Friday, October 14, 2016

Tak Sependapat (APDX - 01)

Friday, October 14, 2016


Malam sunyi yang diiringi suara jangkrik serta alunan musik klasik lembut namun tidak membuat kantuk menjadi temanku selama proses pengerjaan karya ilmiah itu. Tulisan yang dipersyaratkan untuk mendapatkan gelar sarjanaku itu cukup menyita waktu dan sedikit banyak merubah jam biologisku. Jari-jari ini lebih aktif menari-nari di atas papan ketik saat malam hari, sementara di siang hari mereka ingin istirahat, begitupun dengan neuron di kepalaku yang lebih senang ngobrol dengan sesamanya saat matahari telah terbenam.

Ah hampir selesai, sudah empat per lima bagian aku kerjakan, memang masih ada revisi sana-sini, bukan tentang penulisan, namun lebih kepada konsep yang harus lebih difokuskan pada objek agar pembahasan tidak melebar kemana-mana. Sebenarnya menyusun skripsi ini gampang gampang malas, kesulitan secara teknis dari materi ilmiah pasti ada, namun secara umum lebih sulit melawan rasa malas daripada mencari literatur untuk menambah referensi ilmu. Terlebih jika yang bersangkutan hanya menunggu mood baik datang tanpa mau mengusahakan agar mood itu datang.

Aduh.. tiba-tiba terasa nyeri di perutku, nyeri yang cukup hebat, bukan mulas seperti ingin buang air, entah. Tapi tak kemudian nyeri itu berangsur hilang, ah mungkin nyeri otot saja karena terlalu lama duduk.

Beberapa hari kemudian kembali terasa nyeri itu, lalu hilang, begitu terus terjadi hampir selama satu pekan. Karena penasaran saya mencari informasi di internet mengenai gejala-gejala tersebut, banyak sekali kemungkinannya, bisa masalah ginjal, batu empedu, usus buntu, dan lain-lain, duh kenapa jadi horor begini.

Satu hal yang dapat saya simpulkan saat itu, mungkin ini adalah penyakit batu empedu karena sakit perut yang dialami terjadi tiba-tiba (kolik bilier). Pencarian berlanjut dan akhirnya saya menemukan cara alami untuk penyembuhannya, yakni dengan terapi apel, saya agak lupa persisnya. Setelah saya coba, beberapa hari saya rasa biasa-biasa saja, dan tak lama kemudian sakit perut itu terasa kembali, duh.

Esok harinya saya sempatkan berkunjung ke rumah sakit di sekitar Cileunyi. Keluhan yang saya sampaikan hanya sakit perut itu, beberapa kali dokter pun bertanya, apa juga terasa sakit ketika kencing, tapi saya tidak merasakan hal itu. Sampai akhirnya dilakukan tes urin karena dokter mencurigai adanya infeksi saluran kemih, duh nambah lagi kemungkinannya.

Setelah hasil laboratorium keluar, tidak ada hal yang mengindikasikan adanya penyakit seperti yang diduga sebelumnya. Dokter tersebut juga bingung, dan saya hanya diresepkan obat analgesik untuk mengurangi nyeri saja, selebihnya hanya dinasehati untuk makan dan minum teratur dan sehat.
Sebenarnya ada apa ini?

Saya juga sempat berkonsultasi dengan adik saya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran. Dari gejala-gejala yang saya sampaikan, dia bilang ada kemungkinan saya mengalami radang usus buntu. Namun saya bingung, karena saya tidak mengalami keluhan lain seperti gejala apendisitis pada umumnya, seperti demam, mual, muntah, dan nyeri ketika kaki dilipat mendekati badan.

Ah sudahlah, ‘nikmati’ dulu rasa nyeri ini sampai saya sempat untuk bertindak lebih lanjut, karena saat itu memang saya dikejar target untuk segera menyelesaikan tugas akhir dengan waktu yang hanya tersisa dua bulan saja, bahkan tidak sampai.

Pada akhirnya, tiba waktunya untuk mudik lebaran, jadi memang dua bulan itu terpotong libur lebaran. Sampai di Jogja, saya lanjutkan ngobrol langsung dengan adik saya dan dia coba untuk observasi langsung dengan cara menekan beberapa titik di perut, dan saat sampai satu titik, saya merasakan nyeri sekali. Ternyata dugaan adik saya ada kemungkinannya benar, usus buntu saya mengalami peradangan. Untuk memastikannya kembali, dia bilang, “coba tanya Mas Andi.” Ketika itu memang sedang ada beberapa saudara yang berkunjung ke rumah, dan Mas Andi yang merupakan sepupu saya ini berprofesi sebagai dokter bedah.


Setelah berdiskusi dan observasi langsung, dugaan semakin kuat bahwa memang saya mengalami apendisitis. Tapi untuk memastikannya kembali, saya harus melakukan cek laboratorium, termasuk tes darah, urin, dan USG abdomen.

Esok harinya saya pergi ke salah satu laboratorium swasta di dekat bundaran kampus UGM. Tes yang saya ambil adalah hematologi lengkap, urin lengkap, dan USG abdomen. Setelah sampel darah dan urin diambil, saya dipersilakan masuk ke sebuah ruangan dengan tempat tidur, komputer dan beberapa monitor. Sedikit penasaran, sebelum dokter datang saya sempat lihat-lihat alat yang ada, keren juga sih, oke skip.

