Saturday, January 16, 2016

Membuat E-Passport di Kanim Jaksel

Saturday, January 16, 2016

Tidak sampai dua minggu lagi masa berlaku paspor saya akan habis, terima kasih paspor hijau seri W yang dicetak oleh Kanim Balikpapan atas jasa-jasanya membawa saya melihat dunia (lebay).

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan
Tertarik dengan fitur yang dimiliki e-passport, termasuk di dalamnya mendapatkan bebas visa kunjungan wisata ke Jepang (harus didaftar terlebih dahulu), akhirnya beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk membuat e-passport. Karena saya berKTP Balikpapan, namun saya berdomisili sementara di Jawa Barat, tapi saya ingin membuat e-passport, akhirnya saya memutuskan untuk mengurus e-passport di Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus Jakarta Selatan yang beralamat di Jalan Warung Buncit Raya No. 207, Jakarta Selatan. Sedikit informasi, untuk sementara ini (per Januari 2016) pembuatan e-passport hanya dilayani dengan datang langsung (walk in) di seluruh Kanim se-DKI Jakarta, Surabaya, dan Batam. Jika Anda berdomisili maupun berKTP di luar daerah tersebut, mau tidak mau Anda harus datang ke salah satu dari tiga kota tersebut.

Paspor Lama
Pagi itu sekitar pukul 04.00 WIB saya sudah siap berangkat, tinggal menunggu kedatangan ojek online yang akan menjemput saya di daerah Permata Hijau. Tidak sampai 10 menit, driver sudah datang dan menjemput saya. Perjalanan pagi menyusuri jalanan ibukota yang lengang dan ditemani suara adzan Shubuh sungguh kontras dengan keadaan di siang hari. Sekitar 15 menit kemudian saya tiba di seberang jalan Kanim Jaksel. Jika Anda naik Transjakarta, Anda bisa turun di halte Imigrasi (daerah Matraman).

Dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang menunggu di depan pagar kantor yang masih tutup. Ketika sampai, ada seseorang yang sudah berinisiatif menyediakan kertas dan pulpen untuk absen antrian, dan saat ikut menulis saya sudah berada di urutan ke-12. Tepat pukul 05.00 WIB petugas keamanan membuka pagar dan mempersilakan kami masuk untuk mengantrikan diri dengan cara menaruh berkas di dekat pintu, “taruh aja di situ mas berkasnya, nanti jam setengah delapan baru dibuka nomor antriannya,” dan tiba-tiba saja absen antrian yang sebelumnya dibuat seolah menjadi tidak berlaku, saya sendiri akhirnya dapat antrian ke empat.

Menurut petugas, kalau sebelumnya sistem antrian berdasarkan kuota harian, sekarang sistem antrian berbasis waktu, jadi kita masih dilayani untuk membuat paspor jika kita datang ke Kanim sebelum jam 10.00 pagi. Intinya memudahkan kita supaya tidak terlalu datang nyubuh karena khawatir kehabisan kuota. Hal tersebut dituangkan dalam peraturan yang dicantumkan di website imigrasi.
ANTRIAN PELAYANAN PASPOR REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN WAKTU. PENGAMBILAN NOMOR ANTRIAN MULAI PUKUL 07.30 S.D 10.00 WIB
(SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR: IMI-GR.01.01-0047 TAHUN 2016, TENTANG ANTRIAN PELAYANAN PASPOR REPUBLIK INDONESIA).

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Imigrasi Nomor: IMI-GR.01.01-0047 Tahun 2016 Tentang Antrian Pelayanan Paspor Republik Indonesia:

  1. Merubah sistem pengambilan nomor antrian permohonan paspor walk in, online, maupun permohonan priority, semula berdasarkan kuota dirubah berdasarkan waktu;
  2. Batasan waktu pengambilan nomor antrian mulai pukul 07.30 s.d 10.00 WIB;
  3. Nomor antrian hanya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan dengan menunjukan persyaratan permohonan paspor;
  4. Pemanggilan permohonan berdasarkan nomor urut antrian (first come first serve).
Demikian atas perhatian diucapkan terima kasih.

Karena banyak yang belum dapat informasi tersebut, banyak juga yang tetap datang pagi-pagi sekali, termasuk saya, hehe.

Sambil menunggu, saya mampir ke masjid di sebelah kanim untuk sholat Shubuh dan beristirahat. Di masjid saya berkenalan dengan seorang bapak yang juga akan membuat e-passport. Sedikit banyak kami berbagi cerita dan ternyata beliau jauh-jauh datang dari Aceh dan baru semalam sampai di Jakarta untuk membuat e-passport, untuk jalan-jalan ke Jepang katanya. Oh ya, umur paspor beliau juga baru tiga bulan sejak perpanjangan terakhir.

Kondisi Pukul 05.56 WIB
Sebelum pukul 07.00 saya sudah sarapan dan kembali melihat situasi di kanim. Semakin banyak orang yang sudah mengantrikan berkasnya, sedikit iseng berhitung, jumlahnya sudah lebih dari 60 berkas yang diantrikan, wah untung sekali datang nyubuh. Tidak lama petugas mempersilakan kami untuk antri dan mempersiapkan berkas, termasuk yang asli.

