Saturday, August 13, 2016

Ujian TOEFL-ITP

Saturday, August 13, 2016

Halo dunia! Lama tidak bersua dari blog ini. Mumpung sudah senggang, saya ingin berbagi pengalaman selama blog ini vakum. Oke sebelumnya mari kita kerja bakti bersih-bersih sarang laba-laba di blog ini dulu, hahaha.

Seingat saya, pertama dan terakhir kali saya mengikuti ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) kira-kira tahun 2010/2011, itu juga hanya sebagai partisipasi acara yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa jurusan saya waktu itu, walaupun sebelumnya saat masih SMA, hampir tiap tahun diberikan ujian simulasi TOEIC (Test of English as International Communication). Iseng mengikuti, ternyata alhamdulillaah saya dapat skor murni 520, walaupun hanya TOEFL prediction.

Tahun-tahun berlalu, sampai akhirnya tiba saat-saat dimana saya akan menyelesaikan studi di universitas (akhirnya!). Saat itu, salah satu berkas yang harus dikumpulkan sebagai persyaratan sidang adalah salinan dari sertifikat TOEFL yang masih berlaku dengan skor minimal 450. Rasanya memang sudah saatnya bagi saya untuk kembali mengukur ulang kemampuan berbahasa Inggris saya, dan akhirnya diputuskan untuk mengambil ujian TOEFL yang resmi tingkat institusi, lebih populer dengan TOEFL-ITP (TOEFL Institutional Testing Program).

Karena sempat disibukkan dengan tugas kuliah dan skripsi, saya baru sempat daftar tes di bulan Mei, padahal rencananya saya sudah harus siap semua dokumen sebelum lebaran (yang saat itu jatuh pada awal Juli). Setelah cari info sana-sini, akhirnya saya dapat info untuk ujian pada 21 Mei 2016 yang diadakan di English First cabang Antapani Bandung, untungnya dua hari sebelum tes masih diperbolehkan untuk mendaftar, oh ya, saat itu biaya yang harus dibayarkan untuk ujian adalah Rp 445.000. Jadwal ujian TOEFL-ITP se-Indonesia bisa dicek di jadwal TOEFL-ITP Indonesia.

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan saat itu, karena memang sedang lumayan sibuk. Namun, saya lumayan sering belajar bahasa asing di waktu senggang, karena memang saya cukup tertarik belajar bahasa. Termasuk untuk konten hiburan seperti film, terlebih film Hollywood, saya sering mematikan subtitel ketika menonton, ya hitung-hitung melatih kemampuan listening lah. Untuk masalah reading, saya mengandalkan kamus pocket Oxford untuk menambah kosakata. Tapi saya memang sedikit lemah di bagian grammar/structure, karena memang masih sering mengandalkan perasaan/intuisi untuk menentukan kebenaran struktur suatu kalimat, dari sini saya menggunakan beberapa aplikasi dari toko aplikasi untuk belajar grammar.

Saat tes hari-H, ada beberapa alat tulis yang dibawa, pensil 2B, rautan/penserut, penghapus, dan bolpoin, sekaligus tisu jika perlu, karena ujian dilaksanakan menggunakan lembar jawaban komputer (LJK). Untuk papan jalan/scanner/dada tidak diperlukan di lembaga tempat saya ujian (kurang tahu untuk lembaga lain). Sesi pertama sebelum tes, identitas peserta dicek satu persatu untuk dipastikan kebenarannya. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian identitas, seperti nama, tanggal lahir, dan sebagainya. Nama belakang/lastname ditulis terlebih dahulu, lalu diikuti nama depan/firstname. Misal: Ini Ibu Budi, maka urutan penulisannya: Budi Ini Ibu, untuk yang namanya lebih panjang bisa disingkat secukupnya kolom, misal nama saya: Muhammad Shofyan Akbar Surya, karena juga menyesuaikan dengan jumlah kolom akhirnya nama saya tulis: Surya M Shofyan Akbar.

Sesi pertama ujian adalah Listening Comprehension, soal yang diberikan berjumlah 50 soal yang dibagi ke dalam beberapa bagian, percakapan pendek, percakapan panjang, dan monolog panjang. Tips saya untuk bagian listening adalah baca terlebih dahulu opsi jawaban yang diberikan sebelum audio untuk soal terkait dimulai. Sambil mendengarkan, kita juga bisa mencoba untuk mengingat-ngingat beberapa kata kunci penting dalam percakapan itu. Saya sempat kerepotan untuk beberapa soal terakhir yang menurut saya agak sulit.

Sesi selanjutnya adalah Structure and Written Expression dengan 40 soal diberikan waktu selama 25 menit untuk menyelesaikan dua bagian soal, yaitu: soal dengan jawaban pilihan ganda dan soal untuk memilih jawaban yang salah. Tipsnya, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar structure, karena saya pun cukup kesulitan.

Sesi terakhir yakni Reading Comprehension, selama 55 menit peserta diharuskan untuk menyelesaikan 50 soal yang diberikan. Soal berbentuk teks panjang yang kemudian disertai dengan soal pilihan ganda. Tips yang sudah hampir diketahui semua orang adalah baca terlebih dahulu pertanyaannya baru kemudian baca teksnya. Selain itu kita juga perlu jeli dalam menggali makna-makna tersirat dalam tulisan.

Tes yang diselesaikan dalam durasi kurang lebih 120 menit ini menyisakan tangan yang sedikit pegal akibat sudah lama tidak menghitamkan jawaban di LJK, hahaha. Saran tambahan, sebelumnya kalau bisa latihan dengan handgrip supaya bisa lebih cepat menjawab soal-soal.

Hasil tes dijanjikan akan keluar dalam dua pekan, namun ternyata hasil baru keluar sekitar 17-18 hari setelah tes.


Alhamdulillaah, walaupun belum sesuai target, setidaknya skor tes saat ini lebih tinggi dari tes sebelumnya. Akhirnya saya punya sertifikat TOEFL resmi yang berlaku selama 2 tahun ke depan. Well, semoga selanjutnya bisa punya kesempatan untuk ujian IELTS dan GRE :D