Dokter dengan gelar belakang Sp.Rad (spesialis radiologi) pun datang, saya diminta mengangkat kaos kemudian diolesi gel, entah gel apa, mungkin gel USG, lalu dengan alat yang berbentuk seperti scanner barcode dengan pegangan itu perut saya dielus-elus (apasih). FYI, saya bukan orang yang mudah percaya maupun apatis, “itu apa dok? Kalo yang tadi? Itu kenapa?” adalah pertanyaan yang selalu saya sampaikan, karena saya tidak mau datang ke dokter, sampaikan keluhan, lalu terima resep begitu saja. Sebagai pasien, saya merasa harus tahu apa yang terjadi pada diri saya, istilahnya saya harus merasa teredukasi oleh dokter mengenai diri saya. Jadi dari situ, saya tahu yang mana liver, ginjal, empedu, dan lain-lainnya. Namun ketika fokus pada bagian usus buntu, USG juga tidak bisa melihat posisi apendiks saya, walaupun sudah ditekan berkali-kali, tetap tidak terlihat.

Hasil USG: Regio Iliaca Dextra

Hasil lab kemudian saya sampaikan kepada kakak sepupu saya, beliau bilang semuanya bagus, darah, urin, tapi memang tidak terlihat bagian usus buntunya. Dari situ saya disarankan untuk mengkonsumsi antibiotik selama beberapa hari, lalu dilihat kembali perkembangannya.

Libur lebaran sudah usai, saya harus kembali melanjutkan tugas akhir untuk mengejar sidang skripsi pada awal bulan depan, waktu yang tersisa tidak sampai empat pekan. Perjuangan tidak sia-sia, akhirnya saya berhasil lulus kuliah, alhamdulillaah. Namun tidak semuanya berakhir begitu saja, masih ada revisi dan beberapa administrasi untuk pengurusan wisuda, ijasah, dan sebagainya. Di sela-sela itu, saya masih sering mengalami keluhan nyeri di perut. Kali ini ini nyerinya lebih terfokus ke bagian kanan bawah, dan terkadang terasa sampai pinggang bagian belakang, namun sering kali saya abaikan karena memang masih banyak yang harus diselesaikan.

Ketika semua sudah selesai, saya kembali pulang dan menghubungi sepupu saya kembali, dan dia juga bilang untuk melakukan tes darah lagi. Sebelum tes darah, saya sempat berkonsultasi dengan dokter umum di laboratorium tersebut. Kesimpulan yang saya dapat, dokter tersebut tidak mendiagnosa apendisitis, tapi juga tidak dapat memastikan apa yang terjadi. Saya pun sempat menanyakan untuk mengambil tes apendikogram. Rontgen apendiks dengan menggunakan bahan kontras, tes ini untuk melihat jika terjadi peradangan, maka usus buntu tidak akan dapat terlihat ketika dirontgen. Sebelumnya, ketika pertama kali saya ke laboratorium ini memang sempat disarankan untuk mengambil tes ini, tapi karena harus meminum zat kontras namun saat itu saya sedang berpuasa, akhirnya saya lebih pilih USG.

Akhirnya saya lakukan saja pemeriksaan darah sesuai saran. Sambil menunggu hasil, saya sempatkan untuk berkonsultasi ke dokter penyakit dalam di rumah sakit Dr. Sardjito untuk mencari fifth opinion (saking berbeda-bedanya semua pendapat dokter yang saya temui). Dan apa yang terjadi? Dokter tersebut menduga ada masalah pada ginjal saya, dan untuk memastikannya lagi saya diminta untuk melakukan USG lower abdomen, duh.

Semakin bingung, hampir semua punya opini yang berbeda, ah..

Tak lama kemudian email hasil tes laboratorium masuk, dan lagi-lagi semua dalam keadaan normal..
Sepertinya saya harus mengambil keputusan, kalau begini terus rasanya saya akan menghabiskan banyak dana hanya untuk mondar mandir periksa laboratorium dan kunjungan dokter. Setelah hasil lab saya sampaikan ke Mas Andi, beliau juga menyarankan untuk USG lower abdomen saja untuk memastikannya. Tapi entah kenapa saya agak ragu, dan saya tanya lagi, “bagaimana kalau apendikogram saja mas?” Lalu beliau menjawab, “boleh, tapi kurang valid, tapi bisa dicoba. Soalnya terkadang apendiks itu mencengkram, jadi bisa ga masuk zat kontrasnya.”

Jadi apendikogram adalah teknik pemeriksaan radiologi untuk memvisualisasikan apendiks dengan menggunakan kontras media positif barium sulfat dan merupakan salah satu pemeriksaan radiologi yang membantu dalam menegakkan diagnosis adanya apendisitis. Singkatnya, ada zat kontras yang harus saya minum agar usus terutama usus buntu dapat tervisualisasi ketika dilakukan rontgen, karena usus tidak dapat terlihat tanpa zat kontras.

Saya kembali (lagi) ke laboratorium untuk mendaftarkan apendikogram, setelah transaksi, saya diberikan 250 gram bubuk barium sulfat yang harus saya minum delapan jam sebelum dirontgen. Karena saya ingin tes besok pagi, barium yang harus dilarutkan bersama air hangat ini akan saya minum malam ini sekitar pukul sepuluh atau sebelas, sehingga delapan jam kemudian diharapkan bariumnya sudah sampai ke usus.

Larutan ini tidak ada rasanya sama sekali, jadi ya tidak masalah lah, walaupun sebenarnya boleh dicampur dengan sirup supaya bisa lebih nyaman di lidah. Oke, selamat malam.