terbesar di Asia Tenggara. Di sini kita juga bisa menemukan banyak pesawat berbadan lebar (wide body), termasuk diantaranya Airbus A380, pesawat penumpang terbesar sampai saat ini, yang tidak bisa ditemukan di Indonesia.

Sunflower Garden berada di ujung kanan lantai 3 terminal 2, karena posisi saya ada di terminal 1, maka saya harus naik skytrain untuk menuju terminal 2, agak lama menuju kesana, karena saya sendiri agak bingung dengan posisi lantai dimana saya berada, namun akhirnya sampai juga.




Pemandangan indah bunga matahari, walaupun tidak asli, semakin indah karena di sekelilingnya banyak pesawat yang bisa dilihat. Di sebelah kanan, berjejer penuh Singapore Airlines yang sedang parkir, di sebelah kiri ada pesawat Air India, Tiger, Jetstar, dan beberapa lainnya, bisa dibilang cukup menyegarkan mata bagi para pecinta dunia penerbangan.

Waktu yang ditentukan telah tiba, akhirnya saya harus angkat kaki dari negeri ini. Kunjungan singkat kali ini memang sangat berkesan, terima kasih Jetstar!

After land:
Sampai di Cengkareng, dengan rasa penasaran yang masih tinggi, saya kembali mencoba dengan auto-gate, namun tetap saja tidak berhasil, walaupun petugas yang berjaga juga membantu saya, “mas ini kok ga bisa ya, kemarin padahal udah didaftarkan,” kata saya sambil memperlihatkan sempel autogate di halaman terakhir. Akhirnya dia melihat identitas nama di paspor dan menjelaskan dengan ramah walaupun memang mengecewakan, “ini mas, biasanya kalau ada namanya yang mengandung kata-kata nama yang dicekal memang tidak bisa mas, jadi paling harus manual imigrasinya mas, maaf ya.” Well, sangat disayangkan hal ini terjadi di negara dengan mayoritas penduduknya Muslim.