Monday, May 23, 2016

Ada Apa dengan Kita?

Monday, May 23, 2016


Assalamu’alaykum, salam sejahtera untuk kita semua. Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, saya Akbar, saya bukan salah satu warga kota Bandung, namun sudah hampir tujuh tahun saya tinggal di daerah Bandung coret. Saya cukup sering bolak-balik hingga 2-4 kali setiap pekannya ke Kota Bandung untuk beberapa urusan.

Banyak hal positif yang saya dapatkan selama tinggal di sini, secara umum merantau ke daerah lain sangat memperkaya sudut pandang kita. Namun ada beberapa hal yang sejak awal tinggal di daerah Bandung Raya mengusik pikiran dan jiwa saya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak bermaksud tendesius terhadap sekelompok masyarakat, saya sangat menyayangkan perilaku pemakluman kesalahan.

Pemakluman kesalahan yang saya maksud adalah kondisi ketika kesalahan sudah dianggap menjadi hal yang lumrah karena seringnya kesalahan itu terjadi. Hal pertama yang mengusik saya adalah masalah sampah, tidak jarang saya melihat orang yang dengan santainya membuang sampah keluar jendela mobil, atau sengaja membuah plastik makanan minuman dimana saja mereka mau. Semakin disayangkan pula, tidak banyak yang peduli walaupun sekedar menegurnya.

Selanjutnya masalah transportasi umum, banyak sekali transportasi umum yang kita bisa temukan di Bandung Raya ini, mulai dari angkot, elf, sampai bus kota. Pemerintah Kota Bandung akhir-akhir ini sangat mengkampanyekan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi kemacetan di jalan yang diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi, salah satunya adalah dengan meremajakan dan menambah unit bus kota di Bandung. Saya sangat mendukung karena salah satu faktor yang membuat banyak orang malas menggunakan transportasi umum adalah masalah kenyamanan dan tentu saja tarifnya. Namun sayang sekali, tidak jarang ketika saya naik transportasi umum, termasuk bus kota dan mobil angkot, pengemudi/penyedia jasa tidak menghargai waktu penumpangnya. Bukan hal aneh bila kita menemukan banyaknya mobil tranportasi publik yang menghabiskan waktu sekian lama untuk nge-tem. Nge-tem memang tidak salah, namun durasi nge-tem itulah yang bermasalah, belum lagi masalah sopir yang sering memaju-mundurkan kendaraan supaya semakin banyak penumpang yang ingin naik, namun ketika sudah naik, sopir memundurkan kembali kendaraannya, bukankah ini penipuan? Belum lagi masalah nge-tem di daerah persimpangan (dekat lampu lalu lintas) yang sering membuat macet.

Masalah tidak berhenti di situ, perilaku sopir yang ugal-ugalan, berhenti mendadak, seringkali sangat membahayakan pengguna jalan yang lainnya. Entah berapa kali saya hampir mengalami kecelakaan karena perilaku ugal-ugalan tersebut. Tidak hanya sopir kendaraan umum yang berperilaku ugal-ugalan, namun, mohon maaf, banyak sekali orang yang saya temui di jalanan daerah Bandung Raya berperilaku negatif.

Perilaku pertama yang ingin saya bahas adalah melawan arus, punten kang teh, bisa kita saling menghargai di jalan dengan tidak melawan arus? Saya tau kita semua punya kepentingan masing-masing, kita buru-buru, tidak ingin terlambat, tidak ingin pula mencari putar balik yang terlalu jauh, tapi apakah kita harus melupakan aspek keselamatan? Maaf, kalau Anda mau mengabaikan keselamatan sendiri, itu hak Anda, terserah. Tapi dengan melawan arus, Anda juga membahayakan keselamatan orang lain, kalau sudah kejadian baru menyesal, dan (mungkin) kemudian menyalahkan pengendara lain yang kendaraannya lebih baik dari Anda (teringat kasus kecelakaan di Jakarta, akibat melawan arus, pemotor meninggal dunia, lalu masyarakat meminta pertanggung jawaban pengendara mobil yang ditabrak motor tersebut).

Selanjutnya masalah menunggu di lampu merah, bukankah saat ini sudah disediakan zona khusus kendaraan roda dua di baris depan? Lagi-lagi saya hanya bisa mengelus dada melihat orang-orang yang tidak sabar menunggu kemudian beranjak ke zebra cross. Ketika sedikit sepi saja (namun lampu belum hijau) dengan santainya melanggar lampu lalu lintas, hal ini dilakukan oleh hampir semua pengendara kendaraan bermotor, termasuk pengendara mobil. UNIKNYA, mereka yang sudah bersiap namun tidak kebagian jatah untuk melanggar, ketika lampu sudah hijau, tidak segera bergerak, seringkali harus ditegur via klakson terlebih dahulu baru jalan. Saya tidak ingin berspekulasi mengenai masalah buta warna. MENAKJUBKANNYA LAGI, ketika saya  tetap berada di posisi diam menunggu lampu menjadi hijau, tidak sedikit pula yang mengklakson saya seolah menyuruh saya melanggar lampu lalu lintas.

