Friday, October 21, 2016

Teropong (APDX - 02)

Friday, October 21, 2016


Delapan jam kemudian, pagi harinya saya kembali lagi ke laboratorium. Dalam perjalanan, saya merasa mulas sekali rasanya ingin BAB, tapi harus ditahan, karena jika saya BAB barium sulfatnya akan ikut keluar bersama kotoran sehingga saya harus meminum barium sulfat lagi, duh.

Setelah sampai, saya masuk ke ruangan untuk dirontgen, pada percobaan pertama saya lihat dari monitor, bagian usus besar dan sebagian usus halus saya yang terlihat karena adanya zat kontras, selebihnya tidak terlihat. Namun tiba-tiba petugas datang lagi, dan saya ditanyakan pukul berapa saya minum bariumnya, “jam 22.30,” begitu jawaban saya. 

Salah satu petugas menjelaskan, “karena memang gerakan peristaltik (gerak usus) tiap orang berbeda-beda, maka waktu mencerna makanan juga berbeda-beda. Jadi bisa kita lihat di sini, barium sulfatnya sudah terlanjur turun, jadi tidak bisa dinilai apakah terjadi peradangan usus buntu atau tidak, karena barium sulfat sudah tidak berada di area itu.” Memang saya juga melihat bahwa barium sudah terlajur ‘turun’ ke bagian lain dari usus besar. “Kalau masnya mau, bisa kita ulang lagi, mas minum lagi bariumnya, nanti setelah sekitar lima jam kembali lagi untuk dirontgen.” Lagi? Minum barium lagi? Ah makin lama saja, tapi ya apa boleh buat. Saya kembali diberikan barium sulfat untuk diminum dan siang nanti saya kembali ke laboratorium ini (lagi), sepertinya laboratorium ini terlanjur sayang sama saya.

Lima jam kemudian, rontgen kembali dilakukan, dan benar saja, zat kontras sudah turun dalam waktu lima jam, cepat sekali usus ini. Ada empat posisi yang dirontgen, depan dua kali, samping, serta belakang. Tak lama hasil sudah keluar, dan ada kalimat non filling appendix, benar berarti ini fix radang usus buntu. Jadi jika zat kontras tidak mengisi usus buntu, kemungkinan besar ada sesuatu yang menyumbatnya, karena ada penyumbatan inilah, maka terjadi peradangan yang disebabkan oleh infeksi. Dalam keadaan normal, usus buntu tidak tersumbat.

Malam hari setelah membuat janji, saya bertemu dengan kakak sepupu untuk konsultasi lebih lanjut, setelah observasi langsung serta melihat hasil rontgen, disimpulkan bahwa memang saya menderita apendisitis, namun yang sifatnya kronis, alias kambuh-kambuhan, karena tidak terjadi gejala seperti demam dan mual yang umumnya dialami penderita apendisitis akut. 

Malam itu juga saya diberikan opsi untuk memilih kapan ingin operasi serta metode operasinya. Metode operasi ada dua, operasi bedah biasa dengan sayatan terbuka atau dengan metode laparoskopi. Awalnya saya memilih bedah biasa dengan pertimbangan bisa dijadwalkan lebih cepat karena tim untuk laparoskopi sedang bertugas di luar kota. Pada bedah biasa, sisi perut sebelah kanan bawah saya akan disayat beberapa sentimeter untuk kemudian dilakukan pemotongan usus buntu secara terbuka, bius/anestesi yang diberikan juga anestesi spinal, hanya pinggang sampai kaki saja yang dianestesi. Namun, masa penyembuhan dari metode ini lebih lama, sampai kurang lebih tiga bulan, selain itu pantang untuk banyak naik turun tangga, termasuk olahraga, duh mau jadi apa selama itu ga olah raga.