Berkas yang dibutuhkan untuk pembuatan paspor biasa maupun paspor biasa elektronik (e-passport) untuk dewasa, yaitu:

  1. Kartu Tanda Penduduk
  2. Kartu Keluarga (sesuai dengan KTP)
  3. Akta Kelahiran/Ijazah/Surat Nikah
  4. Paspor lama (untuk penggantian)
  5. Surat pewarganegaraan bagi yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui Pewarganegaraan
  6. Surat Penetapan Ganti Nama dari pejabat yang berwenang bagi yang telah mengganti nama
Semua berkas tersebut difotokopi dalam kertas ukuran A4 dan tidak dipotong. Jadi kalau fotokopi KTP (dan halaman depan paspor lama), minta letakkan di bagian tengah kertas dan tidak usah dipotong kertasnya, biarkan saja sisi kosongnya. Oh ya, berkas asli juga HARUS DIBAWA dan jika ada persyaratan yang tidak lengkap Anda tidak akan diberikan nomor antrian. 

Dari beberapa pengalaman sebelumnya, saya memperoleh informasi untuk pelajar/mahasiswa juga diperlukan kartu mahasiswa (beserta fotokopiannya) sebagai syarat tambahan, untuk karyawan diperlukan surat rekomendasi dari perusahaan. Jadi berkas yang saya bawa, KTP, KK, Akta Kelahiran, Ijazah, Paspor lama, serta Kartu Mahasiswa. Sebaiknya semua fotokopi dipersiapkan dari rumah, supaya tidak repot fotokopi lagi.

Tepat pukul 07.30 kami dipersilakan masuk dan menuju lantai 2 untuk mengambil nomor antrian. Sampai di atas, berkas kami dicek kelengkapannya, jika lengkap nomor antrian akan diberikan, saya sendiri mendapat nomor antrian umum 2-013, angka sial? Ah saya tidak percaya hal seperti itu.

Formulir, map, serta nomor antrian langsung diberikan bersamaan. Jika akan membuat e-passport jangan lupa sampaikan kepada petugas, supaya map dan formulir dicap e-passport.

Formulir Permohonan Paspor
Jika kebingungan dalam pengisian formulir, kosongkan saja terlebih dahulu, karena petugas akan menjelaskan poinnya satu persatu, jika masih bingung silakan bertanya langsung. Oh ya, jangan lupa bawa pulpen sendiri.

Nomor antrian untuk permohonan pembuatan paspor ada beberapa jenis, yaitu prioritas, walk in, dan on line. Prioritas diberikan untuk lansia, difabel, dan batita, setiap harinya hanya ada 30 nomor antrian prioritas yang disediakan. Nomor antrian ini akan dilayani terlebih dahulu di Kanim Jaksel sebelum nomor antrian lainnya. Jangan khawatir, ada 10 konter pelayanan yang melayani dalam waktu bersamaan. Kita juga bisa memantau posisi antrian di http://infoantrianpaspor.imigrasi.go.id/, bermanfaat bagi yang ingin pergi sejenak untuk keperluan lain.

Masih ingat dengan bapak yang dari Aceh tadi? Sayang sekali, permohonan beliau ditolak dengan alasan paspornya masih sangat baru, dan belum boleh membuat lagi sampai habis halaman atau habis masa berlaku? Adakah peraturan resminya? Saya belum tahu.

Ruang Tunggu Kanim Jaksel
Saat tiba giliran saya, saya menuju konter pelayanan, petugas memeriksa dokumennya kembali dan memindai dengan alat, sedikit ditanya alasan mau pergi kemana dan sejenisnya. Setelah verifikasi data selesai, saya diminta bergeser ke meja sebelahnya untuk pindai sidik jari dan ambil foto, jangan lupa berpakaian sopan dan pantas, amannya pakai kemeja. Beberapa kali saya mengulang pengambilan foto karena gambar kurang fokus. Layanan dilakukan dengan konsep One Stop Service, sehingga kita tidak perlu mondar mandir ke beberapa konter/loket dalam mengurus paspor. Selesai semuanya, saya diberikan tanda terima untuk pembayaran biaya paspor di Bank BNI 46 (paling cepat satu jam kemudian), dan paspor bisa diambil dalam 5 hari kerja.

Tanda Terima dan Bukti Pembayaran
Beruntung di seberang Kanim Jaksel, sedikit ke utara, ada kantor cabang Bank BNI. Jika Anda tidak sempat ke bank, pembayaran juga bisa dilakukan di ATM BNI, teknis detailnya saya belum tahu, karena saya membayar langsung di teller bank.

Biaya yang dibutuhkan untuk membuat e-passport ini adalah Rp 660,000 dengan rincian Rp 600,000 untuk biaya paspor dan Rp 55,000 jasa TI biometrik, plus Rp 5,000 untuk biaya administrasi pembayaran di BNI 46.

Oke, tinggal menunggu paspor jadi dalam satu minggu ke depan.