Hal berikutnya adalah penyalahgunaan sirine pada kendaraan pribadi dengan tujuan bisa membuat pengendara lain menepi dan akhirnya ia bisa cepat melaju. Kembali lagi, semua orang buru-buru, lalu apakah tidak bisa saling menghargai? Saya belum tahu persisnya, tapi apakah ada kendaraan pribadi yang diperbolehkan menggunakan sirine di jalan umum? Belum lagi arogansi pengguna motor gede yang seolah-olah harus diprioritaskan, apa pentingnya?

Saya pun juga ingin menyampaikan beberapa ide solusi dari permasalahan yang telah saya sampaikan. Memang tidak mudah meningkatkan kesadaran akan masalah perilaku negatif, pemerintah dan masyarakat harus membangun komitmen yang solid. Pemerintah sebagai regulator harus menindak tegas pelanggaran yang terjadi, masyarakat pun harus pula membangun kesadaran di lingkungannya masing-masing, dan hal itu pun harus berkelanjutan, tidak sekedar penerapan sekali dua kali. Edukasi masyarakat mengenai sampah misalnya, pemerintah bisa membuat suatu program edukasi yang menyeluruh, untuk hal ini pemerintah bisa bekerja sama dengan camat, lurah, RW, hingga RT. Masyarakat yang sudah sadar akan masalah ini pun juga harapannya dapat diberdayakan untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang kebersihan.

Mengenai masalah durasi nge-tem yang terlalu lama, saran saya, sebaiknya angkutan kota dikelola oleh pemkot dan supir diberikan gaji tetap, sehingga tidak harus nge-tem demi mengejar setoran. Saya masih ingat ketika pemerintah Kota Bandung menggratiskan angkutan kota, hari itu merupakan salah satu hari paling tertib di jalan Dago.

Untuk masalah lalu lintas, aparat penegak hukum harus menjadi contoh dan bisa lebih berkomitmen kepada penegakan peraturan, tidak pandang bulu terhadap pelanggaran, siapapun yang melakukan, walaupun itu adalah rekan dan sanak saudaranya sendiri. Karena banyak pula kejadian pelanggaran (yang hampir berakhir tilang) yang akhirnya diloloskan hanya karena pelaku memiliki relasi/kerabat yang juga aparat penegak hukum (kolusi masih merajalela). Salah satu pengalaman pribadi saya, ketika itu saya diberhentikan oleh petugas yang berjaga di pos polisi dekat Gedung Sate karena tidak menyalakan lampu kendaraan roda dua di siang hari, saya sudah pasrah saja karena memang saya yang salah. Saat petugas mengisi formulir untuk saya sidang di pengadilan nanti tiba-tiba ia menawarkan saya, “saya tau adik sibuk, supaya tidak usah sidang, belikan saja rokok di kios seberang jalan.” Sebelumnya saya memang belum pernah diberhentikan petugas dan (hampir) ditilang, pernyataan tersebut membuat saya kaget dan sangat disayangkan. Saya sendiri tetap bersikukuh untuk ditilang saja dan menjalani proses hukum, karena saya memang salah dan saat itu cukup penasaran dengan proses hukum di pengadilan. (Mungkin) terlanjur malu, setelah berusaha ‘bernegosiasi’ dengan saya, akhirnya petugas tersebut mengembalikan surat-surat saya dan berkata, “lain kali hati-hati, jangan lupa nyalakan lampunya.” 

Oh ya, satu lagi saran saya, semoga peningkatan kualitas dan pengaturan lampu lalu lintas di Kota Bandung bisa lebih diperbaiki lagi, karena sampai saat ini masih banyak lampu yang mati dan saya juga menemukan resiko kecelakaan yang cukup tinggi ketika di persimpangan jalan (simpang empat) lampu lalu lintas menyala hijau di dua arah yang berseberangan.

Untuk rekan-rekan yang juga menyadari masalah-masalah di atas dan ingin memperbaikinya, mari kita sama-sama tularkan pengaruh baik ke lingkungan kita, paling tidak dari keluarga dan rekan terdekat. Jangan malu dan segan menegur kesalahan yang terjadi, KEBURUKAN MERAJALELA BUKAN KARENA BANYAKNYA ORANG JAHAT, NAMUN KARENA BANYAKNYA ORANG BAIK YANG DIAM.

Beberapa orang mungkin saja akan menganggap penulis sok suci, pahlawan kesiangan, ataupun sebutan negatif lainnya. Namun penulis punya prinsip, saya tidak akan menegurkan suatu hal kepada orang lain sebelum saya menegur diri sendiri, karena perubahan sejatinya dimulai dari diri sendiri. Penulis hanya ingin melihat negeri ini khususnya tempat saya tinggal saat ini (daerah Bandung Raya), menjadi tempat yang masyarakatnya lebih beradab, menghargai satu sama lain, dan saling menjaga, bukankah itu yang kita semua inginkan? Ataukah kita masih ingin begini-begini saja tanpa ada kemajuan?


Salam,
Akbar Surya