Pada metode laparoskopi, tidak dilakukan bedah terbuka, akan ada tiga sayatan kecil pada titik yang berbeda, masing-masing hanya sekitar satu sentimeter. Pada satu titik, akan dimasukkan alat yaitu laparoskop, yang digunakan untuk melihat rongga perut melalu kamera. Pada alat ini ada kamera serta lampu LED, dari sini lah dokter bedah dapat melihat isi perut. Lalu di dua titik lainnya dimasukkan alat yang dapat dioperasikan oleh dokter untuk melakukan tindakan operasi, seperti memotong organ dan lainnya. Ibaratnya, dua alat ini adalah tangan dokter di dalam perut kita. Metode ini dianggap lebih baik karena tim medis tidak perlu melakukan kontak langsung dengan organ dalam, juga masa pemulihan relatif lebih singkat, sekitar satu bulan, karena luka sayatan yang lebih kecil. Tetapi, metode ini memerlukan anestesi umum/bius total.

Dengan beberapa pertimbangan, saya akhirnya lebih memilih laparoskopi demi masa pemulihan yang lebih singkat. Jadwal pun ditentukan, pekan depan saya akan dioperasi.
----

Hari itu pun tiba, saya sampai di rumah sakit dengan keadaan yang segar bugar bersama orang tua, rasanya hampir tidak bisa dipercaya saya harus terbaring lemas tanpa daya dalam beberapa jam lagi. Beberapa saat sebelum operasi, kerabat saudara datang untuk memberikan dukungan, ah terharu.

Operasi yang dijadwalkan pukul 20.30 pun mundur sekitar satu jam karena masih ada operasi lain yang belum selesai. Ketika tiba waktunya, saya diantar petugas masuk ruang operasi yang terasa sekali nuansa sterilnya, semua serba bersih. Setelah  berbaring, jari telunjuk kiri saya dijepitkan suatu alat yang ternyata digunakan untuk memantau denyut jantung, dan lengan kanan dipasang tensimeter otomatis untuk memantau tekanan darah. Bismillaah, semakin deg degan.

Tak lama kalau tidak salah dua orang datang, dugaan saya salah satunya adalah dokter anestesi. Ternyata benar, beliau bilang, “kalau ngantuk tidur saja mas,” “iya dok,” sambil dia injeksikan zat anestesi melalu saluran infus. Kata terakhir yang saya dengar dari dokter adalah, “bismillahirrahmanirrahim.”

Saat Operasi (Dokumentasi Pribadi)
Tidak tahu apa yang terjadi selama itu, tapi sebelumnya saya menitipkan flash disk kepada adik saya yang diperbolehkan ikut masuk memantau di ruang operasi (hitung-hitung sebagai pengalaman menuju jadi dokter) untuk meminta file rekaman laparoskopi kalau bisa.

Beberapa jam kemudian, saya merasa setengah sadar, mungkin baru 20%-30%, tapi entah kenapa saya terus menerus membanting kepala saya ke kiri dan kanan seolah olah ingin berontak (ini setelah diberitahu).

Sekitar pukul 2.30 pagi saya terbangun dengan keadaan lemas dan nyeri di bagian perut, sakit sekali rasanya, ingin bangun saja sulit. Akhirnya saya tidur kembali.

Pagi harinya, dokter datang memeriksa kondisi saya, dan bilang, saya belum boleh makan sebelum buang angin. Karena anestesi yang diberikan juga membius usus, sehingga harus ditunggu sampai usus kembali aktif baru saya boleh makan dan minum, padahal rasanya haus sekali ketika itu. Kalau saja infusnya bisa diganti kuah Soto Seger Mbok Giyem kan enak, hahaha.

Jam sembilan pagi akhirnya saya mulai merasakan gejolak diperut, dan akhirnya, yes udah buang gas, duh malu, tapi ini memang pertanda bagus. Setelah diperiksa dokter, akhirnya saya boleh makan dan minum, tetapi makanan yang lembut saja dulu, nasi belum boleh.

Efek anestesi juga masih terasa, terkadang kaki masih kesemutan, dan walaupun akhirnya bisa bangun tidur, ketika berdiri pun masih terasa goyah, mungkin juga karena efek operasi yang menyayat sedikit otot perut.

Selama tiga hari saya menjalani masa pemulihan di rumah sakit sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Well, semoga lekas sehat, dan tidak ada lagi penyakit-penyakit lain yang datang, aamiin.